Menembus Mesin Waktu: Tren Nostalgia Gaya Hidup Retro dan Kilas Balik Masa SMA Warga Sulawesi Selatan

Ada yang berbeda dari linimasa media sosial warga Sulawesi Selatan belakangan ini. Alih-alih dipenuhi swafoto kasual ala masa kini, beranda Instagram dan TikTok justru diramaikan oleh deretan potret lawas berbalut estetika dekade silam. Mulai dari gaya rock and roll era 80-an yang garang, celana cutbray atau yang akrab disebut warga lokal sebagai celana "yalle-yalle", hingga yang paling mutakhir: potret diri dalam balutan seragam putih abu-abu masa SMA lengkap dengan atribut tempo dulu.

NETSULSEL | Makassar, Ada yang berbeda dari linimasa media sosial warga Sulawesi Selatan belakangan ini. Alih-alih dipenuhi swafoto kasual ala masa kini, beranda Instagram dan TikTok justru diramaikan oleh deretan potret lawas berbalut estetika dekade silam. Mulai dari gaya rock and roll era 80-an yang garang, celana cutbray atau yang akrab disebut warga lokal sebagai celana “yalle-yalle”, hingga yang paling mutakhir: potret diri dalam balutan seragam putih abu-abu masa SMA lengkap dengan atribut tempo dulu.

​Fenomena ini bukan sekadar ikut-ikutan tren digital. Bagi masyarakat urban di Makassar, Gowa, hingga Maros, mengedit foto menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) atau aplikasi penyunting gambar telah menjelma menjadi sebuah ritual pelarian estetis yang menyenangkan. Tren ini merayakan memori kolektif, merajut kembali kehangatan masa muda, sekaligus menjadi wadah ekspresi diri yang kreatif.

out fit kostum SMA ala AI
​Estetika Klasik yang Kembali Hidup

​Kecintaan terhadap gaya vintage seolah menemukan momentumnya. Di salah satu sudut kafe di bilangan Boulevard, Makassar, Andi Tenri (28) tampak asyik menunjukkan hasil edaran foto dirinya bergaya rock star 80-an dengan jaket kulit usang dan rambut bervolume kepada rekan-rekannya.

​”Rasanya seperti hidup di era ketika musik rock klasik mendominasi radio dan kaset pita. Memakai gaya yalle-yalle dan jaket kulit bikin kita merasa punya jiwa pemberontak yang elegan. Ini bukan cuma soal tren foto, tapi cara kita merayakan estetika masa lalu yang tak lekang oleh waktu,” ujar Tenri sambil tersenyum.

Tak hanya gaya rock and roll, gelombang nostalgia juga merambah ke era sekolah menengah atas. Tren menggunakan kostum seragam SMA jadul—lengkap dengan potongan tas ransel lawas dan latar foto studio era 90-an—menjadi cara ampuh bagi generasi dewasa muda untuk bernostalgia mengenang masa-masa paling bebas dan jujur dalam hidup mereka.

​Mengobati Rindu Lewat Sentuhan Digital

​Pakar budaya populer melihat tren ini sebagai bentuk respons psikologis masyarakat terhadap dinamika digital yang serba cepat. Di tengah rutinitas harian yang menuntut produktivitas tinggi, memori masa lalu menawarkan zona nyaman yang menenangkan.

​”Gaya hidup digital hari ini sangat instan. Ketika warga Sulsel mengangkat kembali estetika masa lalu lewat foto vintage atau seragam SMA, mereka sedang mencari emotional grounding. Ada kerinduan akan kesederhanaan hidup sebelum era gawai mendominasi,” ungkap sosiolog media setempat.

Bagi warga Sulawesi Selatan yang dikenal memiliki ikatan sosial yang kuat, tren ini juga menjadi bahan obrolan hangat yang mencairkan suasana di grup WhatsApp keluarga maupun komunitas pertemanan. Komentar-komentar bernada canda tawa mengenai gaya rambut jadul atau celana gombrong khas yalle-yalle sukses menciptakan koneksi emosional yang erat antar-generasi.

​Pada akhirnya, tren mengubah foto menjadi gaya retro membuktikan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk dikemas ulang dalam balutan teknologi, merayakan kenangan indah, dan hidup kembali di masa kini. (ita)