Sejarah

Menelusuri Sejarah Suku Sasak

Asal mula Suku Sasak

Sasak adalah sukubangsa yang mendiami pulau Lombok dan menggunakan bahasa Sasak. Sebagian besar suku Sasak beragama Islam, uniknya pada sebagian kecil masyarakat suku Sasak, terdapat praktik agama Islam yang agak berbeda dengan Islam pada umumnya yakni Islam Wetu Telu, namun hanya berjumlah sekitar 1% yang melakukan praktik ibadah seperti itu. Ada pula sedikit warga suku Sasak yang menganut kepercayaan pra-Islam yang disebut dengan nama “Sasak Boda”.

Kata Sasak berasal dari kata sak sak, artinya satu satu. Kata sak juga dipakai oleh sebagian suku Dayak di pulau Kalimantan untuk mengatakan satu. Orang Sasak terkenal pintar membuat kain dengan cara menenun, dahulu setiap perempuan akan dikatakan dewasa dan siap berumah tangga jika sudah pandai menenun. Menenun dalam bahasa orang Sasak adalah Sèsèk. Kata sèsèk berasal dari kata sesak,sesek atau saksak.

Sèsèk dilakukan dengan cara memasukkan benang satu persatu(sak sak), kemudian benang disesakkan atau dirapatkan hingga sesak dan padat untuk menjadi bentuk kain dengan cara memukul mukulkan alat tenun. Uniknya suara yang terdengar ketika memukul mukul alat tenun itupun terdengar seperti suara sak sak dan hanya dilakukan dua kali saja. Itulah asal kata sasak yang kemudian diambil sebagai nama suku dipulau Lombok. Orang suku Sasak yang mula mula mendiami pulau Lombok menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa sehari hari. Bahasa Sasak sangat dekat dengan bahasa suku Samawa, Bima dan bahkan Sulawesi, terutama Sulawesi Tenggara yang berbahasa Tolaki.

Suku ini menggunakan Bahasa Sasak, yang memiliki kedekatan dengan sistem aksara Jawa-Bali, sama-sama menggunakan aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka, secara hafalannya bahasa sasak memiliki kedekatan dengan bahasa Bali, Bahasa Sasak yang digunakan dilombok ini secara lingkup kosakatanya dapat digolongkan dalam beberapa wialayah misalnya; Mriak-Mriku (Lombok Selatan), Meno-Mene dan Ngeno-Ngene (Lombok Tengah) Ngeto-Ngete (Lombok Tenggara), dan Kuto-Kute (Lombok Utara). Asal mula kata sasak kemungkinan berasal dari kata sak-sak yang artinya sampan. Dalam kitab Nagarakertagama , kata sasak disebut menjadi satu dengan Pulau Lombok, yaitu Lombok Sasak Mirah Adhi, dalam tradisi lisan setempat kata sasak dipercayai berasal dari kata “sa-saq” yang artinya yang satu.

Kemudian Lombok berasal dari kata Lomboq yang artinya lurus. Maka jika digabung kata Sa’Saq Lomboq artinya sesuatu yang lurus. Selain itu para ahli membuat analisis-analisis tertentu tentang nama Lombok dan Sasak. Para ahli menganalisis dulunya Pulau Lombok disebut pulau Sasak, karena daratanya ditumbuhi hutan belantara yang penuh “sesak” (sesksek), yang kemudian berubah menjadi “sasak”. Adapun pendapat bahwa masyarakat Suku Sasak berasal dari campuran penduduk asli Lombok dengan pendatang dari Jawa Tengah yang dikenal dengan julukan Mataram. Konon pada masa pemerintahan Raja Raka Pikatan, banyak pendatang dari Jawa Tengah ke Pulau Lombok kemudian banyak juga diantaranya yang melakukan pernikahan dengan warga setempat sehingga menjadi masyarakat Suku Sasak. Akan tetapi, menurut sejarah abad ke-16 Pulau Lombok berada dalam Kekuasaan Majapahit. Hal ini terbukti dengan diutusnya Maha Patih Gajah Mada untuk datang ke Pulau Lombok. Suku Sasak juga mengenal tulisan yang tercatum dalam naskah-naskah lontar (takepan). Naskah ini ditulis dengan huruf yang disebut dengan Jejawan yaitu sejenis huruf Sanskerta dan dalam bahasa Sasaknya atau bahasa Jawa madya. Bentuk huruf ini berbeda dengan huruf Jawa dan yang dikembangkan oleh masyarakat Sasa ini hanya 18huruf saja. Isi dari naskah ini menyangkut tentang agama, sejarah atau babad, pewayangan, astronomi, dongeng, mantra, doa, norma-norma adat. Kebanyakan berbentuk puisi yang ditembangkan.

