oleh : Andi Dahrul
Kalimat ini penting karena perubahan posisi politik jarang lahir dari ruang kosong. Terlebih bagi seorang intelektual seperti Rocky Gerung yang selama bertahun-tahun membangun reputasinya melalui jarak terhadap kekuasaan. Jika kemudian ia memilih mendekati lingkar kekuasaan, maka yang menarik bukan semata-mata peristiwa “masuk”-nya, tetapi proses yang mendahului keputusan tersebut.
Sinyal itu bisa berupa perubahan cara membaca politik, perubahan terhadap siapa yang dianggap sebagai ancaman terbesar, perubahan strategi menghadapi kekuasaan, atau munculnya keyakinan bahwa berada lebih dekat dengan pusat keputusan akan menghasilkan manfaat yang lebih besar daripada mempertahankan posisi sepenuhnya di luar.
Dalam kerangka lesser evil, perubahan tersebut dapat dipahami sebagai kalkulasi politik. Seseorang tidak harus menganggap sebuah kekuasaan ideal untuk memilih mendekatinya. Ia cukup menganggap bahwa alternatif yang tersedia memiliki risiko yang lebih besar. Dengan demikian, lesser evil bukanlah pernyataan bahwa pilihan tersebut baik; ia adalah keputusan bahwa pilihan itu dipandang lebih sedikit membawa kerusakan dibandingkan pilihan lainnya.
Tetapi di sinilah persoalan Rocky menjadi lebih menarik.
Rocky Sebelum Kekuasaan
Sebelum mendekati lingkar kekuasaan, Rocky membangun posisi publiknya melalui independensi intelektual. Ia berada di luar struktur pemerintahan dan menjadikan jarak tersebut sebagai sumber kebebasan berpikir. Kritik terhadap kebijakan pemerintah, pembacaan terhadap perilaku elite, dan pembongkaran kontradiksi politik merupakan bagian penting dari identitas publiknya.
Pada fase ini, konsistensinya relatif mudah dikenali: kekuasaan berada di hadapannya sebagai objek yang harus diperiksa, bukan sebagai ruang yang harus ia tempati.
Namun, justru karena posisi tersebut, standar publik terhadap Rocky menjadi tinggi. Ketika seseorang bertahun-tahun mengajarkan pentingnya jarak terhadap kekuasaan, setiap perubahan kedekatan dengan kekuasaan secara alamiah akan memunculkan pertanyaan tentang konsistensi.
Bukan karena seorang intelektual tidak boleh berubah.
Tetapi karena perubahan posisi harus dapat dijelaskan secara intelektual, bukan hanya secara politis.
Rocky Setelah Mendekati Kekuasaan
Setelah memasuki atau mendekati lingkar kekuasaan, persoalannya menjadi berbeda. Kita tidak lagi cukup menilai apakah Rocky mampu membaca kekuasaan dari luar. Pertanyaannya berubah menjadi: apakah ia mampu mempertahankan standar berpikir yang sama ketika memiliki akses lebih dekat kepada pusat kekuasaan?
Di sinilah konsistensi diuji.
Jika dahulu ia menuntut transparansi dari kekuasaan, apakah standar tersebut tetap berlaku ketika kekuasaan yang ia dekati melakukan sesuatu yang kontroversial?
Jika dahulu ia mempertanyakan kepentingan di balik keputusan politik, apakah ia tetap menggunakan ukuran yang sama ketika keputusan tersebut berasal dari lingkar yang sekarang lebih dekat dengannya?
Jika dahulu ia menolak kultus terhadap figur politik, apakah ia tetap menjaga jarak yang sama ketika figur tersebut menjadi bagian dari konfigurasi politik yang ia pilih?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan tuduhan. Ini adalah uji konsistensi.
Sebab konsistensi tidak berarti seseorang tidak boleh berubah posisi. Konsistensi berarti ukuran yang digunakan untuk menilai kekuasaan tidak berubah hanya karena posisi politik seseorang berubah.
Dari Outsider ke Insider
Di sinilah terdapat paradoks yang menarik. Seorang outsider memiliki kebebasan karena ia tidak terlalu bergantung pada sistem. Seorang insider memperoleh akses karena ia masuk ke dalam sistem. Tetapi akses selalu memiliki harga: semakin dekat seseorang dengan pusat kekuasaan, semakin besar kemungkinan kepentingan, loyalitas, dan hubungan politik ikut memengaruhi cara ia membaca realitas.
Tidak berarti hal tersebut pasti terjadi pada Rocky. Justru karena itulah publik perlu mengamati prosesnya, bukan buru-buru menjatuhkan vonis.
Bisa saja Rocky memasuki ruang tersebut untuk membawa gagasan yang selama ini ia perjuangkan. Dalam skenario itu, perubahan posisi bukanlah pengkhianatan terhadap prinsip, melainkan perubahan medan perjuangan.
Tetapi skenario sebaliknya juga mungkin: kekuasaan memiliki kemampuan menyerap energi kritis dan mengubahnya menjadi legitimasi. Kritik yang sebelumnya mengganggu dapat berubah menjadi ornamen; intelektual yang dahulu menjadi pengganggu dapat berubah menjadi pembenar.
Di antara dua kemungkinan itulah konsistensi Rocky harus diuji.
Sinyal Sebelum Masuk, Konsistensi Setelah Masuk
Karena itu, kalimat “sebelum masuk, sinyal itu sudah ada” tidak boleh hanya menjadi insinuasi. Ia harus menjadi pertanyaan analitis: sinyal apa yang muncul sebelum perubahan posisi, dan apakah sinyal tersebut konsisten dengan perilaku setelah mendekati kekuasaan?
Jika ada kesinambungan antara gagasan sebelum dan tindakan setelahnya, maka kita dapat berbicara tentang transformasi strategi tanpa transformasi prinsip.
Sebaliknya, jika terdapat perubahan mendasar dalam standar penilaian, maka kita berhadapan dengan sesuatu yang lebih serius: transformasi posisi yang diikuti transformasi orientasi.
Bagi saya, di sinilah Rocky menarik untuk dibaca. Saya tidak melihatnya dengan kacamata hitam-putih—seolah seseorang yang mendekati kekuasaan otomatis kehilangan independensinya. Saya justru ingin melihat apakah ia mampu membuktikan tesis yang lebih sulit: bahwa seorang intelektual dapat masuk ke dalam radius kekuasaan tanpa kehilangan kemampuan untuk menjaga jarak intelektual.
Sebab berada di luar kekuasaan bukan satu-satunya ukuran independensi. Tetapi berada di dekat kekuasaan juga bukan bukti kedewasaan politik.
Ukuran sebenarnya adalah kemampuan mengatakan hal yang sama kepada kekuasaan ketika mengatakan hal itu sudah tidak lagi menguntungkan dirinya.
Dan di situlah saya menempatkan Rocky Gerung hari ini: bukan sebagai seseorang yang harus diadili karena berubah posisi, tetapi sebagai seorang intelektual yang memasuki fase baru dengan beban pembuktian yang lebih berat.
Sebelum masuk, sinyal itu sudah ada. Setelah masuk, konsistensinya yang harus dibaca.
Karena pada akhirnya, politik tidak hanya menguji keberanian seseorang untuk memilih kekuasaan.
Politik menguji apakah setelah memilih kekuasaan, seseorang masih memiliki keberanian untuk berbeda dengannya.







