Gema Jiwa Tuanta Salamaka. Leonard Eben Ezer, si Batak Yang Terpanggil Menjaga Api Pengabdian di Tanah Lontara

Dr. Leonard Eben Ezer Simanjuntak mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya para penyelenggara negara, untuk meneladani nilai-nilai perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari dalam mengabdi kepada bangsa dan negara. Menurutnya, semangat pengabdian yang diwariskan ulama dan pahlawan nasional tersebut tetap relevan di tengah tantangan kehidupan berbangsa saat ini. Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan Agung RI itu menyampaikan, pengabdian kepada bangsa tidak selalu harus diwujudkan melalui jabatan formal.

NETSULSEL | Gowa, ​Di bawah naungan langit Lallang Bata, harum kemenyan dan melodi parappasa seolah kembali berbisik, memanggil ingatan kita pada sesosok pemuda dari Tanah Gowa yang melangkah jauh melintasi samudra. Dialah Syekh Yusuf Al-Makassari sang Tuanta Salamaka, ulama agung sekaligus pahlawan legendaris yang jejak tapaknya terpatri dari benteng Banten hingga bumi Afrika Selatan.

​Perjuangannya tak pernah kuncup oleh kekuasaan, tak pula padam oleh pengasingan. Tanpa perlu menggenggam tajuk jabatan formal, beliau menjadikan keberanian, keteladanan, dan keikhlasan sebagai tajak perjuangan demi membela martabat kemanusiaan.

Meneladani Spirit Sang Pahlawan Melintasi Zaman
​Di tengah hiruk-pikuk zaman yang acap kali menautkan pengabdian pada sebuah tahta, kehadiran Dr. Leonard Eben Ezer Simanjuntak di tengah majelis rakyat menjadi pemantik kesadaran. Dalam balutan suasana Haul Akbar Syekh Yusuf Al-Makassari yang khidmat di pelataran Mesjid Syekh Yusuf dikabupaten Gowa, Jaksa Agung MUda Tindak Pidana Umum dan eks Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan Agung RI tersebut merajut kembali simpul-simpul keteladanan yang mulai terurai.

​”Lihat perjuangannya, tanpa jabatan beliau tetap berjuang. Apa pun pekerjaan kita, apa pun jalan hidup kita, mari kita sumbangkan seluruh warna jiwa untuk bangsa dan negara. Itulah hakikat berguru pada keteladanan Syekh Yusuf,” tutur Leonard.

​Pesan tersebut menggema bak petikan kacaping yang menelusuri relung jiwa: bahwa pengabdian yang sejati tidak berpatok pada tingginya panggung yang kita pijak, melainkan seberapa besar kedamaian dan keadilan yang mampu kita hadirkan bagi masyarakat luas. Cahaya pengabdian Tuanta Salamaka telah membuktikan bahwa dedikasi yang tulus akan menembus batas ruang, melampaui rentang waktu, dan diakui oleh belahan dunia.

Ketika Kebudayaan Tumbuh dari Hati Rakyat
​Ada keindahan yang meresap dalam keheningan Haul Akbar hari itu. Acara yang terselenggara tanpa megahnya lembar undangan khusus maupun topangan dana pemerintah justru memancarkan keagungan yang sesungguhnya. Rakyat hadir merapat, disatukan oleh rasa hormat dan cinta yang murni pada sang wali.

​Bagi Leonard Eben Ezer, fenomena ini adalah cermin kebudayaan yang hidup. Ketika tradisi dan penghormatan terhadap leluhur lahir dari kesadaran kolektif masyarakat, di situlah marwah bangsa menemukan benteng terkokohnya.

Sebuah Panggilan, Merawat Akar, Menjaga Pohon Kehidupan
​Kebudayaan bukan sekadar artefak bisu di dalam museum, melainkan napas dan kompas moral dalam berbangsa. Merawat memori perjuangan Syekh Yusuf adalah jalan untuk memperkuat kembali akar kebudayaan kita yang adil, beradab, dan penuh kasih.

​Mari kita rawat warisan siri’ na pacce dan semangat kebersamaan ini. Jadikan keteladanan Tuanta Salamaka sebagai suluh yang menerangi setiap langkah pengabdian kita apapun peran yang kita emban di atas tanah air tercinta ini. Haul yang tak hanya diramaikan ribuan warga Gowa dan Makassar, juga di hadiri beberapa tamu dari berbagai negara seperti Palestina dan Afrika.

“Haul ini tidak ada undangan khusus dan tanpa ada bantuan dari pemerintah. Ini merupakan wujud besarnya kecintaan masyarakat masyarakat kepada Syekh Yusuf dan nilai-nilai perjuangannya yang terus hidup hingga kini.” pungkas Leonard dengan semangat.(ita)