Adat

Adat istiadat suku sasak dapat disaksikan pada saat resepsi perkawinan, di mana perempuan apabila mereka mau dinikahkan oleh seorang lelaki maka yang perempuan harus dilarikan dulu kerumah keluarganya dari pihak laki laki, ini yang dikenal dengan sebutan merarik atau pelarian.

Caranya cukup sederhana, gadis pujaan itu tidak perlu memberitahukan kepada kedua orangtuanya. Bila ingin menikah, gadis itu dibawa. Namun jangan lupa aturan, mencuri gadis dan melarikannya biasanya dilakukan dengan membawa beberapa orang kerabat atau teman. Selain sebagai saksi kerabat yang dibawa untuk mencuri gadis itu sekalian sebagai pengiring dalam prosesi itu. Dan gadis itu tidak boleh dibawa langsung ke rumah lelaki, harus dititipkan ke kerabat laki-laki. Tentu menikahi gadis dengan meminta izin kepada orang tuanya (redaq) lebih terhormat daripada mencuri gadis tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, namun proses seperti ini sudah sangat jarang ditemukan karena kebiasaan orang sasak lebih dominan mencurinya supaya tidak terhambat oleh hal-hal yang tidak diinginkan seperti tidak disetujui orang tua gadis atau keterbatasan kemampuan dalam hal materi karena proses “redaq” biasanya menghabiskan biaya yang lebih besar daripada melarikan gadis (merarik) tanpa izin.

Dalam proses pencurian gadis, setelah sehari menginap pihak kerabat laki-laki mengirim utusan ke pihak keluarga perempuan sebagai pemberitahuan bahwa anak gadisnya dicuri dan kini berada di satu tempat tetapi tempat menyembunyikan gadis itu dirahasiakan, tidak boleh diketahui keluarga perempuan. ‘Nyelabar’, istilah bahasa setempat untuk pemberitahuan itu, dan itu dilakukan oleh kerabat pihak lelaki tetapi orangtua pihak lelaki tidak diperbolehkan ikut.

Rombongan ‘nyelabar’ terdiri lebih dari 5 orang dan wajib mengenakan berpakaian adat. Rombongan tidak boleh langsung datang kekeluarga perempuan. Rombongan terlebih dahulu meminta izin pada Kliang atau tetua adat setempat, sekadar rasa penghormatan kepada kliang, datang pun ada aturan rombongan tidak diperkenankan masuk ke rumah pihak gadis. Mereka duduk bersila dihalaman depan, satu utusan dari rombongan itu yang nantinya sebagai juru bicara menyampaikan pemberitahuan.

Sistem Religi dan Upacara keagamaan Suku Sasak

Dalam sistem religinya masayarakat Suku Sasak sebagaian besar banyak mempercayai adanya dewa-dewa, seperti halnya kepercayaan Sasak “Waktu Telu” sebagai pencampuran dari ajaran Islam dan sisa kepercayaan lamanya yaitu animisme, dinamisme, dan kepercayaan Hindu. Selain itu karena penganut dari kepercayaan ini tidak menjalankan peribadatan seperti agama Islam pada umumnya (ini dikenal dengan sebutan “Waktu Lima” karena menjalankan kewajiban salat lima waktu). Yang wajib menjalankan ibadah ini hanyalah orang-orang tertentu saja seperti; para kiai atau pemangku adat (sebutan untuk pewaris adat istiadat nenek moyang).

