Budaya

“Bissu” Tradisi dan Adat Suku Bugis Kuno Yang Masih Eksis

Netsulsel.com, Makassar- Bissu merupakan salah satu komunitas adat bissu yang ada di Pangkep. Mereka masih memegang teguh tradisi dan peran sebagai pemelihara dan pelestari nilai-nilai budaya bugis klasik dan digambarkan sebagai manusia setengah dewa yang memiliki kekuatan Supranatural.

Mereka mendayagunakan hubungan dengan dunia roh dan bertindak sebagai media roh yang memasukinya. Setelah kerasukan barulah mereka dapat melaksanakan upacara ritual, seperti Maggiri sebuah ritual menikam diri sendiri.

Bissu dengan tradisi transvestite-nya( lelaki yang berperan sebagai perempuan) juga dikatakan sebagai pendeta agama Bugis kuno pra Islam. Mereka memiliki bahasa sendiri untuk berkomunikasi dengan para dewata dan para sesamanya.

Keberadaan Bissu sebagai benang merah kesinambungan adat dan tradisi Bugis kuno yang masih eksis ditanah Bugis hingga saat ini.

Selain untuk acara kerajaan, peran bissu juga sangat dominan pada acara mappalili atau turun sawah. Upacara dilakukan selama tujuh hari tujuh malam dengan membaca mantera yang disebut dengan Mattesu Arajang yakni semacam ritual memohon restu Dewata dilangit.

Menurut para bissu, hanya dengan restu Dewata para petani dan masyarakat dapat memperoleh hasil tanam yang baik. Oleh karena itu, acara mattedu Arajang dipandang sakral oleh masyarakat tradisional Bugis.

Untuk diketahui bahwa komunitas Bissu pangkep tergolong Bissu Dewatae yang amat dihormati oleh komunitas bissu lainnya di tanah bugis. Pada saat ini, Komunitas Bissu pangkep di pimpin oleh Puang Matoa SAIDI yang berkedudukan di ‘istana’ ArajangE Segeri Pangkep.

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, istilah Bissu merupakan istilah yang tidak asing di telinga mereka. Akan tetapi, apabila istilah Bissu itu di hadapkan pada warga berdarah Jawa, Kalimantan, Sumatra, dan daerah – daerah lain di luar Sulawesi Selatan, pastilah istilah tersebut merupakan sesuatu yang sangat asing bagi mereka.

Para peneliti antropolog ( persebaran budaya ) di makassar mengambil suatu kesepakatan bahwa di daerah Sulawesi Selatan terdapat lima macam gender.

Menurut penelitian anthropolog Australia, Sharyn Graham dalam research reportnya; Sex, Gender and Priests in South Sulawesi, Indonesia, IIASNewsletter#29 November 2002 27 , budaya Bugis mengenal empat jenis gender dan satu para-gender; laki-laki ( oroane ), perempuan ( makunrai ), perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki ( calalai ), laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan ( calabai ) dan para-gender bissu.

Jenis Bissu ini sering disalah artikan oleh sebagian besar masyarakat. Mereka dianggap identik sebagai calabai yaitu seorang laki – laki yang berpenampilan layaknya seorang perempuan walau peran dan kedudukan Bissu ini dalam kebudaan bugis sebenarnya tidak demikian.

Ada juga yang mempertautkan keunikan yang dimiliki oleh kaum Bissu ini dengan dengan kepercayaan lokal yang disebut Tolotang, Hal yang mana dibantah secara nyata oleh komunitas Amparita Sidrap yang menjadi representasi penganut Tolotang dalam suku Bugis.

Keunikan lain dari para Bissu itu sendiri bisa dilihat pada setiap musim tanam, kelompok Bissu selalu jadi penentu yang lebih baik, dibanding para pakar pertanian.

Ritual ini di namakan mappasili atau ritual mencuci benda bersejerah Bissu. Kemudian dilanjutkan dengan warga untuk turun ke sawah. Seolah menjadi kepercayaan warga, mereka tidak boleh turun ke sawah sebelum para bissu ini menggelar ritual mappasili. Juga pada saat menangani orang yang sakit. Bissu berperan menjadi sandro (pengobat). Kita juga mengenal, mereka itu adalah orang yang kebal dan tak mempan dengan tusukan keris atau benda tajam lainnya.

Ditambahkan peneliti lainnya, Nasruddin, Bissu atau calabai (Bugis : banci) dimaknai masyarakat Bugis-Makassar, sebagai sebuah kesenian. Ada dikenal upacara “Mappalili”. Peristiwa itu adalah upacara sebelum memulai menanam padi. Puncak dari upacara disebut disebut “Ma’giri” atau menusuk tubuh dengan keris.

Bagi orang asing yang ingin melihat dan ingin mengabadikan momen upacara adat itu, maka mereka di wajibkan untuk meminta izin terlebih dahulu. Namun meminta izin tersebut bukan ditujukan untuk orang atau atasan di tempat itu. Namun, meminta izin itu harus di pandu oleh ketua / pemimpin Bissu. Orang yang ingin meminta izin itu harus masuk ke dalam suatu ruangan dengan didampingi oleh Puang Matoa atau pimpinan Bissu.

Di dalam ruangan berukuran satu kali empat meter itu, hanya terlihat kain berwarna merah yang membalut dinding ruangan tersebut. Di dalam ruangan terlihat asap dari dupa – dupa yang terbakar.

Setelah Puang Matoa membaca mantra – mantra maka selesailah prosesi permintaan izin untuk mengabadikan Bissu sendiri memahami, pembawaan mereka yang terkesan ” sakti ” itu, adalah keajaiban yang diturunkan dewata. Makanya, mereka harus suci dan tidak kawin.

Mereka adalah kaum waria, dalam artian mereka itu harus menjaga kesuciannya. Dalam kitab La Galigo, Bissu dianggap sebagai manusia suci atau keturunan para Dewa. Dalam struktur kerajaan di Sulawesi Selatan, Bissu adalah penasihat spiritual dan rohani para raja. Begitu pentingnya figur Bissu bagi masyarakat ini, sehingga dalam upacara ritual yang mereka laksanakan Bissu dijadikan sebagai pemimpinnya.

Diantara bentuk upacara yang kini masih tersisa adalah Mapeca Sure dan Masongka Bala, yakni upacara memohon keselamatan bagi seluruh warga masyarakat dan para pemimpin kerajaan.

Ritual Massongka Bala adalah ritual yang sudah lama sekali. Sejak adanya manusia, sejak itu pula Massongka Bala diadakan dan yang memimpin acara Massongka Bala itu adalah golongan Bissu.

Dalam sejarahnya, Bissu menentukan waktu upacara yang dilihami wahyu dari Tuhan yang disebut istilah eppa sulapa ipasabbi pole yawa pole yase. Disini Bissu menjadi perantara antara manusia dengan Tuhan.

 

Tendry/int

Berikan Komentar Anda
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top