NETSULSEL | Makassar. Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar melalui Dinas Pendidikan mengambil sikap tegas di tengah menurunnya kualitas udara kota akibat kabut asap kiriman. Meskipun sejumlah parameter menunjukkan polutan tinggi yang bersumber dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Pemkot Makassar memastikan belum akan meliburkan aktivitas sekolah ataupun memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring.
Kebijakan ini diambil dengan pertimbangan matang agar hak belajar siswa tetap berjalan optimal tanpa harus mengorbankan aspek kesehatan secara berlebihan.
Alasan Pemkot Makassar Tolak Liburkan Sekolah
Sekretaris Daerah Kota Makassar, Andi Zulkifly Nanda, bersama Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, menjelaskan bahwa penolakan opsi meliburkan siswa didasari oleh beberapa alasan fundamental:
Belum Memenuhi Kedaruratan Medis: Hingga saat ini, eskalasi gangguan kesehatan akibat polusi udara di fasilitas layanan kesehatan belum menunjukkan adanya lonjakan kasus atau status darurat medis yang signifikan.
Menjaga Efektivitas Proses Belajar Mengajar: Pembelajaran tatap muka dinilai jauh lebih efektif bagi penyerapan materi akademik dan karakter siswa, ketimbang langsung beralih ke sekolah daring yang kerap menghadapi kendala teknis maupun psikologis anak.
Memilih Solusi Intervensi Preventif Ketimbang Penutupan: Daripada meliburkan sekolah yang justru berisiko membuat anak-anak tetap bebas bermain di luar rumah tanpa pengawasan, Pemkot memilih memperketat kontrol aktivitas di dalam lingkungan sekolah.
”Ini belum terjadi kedaruratan medis sehingga enggak usah dulu kita meliburkan, tetapi mengurangi aktivitas yang ada di luar ruangan untuk kegiatan-kegiatan para murid atau siswa,” tegas Andi Zulkifly Nanda.
Langkah Mitigasi: Batasi Aktivitas Luar Ruangan dan Bagi-Bagi Masker
Sebagai jalan tengah untuk melindungi kesehatan para peserta didik, Dinas Pendidikan Kota Makassar menginstruksikan seluruh satuan pendidikan dari tingkat PAUD, SD, hingga SMP untuk memangkas seluruh agenda di luar ruangan (outdoor).
Seluruh kegiatan olahraga, upacara, maupun kegiatan ekstrakurikuler di halaman sekolah dihentikan sementara dan dialihkan sepenuhnya ke dalam ruangan kelas. Selain itu, Pemkot Makassar bergerak cepat melakukan intervensi kesehatan dengan mendistribusikan ribuan masker medis secara masif kepada para siswa di berbagai sekolah. Langkah ini ditujukan untuk meminimalisir paparan langsung polutan berbahaya bagi saluran pernapasan anak-anak yang masuk dalam kategori rentan.
Skenario Lanjutan: Opsi Sekolah Daring Jika Situasi Memburuk
Meski saat ini memilih untuk tetap mempertahankan sekolah tatap muka, Pemkot Makassar tidak menutup mata terhadap dinamika cuaca dan sebaran asap ke depan. Kebijakan bersifat dinamis dan siap dievaluasi kapan saja.
Pemkot Makassar telah menyiapkan langkah antisipasi terpadu jika kualitas udara kian memburuk atau kabut asap berlangsung berkepanjangan:
Koordinasi Lintas Sektor Berkala: Terus memantau data indeks standar pencemar udara (ISPU) berkoordinasi erat dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Dinas Kesehatan.
Evaluasi Status Kedaruratan: Menunggu rekomendasi resmi dari tim teknis SKPD terkait apabila ambang batas polusi sudah melewati batas aman bagi kesehatan publik.
Pemberlakuan Sekolah Daring: Pembelajaran jarak jauh atau sekolah online akan langsung ditetapkan sebagai opsi darurat pamungkas jika kualitas udara kian merosot tajam dan mengancam kesehatan massal anak sekolah.

















