NETSULSEL | Makassar, Panggung opera politik Sulawesi Selatan tidak pernah digerakkan oleh sekadar kalkulasi angka di atas kertas. Di tanah para pelaut ulung ini, kekuasaan adalah sebuah dialektika simbol, sebuah permainan rasa yang dibaca lewat arah mata angin, ketajaman badik, dan keteguhan prinsip Siri’ na Paccé.
Sikap resmi DPD II Golkar Pinrang di bawah kendali Usman Marham Selasa (07/0726) kemarin, akhirnya melabuhkan dukungan kepada Ilham Arief Sirajuddin (IAS) pada Musda XI Golkar Sulsel yang memastikan akan memilih Ketua baru. Ini bukan sekadar urusan serah-terima kertas rekomendasi di Rumah Makan Bahari. Ini adalah sebuah deklarasi kultural, Sebuah momentum politik yang dibungkus dengan sandi-sandi filosofi kuno yang mendalam.
Dari Keris Muhidin ke Gelang Kura-Kura IAS, Menjinakkan Badik yang Terhunus
Dalam jagat spiritualitas Bugis-Makassar, senjata tajam seperti Keris atau Badik bukan sekadar alat pemotong atau penusuk, melainkan juga merupakan senjata kebudayaan. Badik adalah simbol Siri’ (harga diri/martabat). Sekali ia keluar dari sarungnya (tappi), pantang untuk kembali sebelum menuntaskan urusan.

Ketika Usman Marham menyerahkan sebuah pusaka keris kepada Plt Ketua DPD I Golkar Sulsel, Muhidin M. Said, dalam konsolidasi di Pinrang sebelumnya, itu adalah simbol spiritualitas, keberanian, dan kebijaksanaan. Keris itu diserahkan sebagai permohonan agar pusat kekuasaan (Plt Ketua) mampu bertindak sebagai “Pawang”, meredam riak-riak badik faksionalisme yang sempat menegang di internal Beringin Sulsel, lalu menyatukannya kembali dalam satu kekuatan kolektif.
Tak hanya Muhidding yang menerima badik, juga 8 Ketua DPD II Golkar didaerah pemilihan dapil 3 seperti Sidrap, Enrekang Tana Toraja, Luwu Raya serta Palopo juga menerima badik dari Usman. Maknanya juga sama para Pemimpin Golkar didaerah ini mampu menyatukan prinsip dan ambisi politik untuk kepentingan partai dimasa datang.
“badik tak hanya pesan filosofi, tapi makna politisnya singkirkan ego masing-masing dan bekerjalah untuk kepentingan bersama dalam mebesarkan partai Golkar untuk menghadapi segala dinamika dimasa datang” jelas Usman saat itu.
Namun, ketika konsolidasi tercapai dan peta suksesi mulai mengerucut, Usman Marham memainkan simbol yang sama sekali berbeda saat menyerahkan rekomendasi kepada IAS. Bukan senjata tajam yang ia berikan, melainkan sebuah Gelang Kura-Kura Berwarna Kuning.
Filosofi Kura-Kura Kuning: Ketahanan, Langkah Terukur, dan Kejayaan
Mengapa kura-kura? Di sinilah letak kecerdikan geopolitik Usman Marham, seorang politisi yang oleh kadernya disebut “mampu melihat momentum dan membaca arah mata angin”.

Secara kosmologis, kura-kura adalah perlambang dari empat pilar utama,
Umur Panjang & Ketahanan (Lifespan & Resilience): Menandakan bahwa perjuangan mengembalikan kejayaan Golkar Sulsel bukan tentang siapa yang melompat paling cepat, melainkan siapa yang bertahan paling lama dalam badai politik.