Kegiatan apapun yang berhubungan dengan alur hidup (kematian, kelahiran, penyembelihan hewan, selamatan dsb) terlebih dahulu diketahui oleh kiai atau pemangku adat dan mereka harus mendapat bagian dari upacara-upacara ini, sebagai rasa terimakasih dari tuan rumah. Selain kepercayaan “Waktu Telu” dan “Waktu Lima” , di masyarakat Sasak juga terdapat kepercayaan Sasak Boda, yaitu mereka yang mempercayai para dewa dengan sebutan Betara, Betara ini menguasai pulau Lombok yang bersemayam di Lingsar, Gunung Rinjani. Orang-orang Hindu, Waktu Telu dan orang-orang Boda di desa Bentek sama-sama merayakan suatu upacara pujawali dan perang topat di Lingsar sekitar bulan Nopember setiap tahunnya untuk menghormati Batara Gunung Rinjani dan Batara Gede Lingar yang memberi kesempatan untuk penduduk pulau Lombok. Suku Sasak sekarang telah menganut agama Islam setelah adanya islamisasi yang terjadi di pulau Lombok, dan Suku Sasak telah lama menganut Islam dengan adanya tahun Hijriah sebagai acuan dalam berbagai upacara adat istiadatnya.

Kepercayaan yang terdapat pada masyarakat Sasak selanjutnya yaitu kepercayaan pada kekuatan-kekuatan gaib, seperti tusela atau leak, yaitu orang yang karena mantra-mantranya dapat berubah menjadi makhluk yang berbentuk berbeda dengan bentuk semula, misalnya seekor kambing, babi, maupun ayam. Adapula kepercayaan terhadap makhluk-makhluk, di Suku Sasak makhluk halus disebut bake’ dan jim. Baik bake’ maupun jim keduanya bertempat tinggal di bagian alam yang dianggap angker, tempat tersebut berupa gunung, pohon kayu besar bahkan di kampung.

Luas wilayah

Pulau Lombok merupakan kampung halaman Suku Sasak, terletak di sebelah timur Pulau Bali, dipisahkan oleh Selat Lombok. Di sebelah barat Pulau ini berbatasan dengan Selat Atas yang memisahkan pulau ini dengan Pulau Sumbawa. Luas wilayah pulau yang termasuk ke dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat ini kurang lebih 5435 km2.

Pulau Lombok secara administratif terdiri dari lima kabupaten dan kota yakni Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Tengah, dan Kota Mataram. Kurang lebih ada sekitar 3 juta jiwa yang mendiami pulau lombok, 80% di antaranya adalah Suku Sasak.

Upacara Keagamaan Suku Sasak

Upacara keagamaan merupakan suatu tradisi yang dilakukan suatu suku ataupun kelompok masyarakat dalam upaya untuk memegang tradisi nenek moyang agar terjaga dengan baik. Disuku-suku sendiri umumnya tradisi ini menjadi suatu kegiatan dimana sebagai persembahan kepada sang Maha Kuasa dan nenek moyang atas apa yang diberikanNya. Pada Suku Sasak terdapat berbagai upacara/tradisi-tradisinya, diantaranya;

