NETSULSEL | Jakarta, Niat mulia berujung senam jantung. Itulah nasib apes yang sedang dialami oleh ratusan pemilik (owner) dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Gara-gara proyek dapur mereka tak kunjung dioperasikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN), para pengusaha ini terpaksa menggelar aksi demo di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selama sepekan ini.
Bukan cuma menuntut program segera berjalan, mereka juga curhat colongan karena hidupnya kini diteror abang-abang penagih utang.
Dapur Tak Kunjung Masak, Utang Sudah Keburu Menumpuk
Ketua Asosiasi Pangan Gizi Indonesia Daerah 3T (APGI 3T), Herwil Junaidi Harefa, mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada sekitar 6.000 dapur MBG yang berdiri megah di daerah pelosok. Tragisnya, ribuan dapur itu cuma jadi pajangan estetik karena belum ada lampu hijau untuk mulai masak.
Padahal, sebanyak 645 dapur sudah telanjur menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan BGN. Fasilitasnya pun sudah lengkap kap-kap, tinggal nunggu bahan baku masuk saja.
”Sampai sekarang, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kami itu terbengkalai. Jangankan buat masak, buat jaga malam, bayar internet, sampai bayar listriknya aja kami masih harus nomok pakai duit sendiri!” curhat Herwil di tengah teriknya matahari Jakarta.
Modal Miliaran Hasil Pinjol Jalur Darat (Alias Rentenir)
Usut punya usut, modal bikin satu dapur di daerah 3T itu ternyata setara dengan harga rumah mewah di cluster elite, yaitu berkisar antara Rp 1,5 Miliar hingga Rp 2 Miliar. Sialnya lagi, para investor membangun dapur-dapur tersebut bukan pakai duit warisan, melainkan modal nekat pinjam ke bank… dan jalur ekspres alias rentenir.
Karena proyek ini macet total selama 8 bulan, otomatis para pemilik dapur gak punya pemasukan buat nyicil. Alhasil, rumah mereka kini mendadak ramai dikunjungi tamu-tamu tak diundang berbadan kekar.
”Kami sudah 8 bulan tidak berjalan. Kami ditagih-tagih oleh perbankan, kami ditagih oleh rentenir, kami ditagih karena belum bayar utang!” kata Herwil dengan nada frustrasi.
”Kalau Negara Ribet, Balikin Aja Duit Kami!”
Jika ditotal, kerugian dari 6.000 dapur yang menganggur ini bisa mencapai triliunan rupiah. Merasa sudah berada di ujung tanduk dan lelah bersembunyi dari kejaran debt collector, APGI 3T pun memberikan opsi pasrah kepada pemerintah.
”Kami tidak menuntut banyak. Kalau memang ini sulit untuk negara, kembalikan saja dana kami, nggak usah kami melaksanakan ini lah, biar negara saja yang menjalankan,” ketusnya.
Meski posisinya sudah dikepung tagihan yang lebih serem dari film horor, Herwil mengaku masih mencoba sabar. Mereka belum berniat membawa masalah ini ke meja hijau karena masih percaya jalur dialog damai dengan Presiden dan pimpinan BGN bisa mencairkan suasana—sekaligus mencairkan anggaran.
Netizen pun cuma bisa mendoakan, semoga urusan dapur ini cepat kelar sebelum abang rentenir datang membawa truk sitaan.(ita)







