Pilkada Makassar

Pilwalkot Makassar 2018, Dipastikan Hanya Kandidat Perseorangan dan Jalur Parpol yang Akan Berduel

Netsulsel.com, Makassar- Pilwalkot Makassar 2018 hampir dipastikan berlangsung duel antara kandidat jalur perseorangan dengan parpol. Bila terjadi, inilah sejarah baru di Provinsi Sulsel.

Bakal calon M Ramdhan ‘Danny’ Pomanto yang menggaet Indira Mulyasari Paramastuti (DIAmi) ditantang oleh pasangan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu). Pasangan DIAmi menempuh jalur perseorangan sedangkan Appi-Cicu diusung koalisi parpol gemuk.

Sejauh ini, Appi-Cicu sudah mengantongi tiket Partai Golkar (8 kursi), NasDem (5 kursi), Hanura (5 kursi) dan PBB (1 kursi). Syarat minimal melenggang ke bursa calon jalur parpol adalah 10 kursi.

Tak cuma itu. Pasangan kolaborasi keluarga Aksa Mahmud dengan Ilham Arief Sirajuddin ini akan mendapat tiket tambahan dari PAN (4 kursi) pada sore nanti, Jumat (15/12/2017).

Sementara DIAmi, turut mendapat sokongan parpol meski menempuh jalur perseorangan. Yakni Demokrat (7 kursi) dan PPP (5 kursi).

Dengan demikian, tersisa 4 parpol pemilik kursi di DPRD Makassar yang belum bertuan. Yakni PKS (5 kursi), PDIP (4 kursi), Gerindra (5 kursi) dan PKPI (1 kursi).

Dua dari empat parpol tersisa ini sudah mengisyaratkan arah dukungannya. PDIP memilih antara DIAmi atau Appi-Cicu sedangkan Gerindra condong ke Appi.

Sebaran parpol ini memungkinkan pasangan Syamsu Rizal-Iqbal Djalil (DIAji) kandas menuju ke panggung Pilwalkot Makassar.

Direktur Epicentrum Politica, Iin Fitriani memaparkan, peta koalisi parpol baru bisa final saat pendaftaran pasangan calon ditutup pada 10 Januari 2018.

“Peta koalisi parpol masih belum final. Namun seperti apapun nanti model koalisi parpol, apakah akan diraih Appi-Cicu semua ataukah masih akan berbagi dengan calon pasangan lain, intinya persaingan akan sangat kompetitif,” papar Iin , Ju’mat (15/12/2017).

Diuraikan, baik jalur parpol maupun jalur perseorangan, sama-sama punya peluang kemenangan meski pilkada sebelumnya kemenangan didominasi pasangan jalur parpol.

“Ini lebih ke pertarungan untuk menguji potensi basis massa masing-masing, baik jalur partai maupun jalur independen,” demikian Iin.

Terpisah, Pengamat Politik Universitas Muhammadiah Makassar, Andi Luhur Priyanto menilai, sulit untuk parpol besar mendukung kandidat di jalur perseorangan. Meskipun diakuinya tidak semua juga harus berada di koalisi penantang.

“Faktor pragmatisme elektoral, membuat partai itu sulit untuk berperan optimal pada kerja-kerja elektoral kandidat independen DIAmi, yang akan banyak mengandalkan jejaring relawan berbasis ormas dan birokrasi,” urai Luhur.

Menurutnya, Pilwalkot Makassar 2018 akan menjadi pertarungan antar jejaring politik dengan basis yang berbeda. “Pertarungan jejaring politik berbasis ormas dan birokrasi melawan jejaring politik berbasis partai politik dan korporasi,” pungkas Luhur.

Berikan Komentar Anda
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top