a) Upacara Metulak adalah mengebalikan atau tolak bala, upacara ini bertujuan untuk menolak hama, penyakit, bencana dan gangguan roh jahat. Upacara ini dilakukan oleh leluhur pra Islam, tetapi seiring dengan masuknya Islam, upacara ini tetap dilaksanakan dengan adanya unsur-unsur keislamannya didalamnya. Upacara ini berjalan dalam kisaran waktu 1 atau 6 tahun sekali, upacara ini dilakukan saat seseorang atau keluarga tertimpa sakit, saat pendirian dan penempatan rumah baru, pemotongan rambut bayi dsb. Upacara ini dilaksanakan selam dua hari dua malam, upacara ini dipimpin oleh seorang kepala desa (datu) dan dibantu oleh orang yang dituakan (penowaq), pembantu kepala desa (keliang), kyai, kelompok pembaca lontar (petabah), dukun (belian) dan pemangku. Upacara ini biasanya digelar orang yang mempunyai hajat, kecuali jika upacara dilakukan untuk menangulangi wabah cacar biasanya dilakukan dirumah adat desa. Proses adat ini terbagi menjadi tiga yaitu tahap persiapan seperti musyawarah, tahap pelaksanaan seperti upacara dilaksanakan setelah shalat Isya, dan terakhir penutup.

b) Sabuk Beleq arti dari Sabuk Beleq yaitu sabuk besar, panjangnya 25 meter, masyarakat Sasak khususnya dibagian Lenek Daya akan melaksanakan upacara ini pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriah. Tradisi pengeluaran Sabuk Beleq ini diawali dengan mengusung Sabuk Beleq mengelilingi kampong diiringi dengan gendang beleq. Ritual upacara ini kemudian dilanjutkan dengan menggelar praja mulud hingga diakhiri dengan memberi makan berbagai jenis makhluk. Upacara ini dilakukan untuk mempererat tali silaturahmi, persaudaraan, persatuan dan gotong royong antar masyarakat, serta rasa cinta terhadap sesame makhluk hidup.

c) Rebo Botong , Suku Sasak mempercayai bahwa hari Rebo Bontong merupakan hasil puncak dari terjadinya bencana dan atau penyakit (Bala) sehingga bagi mereka sesuatu yang tabu jika memulai pekerjaan tepat pada hari Rebo Bontong. Kata Rebo dan juga Botong kurang lebih artinya “putus” atau “pemutus”. Upacara Rebo Bontong dimaksudkan untuk dapat menghindari bencana atau penyakit. Upacara ini dilakukan setahun sekali yaitu pada hari Rabu di minggu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.

d) Marariq (Kawin lari) merarik’ bagi masyarakat sasak berarti mempertahankan harga diri dan menggambarkan sikap kejantanan seorang pria Sasak, karena ia telah berhasil mengambil (melarikan) seorang gadis pujaan hatinya. Dalam hal ini merarik dipahami sebagai proses dalam pernikahan.

e) Bebubus Batu yaitu kata bubus sejenis ramuan obat berbahan dasar beras yang dicampur berbagai jenis tanaman, dan kata batu yang merunjuk kepada batu tempat pelaksanaan upacara. Bebubus batu adalah upacara yang digelar untuk meminta berkah kepada sang Kuasa. Upacara ini dilaksanakan tiap tahun, dipimpin oleh Penghulu (Pemangku adat) dan Kiai (ahli agama). Masyarakat ramai-ramai mengenakan pakaian adat serta membawa dulang, sesajen dari hasil bumi.

Sistem Organisasi Kemasyarakatan Suku Sasak

Organisasi kemasyarakat pada suatu suku merupakan perkumpulan masyarakat suku yang dibentuk oleh para petinggi, organisasi kemasyarakat ini ialah suatu kekerabatan yang timbul dari suku tersebut. Kekerabatan ini berupa pelapisan sosial resmi, suku bangsa Sasak adalah keturunan darah yang berasal dari pancar laki-laki. Bentuk pelapisan, pada umumnya tingkatan kebangsawanan yang di suku Sasak disebut wangsa, dibagi dalam tiga bagian besar sebagai berikut:

1. Tingkat pertama yang paling tinggi, ialah tingkat perwangsa raden. Gelar panggilan bagi pria dari kelas ini adalah raden dan wanitanya dipanggil denda.
2. Tingkat kedua yang sering dinamakan triwangsa, memakai gelar lalu untuk pria dan baiq untuk wanitanya.
3. Tingkat ketiga adalah tingkat yang disebut jajar karang. Panggilannya adalah loq untuk pria dan le untuk wanitanya.

