
NETSULSEL | Makassar, Di tengah gempuran tren fesyen cepat (fast fashion) serba instan yang membanjiri pasar digital, ada angin segar yang berhembus dari sudut-sudut kreatif di Sulawesi Selatan. Kain tenun tradisional yang selama ini kerap dicitrakan kaku, hanya pantas dikenakan saat acara adat, kondangan, atau ritual resmi kini disulap menjadi streetwear bergaya modern yang digandrungi anak muda.
Adalah gerakan dari para perajin dan jenama lokal (local brand) di Sulawesi Selatan yang berani mendobrak batas. Mereka mengambil material sakral seperti kain Sutra Mandar dan Lipa’ Sabbe (sutra Bugis), lalu meramunya kembali menjadi pakaian kasual kekinian yang keren, hangat, dan berakar kuat pada budaya, salah satunya melalui inovasi produk sweater etnik kontemporer.

Menembus Batas Tradisi: Merawat Kain Lewat Gaya Hidup Urban
Selama turun-temurun, lembaran kain tenun tradisional di Sulawesi Selatan memuat filosofi identitas yang tinggi. Namun, perajin muda melihat tantangan besar: bagaimana membuat generasi milenial dan Gen Z mau mengenakan tenun tanpa merasa terlihat tua atau berlebihan (over-dressed) di ruang publik sehari-hari?
Jawabannya ada pada dekonstruksi fungsi kain. Alih-alih dibiarkan utuh menjadi sehelai sarung atau selendang, potongan-potongan sisa atau kain tenun pilihan dipadupadankan dengan bahan rajut katun dan fleece berkualitas tinggi untuk menciptakan sweater modern berpotongan oversized.
”Kain tenun itu punya cerita, punya jiwa dari tangan penenunnya yang bekerja berhari-hari. Tugas kami bukan mengubah esensinya, melainkan memberi ruang agar cerita itu bisa berjalan-jalan ke kafe, kampus, hingga pameran fesyen nasional tanpa kehilangan jati dirinya,” ungkap Ahmad Fauzan (28), seorang perintis jenama fesyen etnik kontemporer asal Makassar yang aktif mengangkat material lokal.
Studi Kasus: Transformasi Lipa’ Sabbe dan Sutra Mandar pada Koleksi “Sandeq & Silk”
Salah satu contoh nyata pergerakan ini terlihat di sebuah studio kreatif kecil di bilangan Makassar. Melalui koleksi bertajuk “Sandeq & Silk”, mereka mengangkat kain Sutra Mandar dengan ciri khas motif garis kotak-kotak tegas (tepatepa) serta Lipa’ Sabbe khas Mandar dan Bugis yang kaya warna terang menyala.

Dalam proses produksinya, mereka tidak sembarangan memotong kain. Setiap sweater dirancang secara patchwork atau panel dengan menempatkan aksen tenun pada bagian dada, lengan, atau saku depan. Hasilnya adalah sebuah statement piece pakaian luar yang terlihat urban, minimalis, namun memancarkan kilau khas benang sutra tradisional yang autentik.
Sisi Inovasi: Penggunaan teknik raw-edge stitching dan kombinasi bahan wol rajut lembut membuat sweater ini nyaman dipakai di ruang ber-AC kota besar maupun saat cuaca sejuk di dataran tinggi Enrekang dan Toraja.
Dampak Sosial: Langkah ini secara langsung menghidupkan kembali dapur-dapur para penenun tradisional di daerah pelosok. Perajin yang tadinya mulai kehilangan pesanan kini kembali sibuk karena permintaan pasokan kain perca dan lembaran tenun khusus patchwork meningkat drastis.
Suara Perajin: Menjaga Napas Budaya di Era Digital
Bagi para perajin lokal, inovasi ini bukan sekadar urusan bisnis mencari profit, melainkan bentuk penyelamatan budaya dari kepunahan. Keterlibatan anak muda dalam rantai pasok fesyen kontemporer memberikan napas baru bagi eksistensi tenun tradisional Sulsel.
”Dulu anak-anak muda malu pakai kain daerah karena dianggap ketinggalan zaman. Tapi begitu kami jadikan jaket atau sweater dengan potongan modern yang edgy, mereka justru bangga. Mereka merasa sedang mengenakan karya seni berjalan,” tambah Fauzan saat ditemui di studionya.
Melalui sentuhan tangan-tangan kreatif lokal ini, tenun tradisional Sulawesi Selatan membuktikan bahwa tradisi dan modernitas bukanlah dua hal yang harus saling bertarung. Keduanya bisa berkolaborasi dengan apik, melahirkan identitas gaya hidup baru yang tidak hanya keren dipandang mata, tetapi juga sarat akan marwah leluhur yang terus hidup di nadi zaman. (Ser)




