Di Mata Armin Mustari, Sosok Almarhumah Murtini Soeharto Adalah Seniwati Berjiwa Pengayom dan Sahabat Terbaik

Armin Mustari Topotiri, seniman sekaligus politisi senir Golkar Sulsel merupakan sahabat Alamrhum Murtini Suharto

NETSULSEL | Makassar, Duka mendalam menyelimuti panggung seni dan ruang pergerakan di Sulawesi Selatan. Sosok legendaris yang memadukan keindahan nada, pengabdian negara, dan kehangatan keibuan, Dra. Hj. Murtini Soeharto, telah berpulang ke Rahmatullah pada Rabu (16/9/2026) di kediamannya, Jalan Amirullah Nomor 32, Makassar.

​Bagi tokoh masyarakat Sulawesi Selatan, Armin Mustari Topotiri, kepergian almarhumah bukan sekadar kehilangan seorang figur publik, melainkan berpulangnya seorang pribadi yang amat baik, santun, dan penuh kasih.

Dari Suara Emas Menuju Kedekatan Jiwa

​Kenangan Armin tentang Murtini Soeharto terajut jauh sebelum keduanya bergerak di gelanggang organisasi yang sama. Suara merdu almarhumah saat menyabet gelar Juara Bintang Radio & Televisi Tingkat Nasional untuk kategori Keroncong dan Daerah pada tahun 1975 telah memikat hati publik, termasuk Armin muda.

​Namun, takdir menuntun tali silaturahmi mereka menjadi kian erat saat sama-sama mendedikasikan diri di DPD Golkar Sulawesi Selatan, terutama pada era kepemimpinan almarhum Amin Syam. Di mata Armin, keanggunan seorang seniwati tak pernah luntur meski almarhumah berkiprah di dunia politik.

​”Mula saya kenal beliau sebagai artis penyanyi yang top di masa itu. Kelak saya lebih dekat saat sama-sama menjadi pengurus Golkar Sulsel,” kenang Armin dengan nada penuh penghormatan.

Etos Kerja Tanpa Lelah dan Sosok Ibu Bagi Kader Muda

​Di mata teman sejawatnya, almarhumah adalah cermin kesetiaan dan kedisiplinan. Armin mengenang Murtini sebagai sosok yang sangat rajin menghadiri setiap konsolidasi dan kegiatan organisasi. Tak jarang, almarhumah turun langsung menyusuri daerah-daerah saat masa kampanye, menyapa warga dengan senyuman hangat dan lantunan lagu yang selalu dirindukan penggemarnya.

​Di balik dedikasi dan perjalanan panjangnya—mulai dari kiprahnya di RRI, pengabdian Satyalancana Karya Satia dari Presiden RI, hingga penghargaan Celebes Award—sifat rendah hati Murtini justru menjadi daya pikat utama. Armin menyaksikan sendiri bagaimana almarhumah berdiri sebagai sosok pengayom yang senantiasa menuntun kader-kader muda, khususnya kaum perempuan.

​Bersama sejawatnya, Bunda Munasiah Najamuddin—mahakarya pencipta tari tradisional Sulsel—almarhumah merajut harmoni antara seni, perjuangan gender, dan pengabdian masyarakat.

​”Setahu saya almarhumah sangat rajin menghadiri rapat-rapat dan kegiatan. Di daerah-daerah punya banyak penggemar. Pribadi almarhumah adalah pengayom bagi kader yang muda-muda, khususnya kader perempuan,” tutur Armin.

​Kini, nada instrumen keroncong yang dulu digelorakannya mungkin telah hening, dan langkah kakinya di Jalan Amirullah telah terhenti. Namun, jejak kebaikan, kehangatan, dan keteladanan Hj. Murtini Soeharto akan terus bertengger abadi di ingatan orang-orang yang pernah tersentuh oleh kebaikan hatinya. Selamat jalan, Sang Seniwati Pengayom.(ita)