Kebijaksanaan Langkah: Kura-kura bergerak lambat namun pasti, tidak ceroboh, dan selalu melindungi bagian vitalnya di bawah cangkang yang keras—sebuah otokritik bagi politisi yang kerap grusa-grusu.
Warna Kuning Golkar: Warna yang melambangkan kemakmuran dan misi sakral untuk merebut kembali tahta emas yang hilang: kursi Ketua DPRD Sulsel.
Wakil Ketua Bidang Kaderisasi Golkar Pinrang, Hastan Mattanete, menegaskan bahwa gelang ini adalah jangkar komitmen. Ketika IAS menerima gelang tersebut, ia tidak sedang menerima perhiasan, melainkan menerima “beban sejarah” untuk membawa bahtera Beringin berlayar dengan ketahanan laksana kura-kura, namun memiliki ketajaman eksekusi laksana badik yang tersembunyi di balik pinggang.
Doktrin Karya, Tegak Lurus Kosmos DPP
Langkah politik Pinrang yang baru bergerak setelah mendapat arahan DPP dan Pleno Internal menunjukkan kepatuhan pada hierarki tinggi. Dalam falsafah Bugis, ini disebut Sitinaja (kepatutan/proporsional). Usman Marham, sebagai kader tulen dua periode di DPP, paham betul kapan harus diam mematangkan strategi, dan kapan harus menghujamkan keputusan.
Ia melepaskan kenyamanan ibu kota, kembali ke daerah demi merapikan barisan bawah, karena ia tahu: struktur partai tidak bisa digerakkan hanya dengan retorika, melainkan dengan doktrin “Karya dan Kekaryaan”, tindakan nyata yang berkelanjutan.
Pengalaman Usman dalam karir politiknya di Partai Golkar tidak seindah sangkaan, sarat perjalanan berat dan sukses membangun marwah partai. Usman sudah pernah menjadi pengurus inti DPP Partai Golkar Pusat, setelah itu ia hijrah ke pengurus DPD I Partai Golkar Sulsel dan berakhir menahkodai Partai Golkar Pinrang. Yang menarik dari olah pikiran dan tindakannya di Pinrang, Usman sukses meningkatkan jumlah kursi partai diparlemen dari 6 kursi menjadi 8 kursi saat ini.
Membedah potensi Usman untuk Sulsel
Usman tak hanya dikenal sebagai politisi yang matang membaca arah mata angin dan piawai mengubah kemudi kapalnya dengan tenang dan cerdas, namun juga dikenal sebagai pebisnis ulung yang mahir dengan lobi-lobi tingkat tinggi maupun lobi receh kelas sosial terbawah. Tak heran untuk struktur organisasi DPD I Sulsel, kabar beredar namanya disebut-sebut akan menjabat sebagai bendahara Partai kelak.
“Sayang jika menjabat bendahara, kapasitas, kapabilitas dan pengalamannya yang tinggi dengan kemampuan komunikasi politiknya yang unggul, Usman lebih cocok mengatur manajemen organisasi golkar sulsel melalui jabatan sekertaris” kata salah satu kader beringin yang malu mengungkap namanya.
“Usman memilik kelebihan lain dibanding dengan nama-nama besar yang sering disebut-sebut akan menjabat sekertaris golkar. Komitmennya tak diragukan, dan karakternya tegak lurus terhadap partai dijamin bisa membantu Ketua baru kelak membesarkan organisasinya” tambah orang ini.
Catatan Akhir: Menanti Sang Pemimpin yang ‘Mappasitinaja’
Penyerahan rekomendasi kepada IAS yang dibungkus simbol gelang kura-kura kuning ini mengirimkan pesan filosofis yang benderang ke seluruh penjuru Sulawesi Selatan: Siapapun yang ingin memimpin Golkar Sulsel, ia harus memiliki kekuatan spiritual sekokoh Keris, memiliki ketahanan hidup setangguh Kura-Kura, dan jika situasi memaksa, memiliki keberanian bertindak setajam Badik.
Kursi Ketua DPRD Sulsel adalah buruan utama. Dan dari Pinrang, arah mata angin itu kini telah ditiupkan. (ita)










