Penulis: Ismawan Amir
(Turkiye Indonesia Scholars Network)
Di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, denyut ekonomi sudah terasa sejak pagi.
Kapal-kapal nelayan bersandar di dermaga. Keranjang berisi ikan diturunkan dari geladak.
Para pekerja bergerak cepat, sementara pedagang sibuk memilah hasil tangkapan. Suara mesin, percakapan, dan tawar-menawar menyatu dalam kesibukan pelabuhan. Dari tempat itu, ikan akan menempuh perjalanan menuju pasar, restoran, hingga industri pengolahan. Mata rantai ekonomi yang panjang. Nelayan, buruh bongkar, pedagang, pengangkut, dan pelaku usaha memperoleh penghidupan dari laut.
Di kawasan pesisir lainnya, para pembudidaya juga bekerja keras. Petani tambak di Takalar, Pinrang, hingga pesisir utara Jawa menghadapi tantangan berbeda. Mereka harus menjaga kualitas air, mengendalikan penyakit, meningkatkan produktivitas, dan memastikan hasil panen terserap pasar.
Dua kegiatan ini, perikanan tangkap dan budidaya, menjadi kekuatan penting ekonomi kelautan Indonesia saat ini. Laut adalah ruang ekonomi yang harus terus dikembangkan. Di dalamnya tersedia kesempatan membangun industri, membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan penerimaan negara, dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
Indonesia memiliki modal yang luar biasa. Sumber daya alam tersedia. Perguruan tinggi terus melahirkan sarjana kelautan. Teknologi berkembang. Dunia usaha pun semakin terbuka terhadap peluang ekonomi biru. Yang kita perlukan sekarang adalah kemampuan menyatukan semua kekuatan itu menjadi gerakan ekonomi yang nyata.
Peran strategis Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO). Organisasi ini tidak boleh sekadar menjadi tempat berhimpunnya para sarjana.
ISKINDO harus tumbuh sebagai kekuatan intelektual yang mampu memengaruhi kebijakan, mempertemukan dunia usaha dengan perguruan tinggi, dan membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat pesisir. Karena itu, pemilihan Ketua Umum ISKINDO periode 2026–2031 menjadi momentum penting untuk membicarakan arah baru organisasi.
Saya menaruh perhatian pada gagasan Darwis Ismail, lulusan Universitas Hasanuddin dan Magisternya di IPB, kini menjadi salah satu calon ketua umum. Darwis memiliki pengalaman yang menarik. Ia bukan hanya tumbuh dalam lingkungan organisasi kelautan, tetapi juga membangun usaha yang bersentuhan langsung dengan kegiatan ekonomi masyarakat.
Dari dunia konsultansi, pemerintahan, hingga budidaya perikanan, ia mengenal bagaimana gagasan harus berhadapan dengan persoalan nyata di lapangan.
Pengalaman itu menjadi strategis ketika ia menawarkan sejumlah pemikiran untuk masa depan ISKINDO. Salah satunya adalah tata kelola, penguatan kembali kelembagaan kelautan di tingkat kabupaten dan kota.
Saya melihat gagasan ini layak dibahas secara serius. Persoalan nelayan dan masyarakat pesisir terjadi di daerah. Karena itu, pelayanan, pendampingan teknis, dan kebijakan pembangunan harus mampu menjangkau mereka secara efektif. Gagasan lainnya adalah memperkuat peran badan usaha milik negara dalam mengembangkan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi, sekaligus membuka hubungan pasar yang lebih baik bagi nelayan dan pembudidaya.
Tentu, rancangan seperti ini perlu memperhatikan kelayakan bisnis, persaingan usaha yang sehat, dan keberlanjutan sumber daya. Tetapi semangat memperkuat rantai ekonomi perikanan patut memperoleh perhatian. Hulu ke hilir harus match. Yang juga menarik adalah pemikiran Darwis mengenai penguatan profesi sarjana kelautan melalui pemetaan keahlian dan sertifikasi kompetensi.
Saya kira ini salah satu pekerjaan penting ISKINDO ke depan. Kita memiliki ribuan sarjana kelautan dengan kemampuan beragam. Ahli oseanografi, pengelolaan pesisir, teknologi kelautan, konservasi, hingga pengembangan industri perikanan. Keahlian sebesar itu harus memiliki ruang pengabdian yang semakin jelas.
ISKINDO semestinya mampu membangun sistem yang menghubungkan kompetensi anggotanya dengan kebutuhan pemerintah, industri, lembaga penelitian, dan dunia usaha.
Saya juga berharap perhatian terhadap alumni muda menjadi bagian utama kepemimpinan mendatang. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar kartu keanggotaan organisasi. Mereka memerlukan akses pekerjaan, kesempatan melanjutkan studi, pendampingan usaha, serta jaringan profesional yang dapat membantu mengembangkan masa depan.

Dalam hal ini, pengalaman Darwis membuka jalan bagi alumni muda dan membangun jejaring dengan berbagai tokoh serta lembaga nasional merupakan modal sosial yang relevan. Apalagi ia telah memiliki pengalaman panjang dalam kepengurusan ISKINDO, dari Bendahara Umum, Sekretaris Dewan Pakar, hingga Wakil Ketua Umum. Namun, tantangan sebenarnya bukan hanya menyusun gagasan atau memiliki jaringan yang luas. Tantangannya adalah bagaimana semua itu diubah menjadi program dengan tim kerja yang solid.
Saya membayangkan ISKINDO lima tahun mendatang menjadi organisasi yang kehadirannya semakin dirasakan. Ketika nelayan menghadapi persoalan, ada pengetahuan dan keahlian yang dapat ditawarkan. Ketika industri membutuhkan inovasi, ada jaringan sarjana kelautan yang siap bekerja. Ketika alumni muda mencari kesempatan, organisasi hadir membuka jalan.
Itulah jalan baru kepemimpinan ISKINDO yang saya harapkan. Kita tidak boleh berhenti pada kebanggaan bahwa Indonesia merupakan negara maritim. Kebanggaan itu harus diikuti keberanian menggerakkan sumber daya, memperkuat industri, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Tentu, seluruh calon ketua umum perlu memperoleh ruang yang sama untuk menawarkan program dan menjelaskan bagaimana mereka akan menjalankannya. Bagi saya, kepemimpinan ISKINDO mendatang harus membawa energi baru: lebih terbuka terhadap dunia usaha, lebih dekat dengan generasi muda, lebih kuat dalam advokasi kebijakan, dan lebih nyata kontribusinya bagi masyarakat pesisir.

















