Menenun Asa Kemanusiaan di Aula Sekolah Anak Istimewa, SLBN 1 Makassar

Orang tua dan guru mendonorkan darahnya aula Handayani SLB Neg 1 Makassar

NETSULSEL | ​Makassar, Di sudut kawasan Parang Tambung, riak tawa dan langkah-langkah santun para siswa Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Makassar bergerak menata langkah diselasar sekolah pada Selasa (29/9/2026) pagi. Mereka bergegas menuju ruang kelas masing-masing untuk belajar. Namun hari ini, anak-anak tak hanya sibuk diruang kelas, diaula SLBN 1 Makassar tampak sedikit berbeda. Deretan velbed lipat milik Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Makassar terbentang rapi, dikelilingi oleh para guru, staf, hingga para orang tua murid yang hadir dengan raut antusias.

​Di tengah lingkungan pendidikan tempat anak-anak berkebutuhan khusus meniti masa depan, sebuah ikhtiar mulia sedang dirajut. Untuk pertama kalinya, SLBN 1 Makassar bergandengan tangan dengan PMI Kota Makassar menggelar aksi donor darah, sebuah langkah kecil yang menyalakan asa kemanusiaan dari dalam ruang kelas disabilitas.

Bagi Idham, Ketua Panitia Pelaksana sekaligus guru di SLBN 1 Makassar, aksi sosial ini bukan sekadar agenda pengumpulan kantong darah biasa. Pendidik yang pernah menimba ilmu dan mengamati budaya kepedulian sosial di Jepang tersebut menyimpan harapan mendalam di balik giat aksi pertama ini.

​“Kami ingin menghadirkan ruang di mana semangat berbagi itu tumbuh alami dari lingkungan sekolah ini. Selama ini anak-anak dan lingkungan kita mungkin sering dipandang sebagai penerima bantuan, namun hari ini kita ingin menunjukkan bahwa dari sekolah istimewa ini, kita juga bisa menjadi bagian dari penolong sesama,” tutur Idham di sela-sela memantau jalannya kegiatan.

​Satu per satu pendonor, mulai dari guru yang baru selesai mengajar hingga para orang tua yang setia mendampingi buah hatinya, bergantian memeriksakan tekanan darah dan kadar hemoglobin. Ruang aula yang biasanya diisi dengan aktivitas pembelajaran keterampilan kini penuh dengan kehangatan dan rasa empati.

​Dalam aksi perdana ini, pihak panitia sukses mengumpulkan 35 kantong darah untuk diserahkan langsung kepada PMI Kota Makassar demi memenuhi kebutuhan medis masyarakat.

​“Angka 35 kantong darah mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka yang sedang berjuang di ruang perawatan rumah sakit, setiap tetesnya adalah nafas kehidupan. Target ini adalah pijakan awal kami,” tambah Idham dengan penuh optimisme.

​Melihat respons dan antusiasme para pendonor yang melampaui ekspektasi awal, pihak sekolah berkomitmen menjadikan aksi kepedulian ini sebagai agenda rutin yang akan digelar setiap dua bulan sekali.

​Salah seorang orang tua siswa yang turut menjadi pendonor mengaku tersentuh dapat berpartisipasi langsung dalam kegiatan ini.

​“Mendampingi anak belajar di sini mengajarkan kami arti keikhlasan setiap hari. Saat sekolah mengadakan donor darah, rasanya ini kesempatan terbaik bagi kami para orang tua untuk ikut memberi manfaat nyata bagi orang lain yang sedang membutuhkan,” ungkapnya penuh haru.

​Di akhir kegiatan, kantong-kantong darah yang terkumpul mulai dirapikan oleh petugas PMI. Dari aula sekolah anak-anak istimewa di Parang Tambung ini, sebuah pesan tersampaikan dengan sangat jernih: bahwa kepedulian dan rasa kemanusiaan tidak mengenal batas, dan dari ketulusan hati yang paling sederhana, harapan hidup bagi sesama senantiasa dialirkan. (ita)