Menembus Batas Akses, Menumbuhkan Harapan. Petani Seko Antusias Belajar Kakao Berkelanjutan dari Hulu hingga Hilir

Semangat belajar dan komitmen untuk membangun pertanian kakao yang berkelanjutan terlihat nyata dalam kegiatan Pelatihan Good Agricultural Practices (GAP), Pertanian Organik dan Regeneratif, serta Pembuatan Cokelat Rumahan yang diselenggarakan oleh Koperasi Masagena menggunakan anggaran RKO 2026 Program Kakao Kopi Rikolto yang dilaksanakan selama dua hari di Aula Kantor Camat Seko, Kabupaten Luwu Utara.

NETSULSEL | Luwu Utara, Semangat belajar dan komitmen untuk membangun pertanian kakao yang berkelanjutan terlihat nyata dalam kegiatan Pelatihan Good Agricultural Practices (GAP), Pertanian Organik dan Regeneratif, serta Pembuatan Cokelat Rumahan yang diselenggarakan oleh Koperasi Masagena menggunakan anggaran RKO 2026 Program Kakao Kopi Rikolto yang dilaksanakan selama dua hari di Aula Kantor Camat Seko, Kabupaten Luwu Utara.

Pelatihan ini difasilitasi oleh berbagai pihak, yaitu Bapperida Kabupaten Luwu Utara, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Pemerintah Kecamatan Seko, serta Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Seko, sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan kapasitas petani dan penguatan ekonomi masyarakat di wilayah terpencil tersebut.

Sebanyak 37 peserta yang merupakan perwakilan kelompok tani dan penyuluh pertanian dari enam desa di Kecamatan Seko, yakni Desa Lodang, Padang Balua, Padang Raya, Taloto, Marante, dan Hono, mengikuti pelatihan dengan penuh antusias.

Pelatihan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Dr. Idawati, S.P., M.Si., Wakil Dekan Fakultas Pertanian Universitas Andi Djemma Palopo, praktisi dan pakar kakao yang dikenal sebagai Cacao Doctor, Rusleli, serta tim dari Koperasi Masagena yang telah memiliki pengalaman dalam pengembangan kakao berkelanjutan.

Selama dua hari pelatihan, peserta mendapatkan materi yang komprehensif mengenai praktik budidaya kakao yang baik (GAP), prinsip-prinsip pertanian organik dan regeneratif, pengelolaan lahan yang ramah lingkungan, hingga pengolahan hasil kakao menjadi produk bernilai tambah berupa cokelat rumahan.

Tidak hanya membahas aspek teknis budidaya, pelatihan juga membuka wawasan peserta mengenai hubungan antara praktik pertanian dengan perubahan iklim. Salah satu topik yang mendapat perhatian besar dari peserta adalah dampak penggunaan pestisida secara berlebihan terhadap kesehatan lingkungan, kesuburan tanah, keanekaragaman hayati, serta keberlanjutan usaha tani dalam jangka panjang.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat karena kami tidak hanya belajar cara meningkatkan produksi kakao, tetapi juga memahami bagaimana menjaga tanah, lingkungan, dan masa depan pertanian kami. Selain itu, kami juga belajar mengolah kakao menjadi cokelat, sesuatu yang sebelumnya belum pernah kami lakukan,” ungkap salah seorang peserta pelatihan.

Kegiatan ini menjadi istimewa karena berlangsung di Kecamatan Seko, salah satu wilayah yang dikenal memiliki tantangan akses transportasi yang cukup besar. Untuk mencapai wilayah ini, tim dari Pemerintah Daerah, Koperasi Masagena, dan Rikolto harus menggunakan pesawat perintis Susi Air yang menjadi salah satu moda transportasi utama menuju Seko.

Namun perjuangan belum berhenti sampai di sana. Pada perjalanan pulang, sebagian tim dari Koperasi Masagena dan Dinas PMD terpaksa menempuh jalur darat menggunakan jasa ojek yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai “ojek termahal”, akibat keterbatasan tiket penerbangan. Biaya perjalanan darat menuju dan dari Seko dapat mencapai sekitar Rp700 ribu hingga Rp1,2 juta per orang untuk sekali perjalanan.

Meski harus menghadapi tantangan medan dan aksesibilitas, semangat para peserta maupun para fasilitator tidak surut. Justru keterbatasan tersebut semakin menegaskan pentingnya menghadirkan akses pengetahuan, teknologi, dan inovasi bagi masyarakat di daerah terpencil.

Koperasi Masagena meyakini bahwa peningkatan kapasitas petani merupakan investasi jangka panjang untuk membangun sektor kakao yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi bersama pemerintah daerah, lembaga pendamping, akademisi, dan masyarakat, diharapkan petani Kakao Seko tidak hanya menjadi produsen bahan baku, tetapi juga mampu mengambil peran lebih besar dalam rantai nilai kakao, mulai dari budidaya hingga pengolahan produk yang bernilai ekonomi tinggi.

Pelatihan ini menjadi bukti bahwa jarak dan keterbatasan akses tidak pernah menjadi penghalang bagi semangat belajar dan keinginan masyarakat untuk terus berkembang. Dari dataran tinggi Seko, harapan untuk masa depan kakao yang lebih lestari dan menyejahterakan terus tumbuh bersama para petani.

“Ketika pengetahuan berhasil menjangkau daerah yang sulit diakses, di situlah perubahan mulai tumbuh.” (ist)