Golongan perwangsa ini terbagi lagi atas dua tingkatan, yaitu bangsawan tingi (perwangsa) sebagai penguasa dan bangsawan rendahan (triwangsa). Bangsawan penguasa (perwangsa) umumnya menggunakan gelar datu. Selain itu mereka juga disebut Raden untuk kaum laki-laki dan Denda untuk perempuan. Seorang Raden jika menjadi penguasa maka berhak memakai gelar datu. Perubahan gelar dan pengangkatan seorang bangsawan penguasa itu umumnya dilakukan melalui serangkaian upacara kerajaan. Bangsawan rendahan (triwangsa) biasanya menggunakan gelar lalu untuk para lelakinya dan baiq untuk kaum perempuan. Tingkatan terakhir disebut jajar karang atau masyarakat biasa.Panggilan untuk kaum laki-laki di masyarakat umum ini adalah loq dan untuk perempuan adalah le.

Golongan bangsawan baik perwangsa dan triwangsa disebut sebagai permenak. Para permenak ini biasanya menguasai sejumlah sumber daya dan juga tanah. Ketika Kerajaan Bali dinasti Karangasem berkuasa di Pulau Lombok, mereka yang disebut permenak kehilangan haknya dan hanya menduduki jabatan pembekel (pejabat pembantu kerajaan). Masyarakat Sasak sangat menghormati golongan permenak baik berdasarkan ikatan tradisi dan atau berdasarkan ikatan kerajaan. Di sejumlah desa, seperti wilayah Praya dan Sakra, terdapat hak tanahperdikan (wilayah pemberian kerajaan yang bebas dari kewajiban pajak). Setiap penduduk mempunyai kewajiban apati getih, yaitu kewajiban untuk membela wilayahnya dan ikut serta dalam peperangan. Kepada mereka yang berjasa, Kerajaan akan memberikan beberapa imbalan, salah satunya adalah dijadikan wilayah perdikan.

Landasan sistem sosial masyarakat dalam kehidupan suku Sasak umumnya mengikuti garis keturunan dari pihak laki-laki (patrilineal). Akan tetapi, dalam beberapa kasus hubungan masyarakatnnya terkesan bilateral atau parental (garis keturunan diperhitungkan dari kedua belah pihak; ayah dan ibu). Pola kekerabatan yang dalam tradisi suku sasak disebut Wiring Kadang ini mengatur hak dan kewajiban anggota masyarakatnya. Unsur-unsur kekerabatan ini meliputi Kakek, Ayah, Paman (saudara laki-laki ayah), Sepupu (anak lelaki saudara lelaki ayah), dan anak-anak mereka. Wiring Kadang juga mengatur tanggung jawab mereka terhadap masalah-masalah keluarga; pernikahan, masalah warisan dan hak-kewajiban mereka. Harta warisan disebut pustaka dapat berbentuk tanah, rumah, dan juga benda-benda lainnya yang merupakan peninggalan leluhur. Orang-orang Bali memiliki pola kekerabatan yang hampir sama disebut purusa dengan harta waris yang disebut pusaka.

Sistem Pengetahuan Suku Sasak

Dalam sistem pengetahuannya masyarakat sasak telah mengetahui berbagai pengetahuan tentang beberapa aspek disekitarnya antara lain:
a. Tentang alam Fauna, suku sasak sendiri yaitu mereka melepas hewan peliharannya dihutan dan dapat menangkapnya kembali dengan memanggil hewan-hewan tersebut dengan kata sie-sie berkali-kali, maksudnya garam-garam dengan perkataan ini hewan-hewan yang tidak pernah memakan garam baik garam tanah maupun garam air akan segera berlarian kea rah pemiliknya yang memang pada saat itu membawa garam.

b. Tentang alam Flora, suku sasak membuat celup untuk tenunan mereka dari daun tarum, tanaman ini kemudian diperjualbelikan sebagai pewarna kain dan benang.

c. Waktu, pada suku sasak telah menggunakan tanggal dan bulan di tahun Hijriah sebagai penanggalan dalam melakukan upacara-upacara keagamannya .

