
NETSULSEL | Sidrap, Langkah inovatif dan penuh harapan tengah diukir dari Bumi Nene Mallomo. Universitas Hasanuddin (Unhas) berkolaborasi dengan University of Newcastle, Australia, serta Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) menggelar pelatihan Harvesting the Future di Kantor Bupati Sidrap. Kegiatan yang diikuti oleh 300 petani andalan ini menjadi tonggak penting dalam mentransformasi sektor pertanian daerah menuju era pertanian presisi berteknologi tinggi.
Melalui program pendampingan yang telah berjalan selama dua tahun ini, para petani dibekali pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan teknologi sensor mutakhir. Inovasi ini memungkinkan petani mendapatkan data kondisi tanaman secara real time langsung dari lahan. Penggunaan teknologi modern tersebut diharapkan mampu mengubah pola kerja tradisional menjadi sistem pengelolaan pertanian yang terukur dan berbasis data presisi.
Ketua Tim Harvesting the Future, Muhammad Junaid, Ph.D., menegaskan bahwa penguasaan teknologi berbasis data adalah kunci utama efisiensi masa depan pertanian. “Ke depan, pengambilan keputusan di sektor pertanian harus berbasis data. Data itu berasal dari kondisi nyata di lapangan yang diolah menjadi informasi sehingga petani dapat mengambil keputusan dengan lebih tepat,” ujarku saat menekankan komitmen Unhas untuk terus mendampingi petani secara berkelanjutan.
Langkah transformatif ini mendapat apresiasi penuh dari Pemerintah Kabupaten Sidrap. Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Patahangi Nurdin, S.IP., mengajak para petani untuk berani mengubah pola pikir lama demi menghadapi tantangan zaman. “Harus ada perubahan mindset. Jangan berpikir karena nenek dan bapak kita petani, lalu kita sudah memahami semuanya. Kita harus belajar dari hari ke hari karena dengan belajar kita akan memperoleh ilmu yang baru,” tuturnya menyemangati para peserta.
Dukungan teknologi modern ini kian melengkapi upaya pemerintah daerah dalam membenahi infrastruktur pengairan, benih, dan pupuk. Sinergi antara ilmu pengetahuan dan fasilitas lapangan ini diyakini mampu melonjakkan produktivitas padi Sidrap hingga mencapai potensi optimalnya sebesar 12 ton per hektare. Lonjakan hasil panen tersebut diprediksi akan meningkatkan kesejahteraan para petani secara signifikan.
Lebih dari sekadar peningkatan hasil panen, momentum ini menjadi pemicu semangat baru bagi regenerasi petani di Sulawesi Selatan. “Kalau pertanian dikelola dengan baik, pendapatannya bisa jauh lebih tinggi. Karena itu, jangan ragu menjadikan pertanian sebagai profesi yang menjanjikan,” pungkas Patahangi. Lewat kolaborasi global ini, sektor pertanian tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan bertransformasi menjadi profesi modern berprospek cerah yang siap diminati generasi muda.(qas)










