
NETSULSEL | Angers, Prancis, Universitas Hasanuddin (Unhas) tampil sebagai aktor utama dalam Joint Working Group (JWG) ke-14 Indonesia–Prancis bidang Pendidikan Tinggi, Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan yang berlangsung di Angers, Prancis. Acara yang digelar pada 1–3 Juli 2026 ini mempertemukan 350 peserta dari 38 perguruan tinggi negeri Indonesia dan 58 universitas Prancis. Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. (Prof. JJ), memimpin langsung delegasi Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN) Indonesia sekaligus menjadi narasumber pada lokakarya maritim.
Kehadiran Unhas di forum ini membawa perspektif krusial mengenai pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan dan ekonomi biru di kawasan Indo-Pasifik. Berpasangan dengan pakar internasional dari ENSTA dan Naval Group, Prof. JJ menekankan bahwa tantangan global modern hanya bisa diselesaikan melalui sinergi antarnegara.
“Forum ini menunjukkan bagaimana riset modern semakin menuntut kolaborasi lintas negara. Tantangan seperti transisi energi, kecerdasan buatan, keamanan siber, hingga teknologi nuklir tidak mungkin diselesaikan oleh satu institusi atau satu negara saja,” ujar Prof. JJ dalam presentasinya.
Tak sekadar berdiskusi, Unhas memanfaatkan momentum ini untuk memperluas jaringan internasional secara konkret. Salah satu capaian strategis yang berhasil diraih adalah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan IMT Atlantique, sebuah institusi teknik terkemuka di Prancis. Kerja sama ini membuka peluang besar untuk riset bersama, pertukaran akademisi, hingga pengembangan teknologi yang dapat memberikan dampak dan solusi nyata bagi masyarakat luas.
Selain itu, Unhas secara konsisten mendorong penguatan konsep triple helix—kolaborasi antara universitas, pemerintah, dan industri—demi mempercepat hilirisasi riset di Indonesia. Prof. JJ menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi program-program akademik yang lebih progresif dan berdaya saing internasional.
“Karena itu, kami mendorong lahirnya kesepakatan untuk penguatan program gelar ganda atau double degree, doktor dengan bimbingan bersama atau joint supervision, pertukaran mahasiswa dan peneliti, serta pembangunan laboratorium dan pusat inovasi bersama,” tambahnya.
Kabar paling membanggakan muncul di penghujung forum, di mana Universitas Hasanuddin resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Joint Working Group Indonesia–Prancis edisi berikutnya pada tahun 2028. Penunjukan ini menegaskan bahwa pusat kerja sama ilmu pengetahuan internasional kini mulai bergeser ke Indonesia Bagian Timur. Menanggapi pencapaian luar biasa tersebut, Rektor Unhas menyambutnya dengan optimisme besar, “Ini bukti pengakuan global terhadap kapasitas Unhas dan Makassar.” (ist)









