Salinan Ijazah Wakil Presiden RI dipamerkan di Jantung Kampus Eropa

Kampus Erasmus Belanda, tempat salinan ijazah wapres RI dipamerkan.

NETSULSEL | ​Rotterdam,  Di dinding sebuah bangunan asrama mahasiswa yang berdiri megah di lingkungan Erasmus University Rotterdam (EUR), Belanda, terselip sebuah lembaran bersejarah yang memancarkan daya pikat intelektual lintas generasi. Bukan sekadar hiasan dinding biasa, lembaran tersebut merupakan salinan ijazah perguruan tinggi milik Proklamator sekaligus Wakil Presiden Republik Indonesia pertama, Mohammad Hatta.

​Bagi dunia internasional, pemajangan dokumen akademik ini merupakan bentuk penghormatan abadi. Namun, bagi bangsa Indonesia, ijazah tersebut adalah simbol perjalanan panjang seorang pemuda Bumiputra yang menempa ilmu di negeri penjajah, merajut kesadaran kebangsaan, dan kelak memimpin kemerdekaan bangsanya.

​Dari Nederlandse Handelshogeschool hingga Hatta Building
​Jauh sebelum universitas terkemuka itu bernama Erasmus University Rotterdam, institusi tersebut dikenal sebagai Nederlandse Handelshogeschool (Sekolah Tinggi Perdagangan Belanda) tempat Bung Hatta muda menimba ilmu ekonomi pada dekade 1920-an. Di ruang-ruang kuliah inilah Bung Hatta menyerap teori-teori ekonomi modern, akuntansi, dan tata niaga yang kemudian menjadi fondasi pemikirannya dalam membangun sistem ekonomi kerakyatan di tanah air.

​Namun, rekam jejak Hatta di Rotterdam tidak pernah bisa disempitkan sekadar urusan nilai ujian atau bangku kuliah. Kampus ini menjadi saksi bisu bagaimana ruang akademik berkelindan dengan bara pergerakan nasional. Sambil merampungkan studinya, Hatta aktif memimpin Perhimpunan Indonesia (PI), sebuah organisasi mahasiswa yang mengubah haluan perjuangan pelajar di negeri Belanda dari sekadar perkumpulan sosial menjadi wadah politik radikal yang menuntut kemerdekaan penuh bagi Indonesia.

​Pemajangan salinan ijazah ini ditempatkan secara khusus di Hatta Building—sebuah gedung asrama mahasiswa di lingkungan kampus EUR yang namanya diabadikan secara khusus untuk mengenang sang Bapak Koperasi Indonesia. Langkah pihak universitas menempatkan dokumen kelulusan tersebut di ruang publik kampus menjadi penegasan bahwa sejarah Hatta adalah bagian integral dari memori institusi tersebut.

​Pendidikan Sebagai Senjata Perjuangan
​Kisah ijazah Bung Hatta di tanah Eropa menyiratkan narasi yang kuat tentang arti penting pendidikan. Di era kolonial, ketika akses pendidikan tinggi bagi pribumi sangat dibatasi, Hatta menggunakan kesempatan belajar di luar negeri bukan untuk mencari kenyamanan status sosial, melainkan sebagai wadah memperluas cakrawala berpikir.

​Pengetahuan yang ia peroleh di Eropa dipadukan dengan ketajaman analisis politiknya. Puncaknya, gagasan dan pembelaannya yang termasyhur lewat pledoi bersejarah Indonesie Vrij (Indonesia Merdeka) di pengadilan Den Haag menunjukkan bagaimana intelektualitas seorang Hatta menjadi perisai tajam untuk menggugat kolonialisme di panggung internasional.

​Kini, ketika mahasiswa dari berbagai belahan dunia lalu-lalang di kompleks Erasmus University Rotterdam, nama Mohammad Hatta tetap hidup. Salinan ijazah yang dipajang permanen itu seolah berbisik kepada siapapun yang melihatnya: bahwa ilmu pengetahuan tertinggi adalah yang bermuara pada pembebasan manusia dan pengabdian kepada sesama.

​Jejak langkah Bung Hatta di Rotterdam membuktikan bahwa batas negara bukanlah penghalang bagi seorang pemikir besar untuk meninggalkan warisan abadi—menyatukan keunggulan akademik dengan cinta tanah air yang tak pernah luntur oleh zaman.(ita)