
NETSULSEL | Makassar, Bagi sebagian orang, matematika adalah tentang angka yang kaku dan rumus yang rumit. Namun bagi pasangan suami istri Hamdana Hadaming dan Andi Ardhila Wahyudi, matematika adalah bahasa cinta yang memadukan dua hati dalam lembaran perjuangan panjang. Pada Rabu (29/4/2026), ruang Sidang Pascasarjana Universitas Negeri Makassar menjadi saksi bisu keharuan yang membuncah. Dosen-dosen muda dari PGSD Unismuh Makassar ini tak hanya berhasil mempertahankan disertasinya masing-masing, tetapi juga menggenapi janji setia untuk mengetuk gerbang kelulusan secara bersama-sama.
Perjalanan cinta dan akademik mereka bukanlah roman picisan yang tumbuh tanpa ujian, melainkan romansa yang dipahat oleh ketekunan selama lebih dari satu dasawarsa. Momen kelulusan doktoral secara simultan ini menjadi kado indah yang menyempurnakan simfoni takdir mereka. Sejak mengaitkan mimpi di bangku sarjana hingga menembus jenjang magister, kedua sejoli yang lahir di tahun 1986 ini senantiasa melangkah dengan ritme yang sejajar. Mereka membuktikan bahwa romansa sejati bukan sekadar menatap mata satu sama lain, melainkan melangkah bersama menatap ke arah tujuan yang sama.
”Ini ketiga kalinya kami menyelesaikan perkuliahan bersama. Dari S-1 sampai S-3, kami selalu bersama dan saling menunggu,” kenang Hamdana penuh haru. “Alhamdulillah, Allah mempertemukan kami dalam ikatan pernikahan dan juga dalam perjuangan ilmu.”
Di balik gelar mentereng yang kini menyatu di depan nama mereka, ada malam-malam panjang penuh peluh dan pengorbanan. Rumah tangga mereka bertransformasi menjadi laboratorium cinta tempat bertukarnya ide, draf disertasi, dan tenggat waktu penelitian yang menguji stamina jiwa. Dari seorang guru honorer yang merangkak naik hingga menjadi dosen dan peneliti handal, Hamdana menemukan pelabuhan jiwanya pada sosok Ardhila, yang tak pernah lelah menjadi penopang ketika asa mulai menyusut.
”Ketika salah satu merasa lelah atau kehilangan semangat, yang lain hadir untuk menguatkan,” tutur Andi Ardhila dengan nada lembut penuh cinta. “Istri saya selalu mengingatkan bahwa setiap proses memiliki tantangan. Selama dijalani dengan ikhtiar, doa, dan kesabaran, insya Allah akan membuahkan hasil yang terbaik.”
Romansa ilmiah mereka bermekaran sempurna dalam bentuk dua disertasi berharga demi kemajuan pendidikan anak bangsa. Jika Hamdana menorehkan kasihnya melalui pengembangan model pembelajaran berpikir kritis (SCP-SQ-SCS), Ardhila menyempurnakannya lewat model pemahaman geometri (Geo-Concept Van). Pertukaran peran dan saling bahu-membahu—baik saat membagi tugas domestik rumah tangga maupun tatkala bergantian menjadi Penulis Pertama dalam karya-karya buku kolaborasi mereka—menjelaskan betapa harmonisnya ritme cinta yang mereka bangun.
Promosi doktor ini sejatinya bukanlah garis akhir dari romantisme mereka, melainkan babak baru dari pengabdian yang lebih suci bagi dunia pendidikan. Hamdana dan Ardhila telah membuktikan bahwa cinta tidak pernah menghambat mimpi, melainkan menjadi bahan bakar paling murni untuk menggapai puncak tertinggi. Ketika takdir menuntun dua anak manusia melangkah dari gerbang yang sama, berjalan menyusuri terjalnya ilmu, dan akhirnya mengetuk garis finish bersama, di sinilah keabadian cinta menemukan makna sejatinya.
”Ini membuktikan bahwa perempuan bisa terus belajar dan berkarya. Namun, yang paling penting, gelar ini merupakan hasil kerja sama kami sebagai suami istri. Tanpa saling mendukung, kami tidak akan sampai di titik ini,” tutup Hamdana manis, menegaskan kelulusan tersebut sebagai monumen cinta mereka.(qas)




