NETSULSEL | Makassar, Ada persepsi yang berkembang bahwa keterlibatan PERWIRA-LPMT dalam Gau’ Maraja Bone merupakan bagian dari agenda yang dibiayai oleh Pemerintah Daerah Bone. Hal ini perlu diluruskan secara tegas: PERWIRA-LPMT tidak dibiayai oleh Pemerintah Daerah Bone untuk menyelenggarakan Gau’ Maraja Bone.
Keterlibatan PERWIRA-LPMT dalam kegiatan tersebut bukan dalam posisi sebagai penyelenggara utama dan bukan pula sebagai pelaksana kegiatan yang anggarannya bersumber dari Pemerintah Daerah Bone. PERWIRA-LPMT hadir sebagai organisasi yang ikut berpartisipasi, membantu meramaikan, serta mengambil bagian sesuai ruang yang diberikan dalam momentum kebudayaan tersebut.
Kesalahpahaman ini mungkin muncul karena PERWIRA-LPMT sebelumnya memang memiliki pengalaman dalam Gau’ Maraja di Soppeng dan Maros. Karena itu, ketika PERWIRA-LPMT kembali terlihat dalam momentum Gau’ Maraja Bone, ada yang kemudian menganggap bahwa posisinya sama. Padahal konteks dan kedudukan organisasinya berbeda.
Di Soppeng dan Maros, PERWIRA-LPMT mempunyai pengalaman keterlibatan yang lebih kuat dalam penyelenggaraan Gau’ Maraja. Sementara di Bone, kita bukan aktor utama. Kita bukan pemilik panggung. Kita bukan penyelenggara utama. Kalau menggunakan analogi pertunjukan, kita lebih tepat disebut sebagai pemeran pendukung atau penggembira yang ikut membuat suasana menjadi lebih hidup.
Karena itu, perlu dibedakan secara jelas antara kehadiran, partisipasi, penyelenggaraan, dan pembiayaan. Empat hal tersebut bukan sesuatu yang sama.
PERWIRA-LPMT hadir, tetapi bukan penyelenggara utama.
PERWIRA-LPMT berpartisipasi, tetapi bukan berarti seluruh kegiatan menjadi agenda PERWIRA-LPMT.
Dan yang paling penting, PERWIRA-LPMT tidak dibiayai oleh Pemda Bone untuk menyelenggarakan Gau’ Maraja Bone.
Kalau berbicara mengenai pembiayaan kegiatan pemerintah, tentu ada mekanisme administrasi, perencanaan anggaran, pertanggungjawaban, serta dokumen pendukung yang dapat menjadi rujukan. Karena itu, jangan menyimpulkan sumber pembiayaan hanya berdasarkan kehadiran sebuah organisasi dalam sebuah acara.
Posisi PERWIRA-LPMT juga dapat dilihat dari publikasi kegiatan. Agenda PERWIRA-LPMT tidak tercantum sebagai agenda tersendiri dalam flyer resmi yang dipublikasikan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan, Dinas Kebudayaan Bone, maupun Wanua Bone sebagai EO. Ini bukan untuk mempertentangkan satu pihak dengan pihak lainnya, tetapi menjadi bagian dari fakta yang menunjukkan bahwa posisi PERWIRA-LPMT bukan sebagai penyelenggara utama Gau’ Maraja Bone.
Justru dari keterlibatan tersebut terdapat dampak positif terhadap branding PERWIRA-LPMT. Pengalaman Gau’ Maraja Soppeng dan Maros membuat nama PERWIRA-LPMT semakin dikenal dalam ruang kebudayaan. Tetapi sekali lagi, branding bukan berarti ownership, dan partisipasi bukan berarti pembiayaan.
PERWIRA-LPMT sendiri mempunyai agenda tahunan organisasi yang seharusnya dilaksanakan pada 16 September. Dengan adanya momentum Gau’ Maraja Bone, kita memilih untuk ikut mengambil bagian dan membantu Pemerintah Daerah serta pihak penyelenggara dalam meramaikan suasana kebudayaan. Jadi, agenda kita tidak hilang dan tidak pula berubah menjadi agenda Gau’ Maraja Bone.
Ketua Umum PERWIRA-LPMT Muhammad Sapri Andi Pamulu sendiri menerima beberapa telepon dan pesan WhatsApp yang mempertanyakan posisi PERWIRA-LPMT dalam kegiatan tersebut. Penjelasannya sederhana: kita hadir untuk berpartisipasi dan membantu, bukan sebagai penyelenggara utama dan bukan sebagai pihak yang dibiayai Pemda Bone untuk melaksanakan Gau’ Maraja Bone.
Klarifikasi ini penting bukan untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami posisi organisasi dan sumber pembiayaan kegiatan. Pemerintah Daerah memiliki perannya. Penyelenggara memiliki tanggung jawabnya. Komunitas dan organisasi kebudayaan juga mempunyai kontribusinya. Masing-masing memiliki ruang dan fungsi yang berbeda.
PERWIRA-LPMT tidak perlu mengambil panggung yang bukan miliknya. Kita tahu kapan menjadi aktor utama, kapan menjadi bagian dari kolaborasi, dan kapan cukup menjadi penggembira. Justru kemampuan menempatkan diri sesuai porsinya adalah bagian dari kedewasaan organisasi.
Yang ingin kami luruskan hanya satu hal: jangan karena PERWIRA-LPMT hadir dan ikut meramaikan Gau’ Maraja Bone, kemudian muncul anggapan bahwa PERWIRA-LPMT adalah penyelenggara kegiatan atau dibiayai oleh Pemda Bone untuk kegiatan tersebut. Itu dua hal yang berbeda.
Kita hadir untuk berkontribusi, bukan untuk mengklaim.
Kita membantu meramaikan, bukan mengambil alih.
Dan soal pembiayaan, posisi PERWIRA-LPMT jelas: bukan penerima pembiayaan Pemda Bone untuk menyelenggarakan Gau’ Maraja Bone.
Itulah posisi yang sebenarnya, dan kiranya dapat dipahami secara jernih dan proporsional.
@Andi Dahrul
Sekjend PERWIRA-LPMT





