Dari Pesisir Menuju Meja Makan, Sentuhan Inovasi Dosen Unhas Ubah Rumput Laut Jadi Produk Kelas Dunia

salah satu produk yang diluncurkan Unhas berupa mie berbahan dasar hasil laut.

NETSULSEL | Makassar, Selama ini, kekayaan laut Indonesia yang berlimpah sering kali terbang ke negeri orang hanya sebagai bahan baku mentah dengan nilai ekonomi yang minim bagi pemetiknya. Tergerak oleh ketimpangan yang dirasakan masyarakat pesisir, Dr. Kasmiati, STP., MP., seorang dosen dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin, menolak membiarkan potensi itu larut begitu saja. Lewat ketekunan risetnya, ia berhasil menyulap rumput laut lokal menjadi pangan fungsional kaya gizi dan bernilai jual tinggi, sekaligus membuktikan bahwa hilirisasi riset kampus mampu menjadi jangkar kesejahteraan bagi nelayan.

​Bagi Kasmiati, setiap jengkal rumput laut di Sulawesi Selatan menyimpan harapan besar yang belum sepenuhnya dieksplorasi oleh industri nasional. Ia memandang komoditas ini bukan sekadar komoditas ekspor curah, melainkan sumber pangan masa depan yang bisa memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi mandiri masyarakat pesisir.

​”Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan. Kami terdorong mengembangkan berbagai produk pangan berbasis rumput laut yang memiliki nilai tambah lebih tinggi sekaligus memberikan manfaat kesehatan,” jelas Dr. Kasmiati dengan penuh optimisme.

Perjalanan menghidupkan inovasi ini tidaklah instan, melainkan sebuah buah dedikasi panjang selama lima tahun penuh keringat di laboratorium. Tantangan terbesar adalah meramu formula agar kandungan bioaktif rumput laut tetap terjaga tanpa merusak cita rasa yang digemari lidah masyarakat. Hebatnya, riset ini tidak eksklusif di dalam menara gading kampus; Kasmiati merangkul mahasiswa serta turun langsung ke desa-desa binaan Unhas untuk melatih kelompok masyarakat agar mampu memproduksi pangan fungsional ini secara mandiri.

​”Penelitian ini juga melibatkan mahasiswa program sarjana melalui tugas akhir serta diimplementasikan dalam berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat di wilayah pesisir. Sebelum didaftarkan ke BPOM, produk-produk tersebut telah diperkenalkan kepada kelompok masyarakat melalui pelatihan dan pendampingan sehingga mampu menjadi salah satu alternatif usaha berbasis sumber daya lokal di desa binaan Unhas,” ungkapnya.

Kerja keras yang memedulikan nasib masyarakat itu akhirnya berbuah manis dalam gelaran Akselerasi Kolaborasi Academia, Business, Government (ABG) di Ballroom Hotel Claro Makassar. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI secara resmi menyerahkan sertifikat izin edar untuk enam produk inovatifnya: mie, cendol, brownies, muffin, bakso, dan nugget berbasis rumput laut. Legalitas ini menjadi validasi kuat bahwa produk hasil olahan tangan lokal telah memenuhi standar keamanan pangan nasional yang ketat dan siap bertarung di pasar luas.

​”Di masa depan, kami ingin terus mengembangkan inovasi-inovasi berbasis rumput laut yang tidak hanya memiliki daya saing di tingkat nasional, tetapi juga mampu menembus pasar internasional dan membawa nama baik Unhas sebagai perguruan tinggi yang menghasilkan inovasi yang berdampak. Bagi kami, keberhasilan sebuah penelitian bukan hanya ketika dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, tetapi ketika hasil penelitian tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” tegas Dr. Kasmiati.(ist)