Selain itu pada sistem pengetahuan terdapatnya ciri khas yang lain pada suku sasak yaitu makanan khasnya. Makanan khas suku sasak, antara lain :
1. Plecing kangkung. Terdiri dari kangkung yang direbus da disajikan dalam keadaan dingin dan segar plus sambal tomat. Sambal tomatnya dibuat dari racikan cabai rawit, garam, terasi dan tomat. Plecing kangkung biasanya disajikan dengan tambahan sayuran tauge, kacang panjang, kacang tanah goring ataupun urap. Kangkung yang digunakan ini sangat khas karena menggunakan metode tertentu sehingga menghasilkan kangkung dengan batang yang besar dan renyah. Yang khas dari plecing Lombok ini ialah terasi, yaitu terasi lengkare yang rasanya lebih gurih dan manis.

2. Ayam taliwang. Ayam taliwang biasanya menggunakan ayam kampong bukan ayam ras dan tidak boleh tua. Ayam taliwang biasanya dimasak dengan digoreng, dipanggang, atau dibakar. Biasanya ayam taliwang dimasak dengan menggunakan kayu bakar dengan kualitas kelas satu seperti kayu kopi atau kayu nangka. Masakan ini pula pertama kali dikenalkan oleh Sultan Sumbawa yang ditempatkan dilombok pada jaman Raja Karangasem.

3. Sate bulayak, bulayak merupakan sejenis lontong yang dibungkus dengan daun arena tau daun enau dengan bentuk memanjang seperti spiral. Satenya terbuat dari daging sapi yang dilumuri bumbu khas Sasak.

4. Nasi balap puyung, yaitu berisi suwiran daging ayam yang diolah bersama cabai, kacang kedelai, taburan udang kering, abon, serta belut goring. Kekuatan makanan ini terletak dari rasa pedas bumbunya yang sederhana yang dimana bumbu ayamnya terdiri dari cabai, bawang putih dan terasi.

5. Ares, yaitu sayuran Lombok yang bahas asalnya dari pelapah atau gedebok pisang yang masih muda. Masakan ini hanya disajikan saat acara begawe yakni acara makan-makan setelah berlangsungnya pernikahan.

6. Poteng jaje tujak dan iwel, merupakan makanan khas suku sasak saat lebaran, poteng jaje tujak ialah sejenis tape yang diolah menjadi makanan ringan dan disediakan seminggu setelah lebaran. Selain itu ada iwel yaitu kue yang berbahan dari ketan hitam ini biasanya disajikan saat upacara tradisi masyarakat.

7. Bebalung, sendiri terbuat dari iga sapi, yang diracik dengan bumbu cabe rawit, bawang putih, dll, bebalung merupakan menu wajib yang selalu dihidangkan pada setiap hajatan masyarakat Lombok selain Ares. Makna dari bebalung sendiri seperti kebanyakan masakan Lombok ialah “tenaga”. Karenanya masyarakat setempat mengartikan setelah makan bebalung akan semakin bertenaga dan menumbuhkan vitalitas.

Sistem Kesenian Suku Sasak

Diberbagai suku memiliki berbagai keseniannya dalam mewarisi adat istiadatnya salah satunya di Suku Sasak sendiri, berbagai macam kesenian, diantara kesenian tersebut masih ada hingga sekarang. Kesenian ini bisa berupa gerakan maupun alunan musik. Diantaranya kesenian dari suku sasak ini yaitu;

a) Perisean, adalah tradisi atau upacara memohon hujan atau need sedangkan fungsinya sekarang perisean adalah sebagai pertarungan yang dilakukan oleh dua orang lelaki Sasak yang bersenjatakan tongkat rotan dan memakai perisai sebagai pelindung yang terbuat dari kulit sapi atau kulit kerbau yang tebal. Pertarungan ini dipimpin oleh wasit yang berada di tengah lapangan disebut Pakembar Tengaq dan dua wasit yang berada di pinggir lapangan disebut Pakembar Sendi. Selama pertarungan berjalan masing-masing petarung atau perpadu saling menyerang dan menangkis sebetan lawan dengan menggunakan ende.

