Kriminal

Akibat Film Porno, Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Aceh Meningkat

ilustrasi

Netsulsel.com – Kekerasan seksual terhadap anak akhir-akhir ini marak terjadi di Kota Serambi Mekah, Aceh. Kekerasan tersebut disebabkan oleh tontonan film porno yang saat ini bisa diakses oleh siapapun.

Contohnya saja seperti kasus di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) yang menyebabkan puluhan anak disodomi karena pelaku sebelumnya menonton film porno. Komisioner Komisi Pengawas dan Perlindungan Anak (KPPA) Aceh, Firdaus Nyak Udin, menyampaikan biasanya pelaku mengajak korbannya untuk menonton film porno bersama-sama sebelum melancarkan aksinya.

“Bisa menjadi sebab awal atau pemicu (film porno). Maksudnya kalau sebab awal ketika orang mengakses pornografi itu kemudian dia ingin melakukan seperti apa yang dilihatnya,” kata Firdaus saat ditemui, dilansir Kumparan.com Rabu (7/2).

“Akan tetapi kekerasan itu bisa saja tidak terjadi apabila yang melihat film itu memang bukan orang jahat,” lanjut dia.

Berdasarkan beberapa penelitian, Firdaus menambahkan pornografi bisa langsung merusak otak. Sensasi yang dirasakan ketika menonton pornografi bisa membawa seseorang untuk kemudian ingin melakukan seperti yang ia saksikan.

“Efek pornografi ini langsung merusak struktural otak. Memang belum ada penelitian secara jelas akan tetapi peristiwa ini dari beberapa hasil penelitian yang saya baca dampaknya sangat berbahaya,” ucap Firdaus.

Sementara itu, pelaku kekerasan seksual yang terjadi di Aceh, menurut hasil penelitian sekitar 40 sampai 60 persen adalah korban dari kekerasan seksual. Berdasarkan data kekerasan seksual terhadap anak di Provinsi Aceh sejak 2015-2017 yang berhasil dihimpun oleh KPPA Aceh berjumlah sebanyak 377 kasus (2015).

Pada 2016 meningkat hingga 1.270 kasus dan di tahun 2017 menurun sebanyak 697 kasus.

“Di antara bentuk-bentuk kekerasan tersebut paling banyak adalah kasus pelecehan seksual, kekerasan psikis, sodomi, penelantaran, dan pemerkosaan,” pungkas Firdaus.

Di samping itu, Ketua Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh Inayatillah, menilai masyarakat Aceh perlu mendapatkan edukasi tentang teknologi informasi. Ia melihat satu sisi perkembangan terkonologi informasi memberikan dampak positif di mana warga dapat mengakses informasi secara terbuka.

Jika dulunya tertututp sekarang bisa diketahui. Kendati demikan melihat fenomena yang terjadi saat ini kekerasan itu bahkan muncul akibat informasi itu sendiri.

“Beranjak dari adanya situs-situs pornografi, inilah yang mendorong pelaku itu melakukan kekerasan seksual. Ketika timbul rasa keinginan untuk melakukan hubungan seksual itu,” paparnya.

Inayatillah mencontohkan seperti laki-laki atau anak muda yang belum menikah, setelah menonton film porno kemana mereka salurkan hasratnya itu. Sehingga Inayatillah menerangkan terjadilah pelecehan-pelecehan seksual itu sendiri.

“Akhirnya mereka mencari korban yang rentan atau tidak bisa berkutik seperti contoh anak-anak. Ketika mereka juga diperlihatkan film porno tersebut akhirnya mereka menuruti seperti kemauan si pelaku karena sudah terpengaruh,” tutur Inayatillah. (**)

Berikan Komentar Anda
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top