Ekobis

Akibat Produksi Menurun, RI Impor Kakao 200 Ribu Ton di 2017

Netsulsel.com – Industri kakao tengah menghadapi banyak tantangan. Selain harganya yang terus menurun, industri kakao juga terancam oleh serangan hama, penuaan tanaman cokelat yang membutuhkan peremajaan, rendahnya akses petani skala kecil untuk pinjaman modal, serta pengetahuan petani terkait pemasaran produk.

Sepanjang tahun lalu, harga komoditas kakao turun cukup tajam hingga 50% (year on year). Saat ini, harga kakao di pasaran hanya USD 1.900/ton. Padahal beberapa tahun lalu bisa mencapai USD 3.800/ton.

“Harga sekarang sekitar USD 2.000 bahkan USD 1.900/ton, padahal dulu pernah sampai USD 3.500-3.800/ton. Karena memang produksi dunia, tapi di Pantai Gading melesat,” kata Ketua Dewan Kakao Indonesia, Soetanto Abdoellah, di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat 9 Februari 2018.

Di Indonesia, industri kakao juga memprihatinkan. Pada tahun lalu, untuk pertama kalinya Indonesia impor biji kakao sebanyak 200 ribu ton. Padahal di tahun-tahun sebelumnya hanya mengimpor rata-rata 60 ribu ton biji kakao.

“2017 impor biji 200 ribu ton, padahal sebelumnya tidak pernah. Kami paling tinggi dua tahun lalu itu 110 ribu ton. Rata-rata biasanya hanya 60 ribu ton sebelumnya. Jadi kemarin itu yang tertinggi,” jelasnya.

Selama tahun lalu, pihaknya mencatat produksi kakao hanya 400 ribu ton. Sementara pada tahun ini, Soetanto pesimistis untuk menargetkan angka yang lebih tinggi lantaran faktor cuaca yang tak mendukung.

“Karena cuaca, dan peralihan, dari kakao menjadi sawit, tanaman pangan padi jagung dan masalah iklim juga belum baik, masih basah, hujan banyak, banjir, itu yang masalah. Kalau banyak hujan kakao bunganya tidak jadi, kalau jadi buah pun buahnya busuk. Jadi saya optimis minimal sama kaya tahun kemarin,” ujarnya. (**)

Berikan Komentar Anda
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top