b) Gendang Beleq merupakan pertunjukan dengan alat perkusi gendang berukuran besar (beleq) sebagai ensemble utamanya. Komposisi musiknya dapat dimainkan dengan posisi duduk, berdiri, dan berjalan untuk mengarak iring-iringan. Ada dua jenis gendang beleq yang berfungsi sebagai pembawa dinamika yaitu gendang laki-laki atau gendang mama dan gendang nina atau gendang perempuan, sebagai pembawa melodi adalah gendang kodeq atau gendang kecil sedangkan alat ritmis adalah dua buah reog, 6-8 buah perembak kodeq, sebuah petuk, sebuah gong besar, sebuah gong penyentak , sebuah gong oncer, dan dua buah lelontek.

c) Peresean, adalah seni bela diri yang dulu digunakan oleh lingkungan kerajaan. Peresan awalnya adalah latihan pedang dan perisai bagi seorng prajurit. Pada pekembangannya latihan ini menjadi pertunjukkan rakyat untuk menguji ketangksan dan keberanian. Senjatanya sendiri adalah sebilah rotan yang dilapisi pecahan kaca dan untuk menangkis serangan, pepadu (pemain) yaitu sebuah perisai (ende) yang terbuat dari kayu berlapis kulit lembu atau sapi.

d) Tandang Mendet, merupakan tarian perang Suku Sasak, tarian ini telah ada sejak zaman Kerajaan Selaparang. Tarian ini mencerminkan keperkasaan dan perjuangan, ini dimainkan oleh belasan orang dengan berpakaina dan membawa alat-alat keprajuritan lenggapl; kelewang (pedang), tameng, tombak. Tarian diiringi dengan hentakan gendang beleq serta pembacaan syair-syair perjuangan.

Sistem Mata Pencaharian Hidup Suku Sasak

Secara tradisionalnya masyarakat Suku Sasak memiliki berbagai cara dalam Mata Pencaharian Hidupnnya, diantara, yakni :
a). Berburu: istilahnya nyeran, biasanya dilakukan di hutan-hutan, umunya hewan hasil buruan berupa; kijang, rusa, dan kambing liar. Beburu biasa dilakukan ketika musim kemarau setelah selesai menanam dan musim hujan selesai dengan pekerjaan di kebun. Hasil dari buruan ini dibagikan sama rata antar sesama.

b). Pertanian, dalam masyarakat sasak bertanam adalah cara agar dapat mempertahankan hidup, mereka menanam dari padi sawah, padi lading, ubi kayu, ubi jalar dan jagung dan cara pengolahan tanah dalam bercocok tanam ini masih menggunakan cara tradisional yaitu menggunakan lembu atau sapi sebagai pengolah tanah agar bisa ditanam.

c). Bertenak, masyarakat suku sasak juga sebagai sambilan bertenak seperti sapi, kambing, ayam dan kerbau.

d). Kerajinan tangan, pada masayarakat suku sasak memiliki beberapa kerajinan seperti menenun, anyaman, barang-barang dari rotan, ukiran-ukiran tenunan, barang dari tanah liat, logam dan sebagainnya.

e). Nelayan, umumnya mata pencaharian ini dilakukan oleh masyarakat Suku Sasak pesisir pantai.

