NETSULSEL | Makassar, Kalau pepatah bilang “Rumahku adalah Surgaku”, bagi pasangan suami istri di Jalan Manuruki ini, indahnya rumah tangga mendadak berubah jadi film horor berdarah-darah. Gara-gara tidak bisa mengontrol emosi yang setipis tisu dibagi dua, Suharmin (24) sukses menjadi “aktor utama” dalam acara nonton bareng (nobar) rekonstruksi pembunuhan istrinya sendiri, Alda Nurul Alfia (24).

Tak tanggung-tanggung, Unit Reskrim Polsek Tamalate menyuguhkan 16 adegan langsung dari dalam Mako Polsek pada Senin Siang (13/07/2026). Penontonnya pun VIP, mulai dari Jaksa Penuntut Umum, Tim Inafis, sampai Penasehat Hukum yang cuma bisa geleng-geleng kepala.
Berawal Cekcok, Berakhir Gergaji Leher
Mari kita flashback ke hari Minggu kelabu, (14/06/26) sekitar pkl.22.00 wita. Di dalam kamar kost yang harusnya jadi tempat keluh kesah sepulang kerja, pasutri muda ini malah adu mulut. Entah apa yang diributkan, yang jelas Suharmin langsung gagal fokus dan mendadak amnesia kalau yang di depannya adalah istri tercinta, bukan ayam potong.
Alih-alih menenangkan diri dengan minum air putih, Suharmin malah cosplay jadi jagoan dengan membuka lemari, mengambil sebilah badik, dan maaf jangan ditiru menggorok leher istrinya berulang kali sampai bersimbah darah.
Aksi Kabur yang Kurang Estetik
Usai melancarkan aksi setannya, Suharmin panik. Dia langsung mengambil langkah seribu alias kabur. Tapi, namanya juga penjahat amatir, pelariannya bukannya ke luar kota, melainkan ke rumah keluarganya yang jaraknya cuma selemparan batu dari TKP.
Lebih plot twist lagi, dia menemui bapak kandungnya, Samsuni, yang saat itu sedang asyik menidurkan cucunya (anak pelaku). Dengan santainya, seolah-olah habis memecahkan piring tetangga, Suharmin melapor:
”Pak, saya habis bunuh istriku

“Bisa dibayangkan bagaimana syoknya sang bapak, yang lagi nimbang cucu malah dapat laporan anaknya baru saja mendaftar jadi calon penghuni hotel prodeo.
16 Adegan yang Bikin Pelaku Auto-Insaf
Dalam rekonstruksi yang dipimpin langsung oleh Kanit Reskrim Polsek Tamalate, Iptu Abdul Latif, S.Sos, Suharmin dipaksa memperagakan kembali seluruh detail kelakuannya. Mulai dari gaya pas lagi berantem, momen dia mengambil badik di lemari, eksekusi berdarah, sampai caranya ngibrit dari TKP. Semuanya diperagakan dengan lancar, tanpa perlu latihan akting.
”Kami peragakan sebanyak 16 adegan untuk mencocokkan keterangan tersangka dengan alat bukti. Jangan sampai dia ngaku khilaf, padahal niat,” sindir Iptu Abdul Latif dengan gaya tegasnya.
Komentar Pak RT, “Makanya, Kalau Marah Istighfar!”
Tragedi berdarah di lingkungan kos-kosan ini tentu saja bikin geger warga sekitar. Ketua RT setempat, M. Muzakar, hanya bisa menghela napas panjang melihat warganya yang lebih memilih menyelesaikan masalah pakai badik ketimbang musyawarah warga.
”Semoga polisi bisa usut sampai sedetail-detailnya. Biar dihukum setimpal. Lagian, jaman sekarang kok masih main gorok-gorokan,” gerutu Pak RT kesal.
Kini, berkas perkara Suharmin sedang dirapikan oleh penyidik untuk segera dilempar ke Kejaksaan. Suharmin pun kini punya banyak waktu di dalam sel untuk merenungi nasibnya, sembari belajar caranya mengontrol emosi tanpa harus melibatkan senjata tajam. (ita/Syamsul)















