
NETSULSEL | Makassar, Jauh sebelum Pemerintah Kota Makassar mengesahkan kewajiban pemilahan sampah dari sumbernya pada 1 Agustus 2026, warga RT 04/RW 07 Cluster Berlian Permata, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, telah lebih dulu menyemai budaya ramah lingkungan. Berawal dari gerakan swadaya sejak tahun lalu, kawasan ini perlahan bertransformasi menjadi percontohan pengelolaan sampah berbasis kolaborasi warga. Semangat gotong royong ini membuktikan bahwa perubahan besar untuk bumi selalu bisa dimulai dari lingkungan terkecil di sekitar kita.
Keberhasilan gerakan ini tak lepas dari kerja sama solid antara Pengurus RT, Bank Sampah Unit (BSU), pengurus masjid, hingga Kelompok Wanita Tani (KWT). Fasilitas pendukung seperti ember penampung sampah organik di lorong-lorong, dropbox botol plastik, serta komposter daun kering dihadirkan secara bertahap. Edukasi pun digencarkan dari rumah ke rumah, mulai dari pelatihan pembuatan eco-enzyme hingga lomba kebersihan antarblok guna memantik kesadaran kolektif warga secara konsisten.
”Intinya tidak ada yang berjalan sendiri. Semua lembaga kami integrasikan, termasuk kolaborasi dengan kelurahan dan dinas terkait. Pemilahan sampah sebenarnya sudah kami lakukan sejak tahun lalu, di mana tempat kami juga menjadi lokasi belajar bagi peserta pelatihan dari DLH. Dengan kebersamaan seperti itu, program lebih mudah dijalankan,” ujar Nirma Naim Subair, Ketua BSU Cluster Berlian Permata.
Penerapan regulasi Pemkot Makassar sejak awal Agustus pun menjadi penguat akselerasi, terbukti dari melonjaknya volume sampah organik terpilah dari yang tadinya hanya setengah karung kini mencapai dua karung per hari. Meski dihadapkan pada tantangan kapasitas pengolahan yang terbatas, warga tak patah semangat. Sampah anorganik bernilai ekonomis dialirkan ke bank sampah, sementara sisanya diolah menjadi kompos atau disalurkan ke Bank Sampah Pusat (BSP) untuk menjaga lingkungan tetap bersih.
Gerakan di Tamangapa ini menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan lingkungan bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan panggilan kesadaran bersama. Warga terus belajar dan berbenah demi menciptakan sistem pengolahan yang makin ideal. Rasa memiliki terhadap lingkungan yang tinggi menjadi bahan bakar utama yang menjaga napas perubahan ini terus menyala dan menginspirasi wilayah lain di Kota Makassar.
”Kami tidak berani mengatakan sudah sempurna karena masih banyak yang harus dibenahi. Yang terpenting program ini terus berjalan sambil belajar dan terus melakukan edukasi kepada masyarakat,” tutup Nirma dengan optimistis.(qas)















