Senyum Perempuan Barrang Caddi: Menembus Batas Laut Lewat Inovasi “Sea-to-Table”

tim pengabdian Universitas Hasanuddin (Unhas) hadir membawa secercah harapan ke Pulau Barrang Caddi, Makassar, melalui peluncuran platform digital bertajuk "Sea-to-Table". Program inovatif yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI

NETSULSEL | Makassar, Bagi perempuan di pulau-pulau kecil, deburan ombak acapkali menjadi batas yang mengisolasi mimpi-mimpi ekonomi mereka. Potensi kuliner laut yang autentik dan melimpah kerap kali layu sebelum berkembang, terjebak oleh keterbatasan akses pasar dan minimnya literasi digital. Berangkat dari kegelisahan ini, tim pengabdian Universitas Hasanuddin (Unhas) hadir membawa secercah harapan ke Pulau Barrang Caddi, Makassar, melalui peluncuran platform digital bertajuk “Sea-to-Table”. Program inovatif yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI pada Sabtu (6/6) lalu ini, dirancang untuk meruntuhkan sekat geografis dan menghubungkan langsung hasil olahan tangan ibu-ibu nelayan dengan ekosistem pasar yang lebih luas.

​Transformasi ini dirasakan langsung oleh Kelompok Mentari, sebuah wadah bagi sepuluh perempuan dan ibu rumah tangga tangguh di pulau tersebut. Lewat program ini, mereka tidak hanya diperkenalkan pada aplikasi pemasaran, tetapi juga dibekali hulu ke hilir: mulai dari strategi penentuan harga, penguatan branding, teknik pengemasan moderen, hingga bantuan alat produksi seperti freezer dan timbangan digital. Langkah ini menjadi babak baru bagi para perempuan pesisir untuk naik kelas, mengubah status dari sekadar ibu rumah tangga menjadi penggerak roda ekonomi keluarga yang mandiri.

​Ketua Tim Pengabdian Unhas, Prof. Dr. Seniwati, S.Sos., M.Hum., menegaskan bahwa esensi dari inovasi ini adalah menjembatani kualitas produk lokal yang sebenarnya luar biasa agar mampu bersaing di era digital.

​”Kami melihat persoalan utama bukan pada kualitas produknya, tetapi pada keterbatasan akses pasar. Karena itu, Sea-to-Table kami rancang sebagai upaya pemberdayaan yang membantu masyarakat memanfaatkan teknologi untuk memperluas pemasaran sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk lokal,” jelas Prof. Seniwati dengan optimis.

​Pemberdayaan ini pun membuahkan hasil yang menyentuh. Evaluasi program menunjukkan lonjakan kapasitas yang signifikan pada anggota Kelompok Mentari; mereka kini lihai menyusun strategi promosi di media sosial dan mengelola produk dengan standar yang lebih higienis. Antusiasme baru menyeruak di pulau tersebut, melahirkan semangat kewirausahaan komunal yang erat.

​Meski sinyal internet di kawasan kepulauan masih menjadi tantangan yang nyata, nyala api perubahan telah terlanjur tersulut di Pulau Barrang Caddi. Kisah dari pulau kecil di Makassar ini menjadi bukti hidup bahwa inovasi digital yang berdampak besar tidak harus lahir dari teknologi yang rumit. Perubahan yang sesungguhnya justru mengalir ketika ilmu pengetahuan hadir menyentuh bumi, menawarkan solusi yang sederhana, relevan, dan mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang yang berdaulat di tangan perempuan.(ist)