Film

Ada Empat hal Menarik di Balik Film Horor ‘Pengabdi Setan’

Netsulsel.com – Film ‘Pengabdi Setan’ ditonton sebanyak satu juta orang sejak dirilis 28 September lalu. Ini merupakan prestasi yang luar biasa dalam perfilman Tanah Air. Film horor Indonesia kembali menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Namun, tidak mengherankan jika film yang disutradarai Joko Anwar itu disukai penonton. Alur cerita yang naik turun dan menegangkan serta kualitas sinematografi yang menarik menjadikan penonton benar-benar takut saat menyaksikan di bioskop.

Tetapi, tahukah kalian bahwa ada beberapa fakta yang unik dan mewarnai sepanjang proses film besutan Rapi Films itu. Simak fakta-fakta tersebut:

1. Lokasi rumah tua yang angker

Kru film akhirnya mendapatkan tempat yang tepat untuk memulai proses syuting usai melakukan pencarian selama tiga bulan. Mereka menemukan sebuah rumah tua dan angker di daerah Pengalengan, Bandung, Jawa Barat.

Rumah tersebut merupakan bangunan tua yang masih berdiri kokoh sejak zaman Belanda. Namun, sudah tidak dihuni selama puluhan tahun.

Joko mengaku memilih rumah itu karena sangat pas dengan lokasi dengan rumah yang ada dalam bayangannya. Ia dan tim melakukan renovasi sebelum proses syuting dilakukan selama 18 hari.

“Kami langsung tahu bahwa harus syuting ‘Pengabdi Setan’ di sini. Bukan saja ruangan yang persis seperti yang saya bayangkan, tetapi juga atmosfer lingkungan di sekitar rumah itu. Entah bagaimana, sama seperti yang saya bayangkan,” kata Joko dalam salah satu video di balik layar dan diunggah Rapi Films.

2. Kru mengalami peristiwa menyeramkan

Sudah menjadi konsekuensi jika pemain dan kru diganggu saat tengah syuting film horor. Begitu pula yang dialami oleh kru film ‘Pengabdi Setan’. Sutradara Joko Anwar bahkan mengatakan salah satu kru sempat merekam suara aneh ketika sedang syuting di dalam rumah, tepatnya di area kamar mandi.

Ketika diperdengarkan di Vlog Raditya Dika, ia pun terkejut dan langsung bangkit dari tempat duduknya.

“Jadi, sound recordist gw secara tidak sengaja merekam (suara). Kan kita memang syuting dengan menggunakan rumah yang sudah ada. Tetapi, saat kami mau menutup pintu tidak bisa, ternyata pintunya itu memuai. Saat coba digergaji selama 45 menit malah enggak bisa-bisa. Dia iseng, lalu coba rekam-rekam dan diunggah ke Insta storynya. Nah, teman-temannya yang nyadar langsung WA dan nanya itu suara apa,” tutur Joko bercerita kepada Raditya.

Dalam rekaman suara itu, terdengar anak kecil seperti tengah berbicara dalam bahasa yang meracau. Namun, Joko
menegaskan jika rekaman suara itu bukan sekedar gimmick. Dia sudah mewanti-wanti agar saat promosi, bukan sisi mistisnya yang dihighlight. Saksikan pengakuan Joko dalam video berikut:

3. Muncul tur ke rumah lokasi syuting

Sadar bahwa ada minat yang cukup besar terhadap rumah lokasi syuting itu, akhirnya dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomis. Sebuah agen wisata perjalanan bernama Sociotraveler Indonesia membuka perjalanan dengan tema ‘Tur Misteri’ ke rumah yang berlokasi di Pengalengan tersebut.

Septyan Bayu selaku Founder dari Sociotraveler mengaku mendapatkan ide tur ini setelah menonton film ‘Pengabdi Setan’ di bioskop. Bagi Bayu, rumah dalam film tersebut memiliki nuansa yang amat horor dan ia berusaha mencari tahu lokasi rumah tersebut.

