Asap Aroma Laut dan Rasa Syukur, Kala Warga Barukang Merayakan Kemerdekaan Duduk Bersila. Tradisi Diwariskan Puluhan Tahun

Tidak ada sekat antar tetangga, tak ada formalitas yang kaku. Di atas aspal dan ubin semen jalanan kampung, warga duduk bersila bersama, menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia dengan penuh kehangatan.

NETSULSEL | ​Makassar, Matahari pagi di kawasan pesisir Barukang, Kota Makassar, belum sepenuhnya tinggi pada Senin, 17 Agustus 2026. Namun, riuh rendah tawa dan aroma gurih asap pembakaran ikan sudah menyelimuti lorong-lorong pemukiman. Tidak ada sekat antar tetangga, tak ada formalitas yang kaku. Di atas aspal dan ubin semen jalanan kampung, warga duduk bersila bersama, menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia dengan penuh kehangatan.

​Bagi warga Kampung Barukang, kemerdekaan bukan sekadar tentang tiang bendera yang menjulang atau deretan piala perlombaan. Kemerdekaan adalah tentang merayakan kehidupan, rezeki dari lautan, dan kebersamaan yang terus terpelihara.

​Sebagai kawasan yang didominasi oleh para nelayan dan pedagang ikan, laut adalah urat nadi kehidupan mereka. Maka, ketika Hari Kemerdekaan tiba, hasil tangkapan terbaik mulai dari pelagis segar hingga aneka hasil laut dikeluarkan dari keranjang-keranjang penyimpanan untuk dibakar bersama-sama.

​Alat panggangan sederhana berderet di sepanjang lorong. Asap tipis yang membubung membawa aroma kelezatan khas pesisir, berpadu dengan gurihnya bumbu racikan rumahan dan racikan sayur pendamping. Pesta rakyat ini terbuka untuk siapa saja; warga lokal, kerabat dari sudut Kota Makassar, hingga pendatang dari luar daerah yang penasaran ingin merasakan hangatnya persaudaraan di Barukang.

Wujud Rasa Syukur Sang Pelaut
​Bagi warga setempat, pesta bakar ikan sekampung ini adalah ritual tahunan yang sarat makna. Heriyanto, salah seorang tokoh pemuda Kampung Barukang, menuturkan bahwa tradisi ini telah menjadi ruang perjumpaan yang dinanti-nanti setiap bulan Agustus.

​”Tiap tahun kami gelar pesta bakar ikan menyambut HUT RI yang kita cintai ini. Pesta bakar ikan ini adalah wujud rasa syukur warga Barukang atas kemerdekaan negeri tercinta dan rezeki yang kami terima,” ungkap Heriyanto dengan senyum sumringah di sela-sela riuhnya suasana.

​Kemerdekaan terasa begitu nyata saat hidangan siap disajikan. Tanpa meja makan mewah, beralaskan tikar sederhana atau langsung di lantai jalanan, warga dari berbagai usia—tua, muda, hingga anak-anak—duduk bersila berhadapan. Tangan-tangan yang biasanya bergulat dengan jaring dan gelombang laut kini sibuk berbagi sajian dan tawa.

​Nurcia, atau yang akrab disapa Cia, seorang warga Barukang, mengungkapkan kebanggaannya bisa merayakan Kemerdekaan RI bersama seluruh tetangganya dari jalan raya hingga ke sudut-sudut lorong tersembunyi.

​”Kami di sini kebanyakan nelayan dan penjual ikan. Sebagai rasa syukur, kita rayakan hari kemerdekaan negara kita dengan cara seperti ini bakar ikan sekampung,” tutur Cia penuh haru.

​Ia juga berharap tradisi kebersamaan ini dapat terus dilestarikan dan mendapatkan perhatian yang lebih luas. “Kami berharap ke depan pesta bakar ikan ini bisa semakin meriah. Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah yang sudah mendukung kegiatan warga di sini,” tambahnya.

​Di usianya yang ke-81 tahun, Indonesia dirayakan dengan begitu polos dan jujur di Kampung Barukang. Di balik kepulan asap panggangan dan hidangan ikan bakar yang disantap bersama sambil duduk bersila, ada doa yang terpanjat lugas: semoga negeri ini tetap merdeka, dan dapur para nelayan terus mengepulkan kesejahteraan.(syam)