Harga Minyak Dunia Anjlok Merata Usai Selat Hormuz Dibuka Gratis, Mengapa BBM Harga Non-Subsidi RI Belum Turun?

Suasana stasiun pengisian bahan bakar (SPBU)

NETSULSEL | ​Makassar, Tren harga minyak mentah secara global terpantau mengalami penurunan drastis secara merata dalam beberapa pekan terakhir. Pulihnya jalur logistik vital di Selat Hormuz yang kini terbuka lebar tanpa pungutan biaya tambahan menjadi pemicu utama lancarnya suplai emas hitam tersebut ke pasar global. Namun, kondisi ini memicu pertanyaan besar di kalangan masyarakat Indonesia: Mengapa harga BBM non-subsidi di dalam negeri tak kunjung turun?

​Pantauan redaksi NETSULSEL..com menunjukkan harga minyak mentah jenis Brent kini nyaman bertengger di kisaran 75-78 dolar AS per barel, turun jauh dari puncak tertingginya saat ketegangan geopolitik memuncak. Kendati demikian, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax series dan Dex series di berbagai SPBU tanah air terpantau masih bergeming.

​Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di balik layar meja regulasi pemerintah? Berikut adalah rasionalisasi logis mengapa penurunan harga minyak dunia tidak serta-merta langsung memotong harga BBM di pompa bensin lokal:

​1. Berkah Selat Hormuz dan Melimpahnya Suplai Global

​Sebelumnya, premi risiko (risk premium) akibat konflik geopolitik membuat biaya logistik minyak meroket. Namun, dibukanya kembali Selat Hormuz secara gratis dan aman membuat jalur distribusi dari negara-negara produsen OPEC kembali normal. Suplai minyak dunia yang terbuka lebar dan lancar inilah yang sukses mendinginkan suhu harga minyak mentah di pasar internasional.

​2. Efek Lag Time (Jeda Kontrak Pembelian

​Satu hal yang perlu dipahami konsumen adalah prinsip kerja stok. Minyak mentah yang diolah dan dijual di SPBU hari ini bukan dibeli kemarin sore, melainkan hasil dari kontrak pembelian berjangka (forward contract) beberapa bulan lalu. Saat kontrak tersebut ditandatangani, harga minyak global masih berada di level tinggi. Pemerintah dan badan usaha membutuhkan waktu transisi untuk menghabiskan stok lama sebelum bisa menerapkan harga berbasis modal baru yang lebih murah.

​3. Tekanan Kurs Rupiah Terhadap Dolar AS

​Meskipun harga komoditas minyak mentah dunia melorot, transaksi internasional tetap menggunakan mata uang Dolar AS. Penguatan Dolar AS terhadap Rupiah akhir-akhir ini menjadi faktor “penjegal”. Keuntungan dari turunnya harga minyak dunia tergerus oleh tingginya biaya konversi mata uang yang harus ditanggung oleh importir minyak kita, termasuk Pertamina.

​4. Skema Evaluasi Formula Harga Berkala

​Berbeda dengan pasar global yang fluktuasinya terjadi setiap detik, penyesuaian harga BBM non-subsidi di Indonesia diatur secara berkala oleh Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM, umumnya dievaluasi setiap tanggal 1 setiap bulannya. Formulanya tidak hanya mengacu pada harga minyak mentah, tetapi juga indeks harga produk olahan di Singapura (MOPS), biaya distribusi, hingga margin perusahaan agar operasional hulu-hilir tetap sehat.

​Pemerintah sendiri menyatakan terus memantau pergerakan pasar global secara berkala. Jika tren penurunan harga minyak dunia akibat kelancaran suplai di Selat Hormuz ini bertahan stabil hingga akhir bulan, masyarakat bisa mengekspektasikan adanya penyesuaian harga baru yang lebih ramah kantong pada awal bulan depan. (ist)