Sociotraveler berkolaborasi dengan Ghost Photography Community (GPC) yang sudah terlebih dahulu berkunjung ke rumah di daerah perkebunan teh itu untuk hunting foto makhluk tak kasat mata. Biaya yang dikenakan adalah Rp 475 ribu per orang, termasuk transportasi Bandung-Pengalengan, konsumsi, dan dokumentasi peserta.

‘Tur Misteri’ ini akan dimulai pada Sabtu, 14 Oktober dan dimulai dari pukul 12:00 WIB hingga jam dua dini hari.

4. Tara Basro tidak suka film horor

Meski berperan sebagai Rini, anak sulung dalam Pengabdi Setan, Tara Basro ternyata tidak berminat menonton film horor.

“Not a big fan of horror film karena gue penakut,” ungkap Tara dalam video unggahan Rapi Films di YouTube.

Bahkan, ketika gala premier digelar beberapa waktu lalu, ia ingin kabur dan tidak bersedia menyaksikan film tersebut. Tara mengaku tidak menyangka jika hasil proses editing akan terlihat begitu menyeramkan.

“Pas syuting itu sudah tahu alurnya seperti apa tapi ketika nontoh tuh sama sekali enggak menyangka hasilnya seperti ini,” katanya.

Proses editing dan sound menjadi faktor penunjang nuansa mencekam dalam film yang berhasil menggaet jutaan penonton hanya dalam waktu satu pekan.

Sinopsis

Kisah dibuka dengan masalah finansial keluarga Rini (Tara Basro) yang kehabisan uang untuk biaya pengobatan sakit sang ibu (Ayu Laksmi). Penyakit yang begitu parah membuat ibu Rini tak mampu menggerakkan tubuhnya dan hanya berbaring di tempat tidur. Untuk memanggil dan meminta bantuan, ibu Rini harus membunyikan lonceng.Berbagai upaya dilakukan keluarga Rini untuk mendapatkan uang tambahan, termasuk meminta royalti milik sang ibu yang sempat berkarier di dunia tarik suara, sebelum akhirnya jatuh sakit selama tiga setengah tahun tanpa diketahui penyebabnya.

Anak kedua keluarga itu, Tony (Endy Arfian), pun rela menjual sepeda motor dan barang pribadi lainnya demi menolong keluarganya. Sang ayah (Bront Palarae) pun harus berhemat dan sesekali bekerja ke luar kota karena harus tetap membiayai keempat anaknya.Upaya keluarga untuk membuat sang ibu sembuh dari penyakitnya gagal setelah Rini menemukan sang ibu terjatuh di lantai kamarnya dan menghembuskan nafas terakhir.

Kematian sang ibu ternyata jadi awal dari teror di rumah keluarga Rini. Ia dan ketiga adiknya didatangi oleh sosok yang menyerupai sang mendiang ibu. Situasi ini diperparah dengan kondisi ayah yang harus meninggalkan mereka untuk bekerja di luar kota. Rini, ketiga adik, serta neneknya yang berada di rumah secara interns menghadapi penampakan hantu mengerikan: ibunya sendiri. Teror demi teror berdatangan silih berganti. Untuk mengungkap misteri rentetan kejadian mencekam itu, Rini bahkan harus meminta bantuan kepada kiai di kampungnya, dan paranormal sekaligus kawan neneknya yang tinggal di kota.

Pemain

  • Tara Basro sebagai Rini
  • Dimas Aditya sebagai Hendra
  • Bront Palare sebagai Bapak
  • Endy Arfian sebagai Tony
  • Ayu Laksmi sebagai Ibu
  • Elly D. Luthan sebagai Nenek
  • Nasar Annuz sebagai Bondi
  • Arswendi Nasution sebagai Ustadz
  • Egy Fedlysebagai Budiman
  • M. Adhiyat sebagai Ian
  • Fachry Albar  sebagai Batara
  • Asmara Abigail sebagai Darminah

Tara Basro sebagai Rini

Dimas Aditya sebagai Hendra

Bront Palare sebagai Bapak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikan Komentar Anda
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top