NETSULSEL| Makassar, Kalau ada olimpiade khusus untuk cabang olahraga “Panjat Pagar Sambil Angkut Tabung Gas”, tiga pemuda asal Jalan Veteran Utara ini dipastikan bakal membawa pulang medali emas. Sayangnya, bakat atletis yang salah jalan ini justru membawa mereka langsung ke podium jeruji besi Polsek Makassar.
Dalam rangka Operasi Pekat 2026, Tim Opsnal Polsek Makassar yang dipimpin langsung oleh Kapolsek Kompol Mustari, S.H, M.M, sukses menggulung trio “Spiderman” lokal berinisial AL (18), ER (20), dan HF (33). Ketiganya diamankan setelah terbukti melakukan aksi pencurian dengan metode andalan: Manjat Pagar Estetik.
Kronologi, Angkut Rumah Setengah Isinya
Aksi panjat memanjat ini menimpa kediaman Ibu Maemuna Kamaruddin. Alih-alih bertamu lewat pintu depan sambil ketuk salam, trio ini memilih jalur udara alias memanjat pagar rumah korban. Begitu berhasil mendarat dengan mulus di dalam, jiwa “borong tanpa bayar” mereka langsung bergejolak.
Bukan cuma mengambil satu atau dua barang, trio ini tampaknya berniat membuka toko kelontong saingan. Barang yang berhasil dipanjatkan keluar pagar meliputi 1 buah gitar listrik, 4 biji tabung gas 3 kg, kamera Canon, sepeda Polygon, mesin air Shimizu, hingga 3 unit kipas angin! Total kerugian korban mencapai kurang lebih Rp10.000.000.
Apes di Depan Minimarket & Nyanyian Merdu Pelaku
Namun, sepandai-pandainya melompat, hukum gravitasi dan hukum kepolisian tetap berlaku. Pelarian mereka berakhir pada Rabu malam (9/7/2026). AL, salah satu pelaku, terciduk saat sedang nongkrong santai di depan sebuah minimarket di Jalan Veteran Utara oleh Kanit Reskrim Iptu Syuryadi Syamal dan Panit II Aiptu Abdul Rais.
Begitu diinterogasi, AL langsung “bernyanyi” membocorkan nama dua rekan semanjatnya, ER dan HF. Polisi pun bergerak cepat menjemput keduanya di rumah masing-masing, lengkap dengan barang bukti sisa berupa aki mobil, kompor, dan sebuah alat pembakaran ikan.
Menanggapi kelihaian para pelaku yang hobi memanjat ini, Kanit Reskrim Polsek Makassar, Iptu Syuryadi Syamal, S.Psi., memberikan keterangannya sambil menggelengkan kepala heran.
”Para pelaku ini memang punya spesialisasi yang cukup unik, yaitu gemar sekali memanjat pagar rumah warga malam-malam. Masalahnya, mereka ini memanjat bukan mau ambil jemuran yang kehujanan, tapi malah mengangkut isi rumah orang mulai dari gitar listrik sampai alat pembakar ikan,” ujar Iptu Syuryadi Syamal sambil tersenyum tipis.
”Kami ingatkan kepada para ‘atlet pemanjat liar’ di luar sana, sepandai-pandainya kalian memanjat pagar rumah orang tanpa izin, ujung-ujungnya kalian hanya akan memanjat jeruji besi di sel mako kami. Bakat setinggi langit kalau jalannya salah, ya berakhir di Polsek juga,” tambahnya tegas.
Salurkan Bakat pada Tempatnya
Kini, trio pemanjat pagar ini harus rela mendekam di Mako Polsek Makassar untuk mempertanggungjawabkan hobi ekstrem mereka.
Pesan moral untuk kita semua:
Memiliki tubuh yang lincah dan kemampuan memanjat yang tinggi itu adalah anugerah. Tapi tolong, salurkanlah bakat tersebut ke jalur yang benar. Ikutlah federasi panjat tebing, jadilah atlet pembersih kaca gedung bertingkat, atau minimal ikut lomba panjat pinang pas perayaan 17 Agustus—selain dapat hadiah kulkas, Anda juga dapat tepuk tangan warga, bukan borgol polisi!
Ingat, pagar rumah orang dibikin tinggi itu untuk keamanan, bukan untuk dijadikan wahana outbound gratisan. Yuk, jaga lingkungan kita tetap aman dan tertib! (ita/Syamsul)