 Sistem Teknologi dan Peralatan Suku Sasak

Pada teknologi dalam suku adalah sesuatu yang dihasilkan oleh masyarakat suku tersebut, dalam suku Sasak terdapat hasil-hasil yang dibuat oleh masyarakatnya, seperti :
a). Rumah Adat, atap dari rumah adat suku sasak ini terbuat dari jerami dan berdinding anyaman bamboo (bedek) lantainnya terbuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau dan abu jerami. Seluruh bahan bangunan ini didapatkan dari sekitar lingkungan dan untuk menyambung bagian-bagiannya ini mereka menggunakan paku yang terbuat dari bambu. Bagian atapnya berbentuk seperti pegunungan menukik kebawah.

b). Beruga (Balai berisi terbuka) sebagai tempat pertemuan, balai ini menyediakan panggung untuk kegiatan sehari-hari, dalam fungsi hubungan sosial masyarakatnya balai juga digunakan untuk urusan keagamaan misalnya upacara penghormatan jenazah sebelum dikuburkan.

c). Lumbung padi yaitu bangunan yang berfungsi untuk menaruh padi hasil panen.

d). Benda-bendanya terdiri dari Sabuk belo, gendang beleq, Ende (perisai), peralatan untuk bekerja seperti pacul, bajak, rejak (meratakan tanah), parang kodong, ancok. Terakhir peralatan untuk membangun rumah yaitu bedek (anyaman bambu untuk dinding) getah pohon kayu bantem dan bajur, kotoran kerbau atau kuda sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai.

Kemudian adapula peralatan yaitu perlengkapan atau alat yang dimiliki Suku Sasak dalam melakukan kegiatan sehari-hari maupun kegiatan upacara, tradisi, dan adat istiadat. Diantaranya yakni :

a). Pakaian-pakaian upacara, pengantin pria mengenakan ikat kepala yang disebut capuq, menggunakan pegon sebagai baju yang berwarna gelap, ikat pinggang menggunakan kain songket bermotif benang mas, leang atau dodot berfungsi untuk menyelipkan keris sebagai bawahan menggunakan wiron berbahan batik. Untuk penganti wanitanya sendiri pakaiannya disebut lambung yaitu baju hitam tanpa lengan dengan kerah berbentuk huruf “V” , ditambah selendang yang menjuntai dibahu kanan dan bawahannya memakai kain panjang sampai lutut sebagai tambahan aksesoris ditambahkan sepasang gelang dan gelang kaki, anting, rambut diikat rapi dan diselipkan bunga cempaka dan mawar, atau bisa disanggul dengan model punjung pliset.

b). Pakaian sehari-hari suku sasak umumnya motif batik yang berwarna kehitam-hitaman dan ditenun sendiri dan disebut selewo. Dan jika orang tua yang merokok senantiasa membawa lelompa untuk menyimpan rokok atau tembakau. Geong adalah ayunan bayi yang terbuat dari bambu

c). Alat-alat kerajinan, untuk menenun disebut sesek, alat membuat benang disebut gantian, tali yang memutar alat tersebut disebut kalider, untuk mengumpulkan benang atau memintal benang yang sudah jadi digunakan saka’ terbuat dari kayu dan bambu. alat menenun disebut sesek.

d). Alat-alat peperangan, yakni bambu yang diruncingkan dan disebut terenggalah, jika terbuat dari besi disebut tanjekan, pedang disebut kelewang, untuk keperluan pertahanan dan perang di masa silam.

e). Wadah untuk menyimpan kebetuhan sehari-hari, beras disimpan dalam kemberasan yang terbuat dari tanah liat, nasi yang siap dimakan disimpan dalam ponjol terbuat dari anyaman bambu, wadah disebut pemosak atau peraras, sendok untuk mengangkat nasi ke piring terbuat dari tempurung kelapa dan diberi kayu sebagai tangkai. Sayur mayor yang dimasak disimpan dalam periuk yang terbuat dari tanah liat dan disebut kene’ .

f). Wadah serta alat-alat dalam rumah tangga, seperti tempat sirih disebut mama’ terbuat dari anyaman bambu, alat pemotong parang dinamakan bato’ , untuk menjepit kayu api ketika memasak digunakan sepit terbuat dari bambu.

 

Editor: Andi. Tendry

 

 

 

 

Berikan Komentar Anda
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top