
NETSULSEL | KuninganJagat media sosial mendadak dihebohkan oleh pemandangan tak biasa dari pendirian Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Provinsi Jawa Barat. Bagaimana tidak bikin mengelus dada sekaligus tertawa geli, bangunan koperasi yang digadang-gadang jadi penyokong ekonomi warga ini justru berdiri tegak di pelosok terjal kaki Gunung Ciremai. Lokasinya yang sangat terpencil, sepi dari lalu lalang manusia, dan nyaris tak terjangkau moda transportasi umum membuat netizen bertanya-tanya: apakah konsumen utamanya adalah pepohonan rindang atau angin gunung?
Kondisi medan yang dikelilingi tebing curam dan vegetasi lebat tersebut memicu gelombang keheranan publik. Publik membayangkan betapa “spesialnya” perjuangan warga yang ingin sekadar membeli tabung gas atau seliter minyak goreng harus siap fisik layaknya pendaki profesional menembus kesunyian hutan Kaki Ciremai. Tak ayal, video lokasi Kopdes ini langsung viral dan memancing beragam reaksi kocak netizen yang menganggap tata letaknya super unik dan luar biasa ‘di luar nalar’.
Menanggapi kehebohan yang menggelitik ini, Kepala Staf Presiden (KSP) Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman angkat bicara dan menepis tuduhan bahwa lokasi tersebut asal pilih. Ia menegaskan bahwa setiap penentuan titik pembangunan Kopdes Merah Putih sejatinya sudah melalui pertimbangan matang dan menyerap suara dari bawah.
“Di kampung mah sama aja, kan itu dicari sesuai dengan aspirasi dari kepala desa. Kopdes itu kan masing-masing desa ya, karena masyarakat desa itu harus terpenuhi juga kebutuhannya. Di luar jangkauan-jangkauan dari kota, maka dibentuk lah koperasi desa,” ujar Dudung di Soreang, Kabupaten Bandung.
Dudung menambahkan bahwa esensi utama kehadiran Kopdes Merah Putih adalah mendekatkan rantai pasok kebutuhan pokok ke kawasan terluar agar warga desa tak perlu meluncur jauh ke pusat kota. Melalui fasilitas ini, pasokan vital seperti beras, gula, minyak, gas elpiji, hingga pulsa diharapkan bisa diakses lebih cepat oleh warga lokal.
“Dengan adanya koperasi desa, maka dia tidak kesulitan, baik itu membeli gas, membeli pulsa, atau apa pun yang lainnya, terutama bahan seperti beras, minyak, gula dan sebagainya,” lanjut Dudung.
Meski niat penyediaan logistik ini dinilai sangat mulia, keberadaan Kopdes di ceruk sunyi kaki Gunung Ciremai tetap saja menjadi perbincangan hangat yang mengocok perut. Kini publik tinggal menantikan, seberapa ramainya transaksi ‘belanja berhadapan dengan alam’ di koperasi paling estetik dan ekstrem ini. (baba)









