NETSULSEL | Makassar, Sebuah terobosan gemilang lahir dari rahim akademisi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Melalui riset mendalam yang dipublikasikan pada Journal of Social Studies Education Research (Juni 2026), tim dosen Program Studi Pendidikan Sosiologi Unismuh menawarkan sebuah mahakarya berupa model tata kelola berbasis digital. Inovasi ini dirancang khusus untuk memperkuat pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di perguruan tinggi Indonesia, mengubah dokumen kebijakan yang kaku menjadi pelindung nyata bagi seluruh civitas akademika.
Dipimpin oleh Suardi bersama rekan-rekannya—Rahmat Nur, Nursalam, Herdianty Ramlan, Indah Ainun Mutiara, dan Hasruddin Nur—riset bertajuk “Strengthening Campus Governance to Prevent Sexual Violence” ini membawa misi mulia. Mereka menyadari bahwa dokumen di atas kertas atau sekadar pembentukan Satuan Tugas (Satgas) tidaklah cukup. Kampus membutuhkan sebuah sistem yang hidup, responsif, transparan, dan yang paling utama: berpihak sepenuhnya pada penyintas. “Pencegahan tidak boleh berhenti pada dokumen kebijakan. Di sinilah teknologi digital hadir memperkuat akuntabilitas,” ujar Suardi dengan penuh optimisme, Rabu (1/7/2026).
Melalui metode riset yang kokoh melibatkan 732 responden dan 30 informan kunci, tim peneliti berhasil menguji sembilan komponen tata kelola digital. Hasilnya luar biasa memukau: mayoritas warga kampus mendambakan sentuhan teknologi ini, di mana 62,45% sangat mendukung dokumentasi kebijakan digital dan lebih dari 50% menyambut hangat kehadiran aplikasi pelaporan daring. Statistik bahkan membuktikan bahwa komponen digital ini mampu mendongkrak efektivitas kelembagaan hingga 40,3%, sebuah angka yang menjadi bukti otentik bahwa masa depan kampus yang aman ada di tangan transformasi digital.
UnismuhMakassar, RisetUnismuh, TataKelolaDigitalKampus, PendidikanSosiologiUnismuh, KampusAman, CegahKekerasanSeksual, PerlindunganPenyintas, SatgasPPKS, InovasiPendidikan, TransformasiDigitalKampus, SDGs2030, JurnalInternasional,
Menariknya, riset ini membongkar fakta bahwa fitur digital yang interaktif jauh lebih berdampak ketimbang informasi satu arah seperti webinar atau unggahan dokumen pasif. Sistem e-konseling, kanal umpan balik daring, dan dasbor digital Satgas menjadi tiga pilar paling kuat yang memicu rasa aman. Fitur-fitur ini menjadi oase bagi para penyintas yang sering kali terbelenggu rasa takut, stigma, atau trauma, karena menyediakan ruang pertolongan yang rahasia, cepat, tertib, dan bebas dari penghakiman.
Melalui model tiga domain yang ditawarkan—mulai dari pelaporan berbasis web, koordinasi lintas unit lewat dasbor Satgas, hingga pemulihan berpusat pada korban—riset ini sukses menggeser paradigma lama. Unismuh Makassar mengajak perguruan tinggi di Indonesia bergerak dari sekadar “formalitas mematuhi aturan” menuju “aksi nyata perlindungan yang terukur”. Ukuran keberhasilan kampus masa kini bukan lagi seberapa tebal buku regulasinya, melainkan seberapa aman dan percayanya warga kampus saat mereka membutuhkan pertolongan.
Langkah brilian ini sekaligus menjadi bukti nyata kontribusi aktif Unismuh Makassar dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) PBB 2030. Inovasi ini menyentuh lima poin krusial sekaligus, mulai dari kehidupan sehat dan kesehatan mental (SDG 3), pendidikan berkualitas yang inklusif (SDG 4), kesetaraan gender (SDG 5), pengurangan kesenjangan bagi kelompok rentan (SDG 10), hingga terciptanya kelembagaan kampus yang tangguh dan berkeadilan (SDG 16).
Dari riset yang memukau ini, Unismuh Makassar mengirimkan pesan yang menggetarkan dunia pendidikan tinggi: kampus yang aman dan bermartabat tidak dibangun hanya dengan tumpukan aturan, melainkan dengan sistem digital yang bekerja, manusia yang siap bergerak, dan budaya kelembagaan yang tulus memeluk keselamatan manusianya. Sebuah inspirasi nyata bahwa teknologi, jika diletakkan di tangan yang tepat dengan empati yang tinggi, mampu menjadi benteng pelindung kemanusiaan paling kokoh di era modern.(ist)










