Drama Musda Golkar Sulsel, Appi Mundur, Jalan Lapang IAS terhadang Revolusi Prosedur Panitia.

sketsa dengan imajinasi AI

Drama Musda Golkar Sulsel, Appi Mundur, Jalan Lapang IAS terhadang Revolusi Prosedur Panitia.

​NETSULSEL | Makassar, Tensi politik menjelang Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Sulawesi Selatan 2026 panas air didalam ketel yang fluktuatif. Peta persaingan berebut kursi nomor satu di partai beringin Sulsel ini berubah drastis setelah salah satu kandidat kuat, Munafri Arifuddin (Appi), dipastikan angkat kaki dari gelanggang pertarungan.

​Mundurnya Appi secara otomatis membentangkan karpet merah bagi mantan Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), untuk melenggang sebagai calon tunggal. Kendati demikian, jalan IAS menuju kursi ketua dipastikan tidak akan semulus perkiraan tim pemenangannya.

​Poin Ganjalan Berkas, Alasan di Balik Mundurnya Appi
​Kabar mengejutkan mengenai mundurnya Appi justru pertama kali mengudara melalui jagat maya. Melalui perwakilannya, Zulkarnain Arief (Ketua DPD II Golkar Takalar), pihak Appi memilih untuk tidak mengembalikan formulir pendaftaran hingga batas waktu yang ditentukan.

​Usut punya usut, kubu Appi tersandung oleh ketatnya regulasi internal panitia. Dari 13 syarat ketat yang dirilis, Poin 7 menjadi batu sandungan utama yakni kewajiban melampirkan fotokopi sertifikat atau piagam kaderisasi resmi yang diterbitkan langsung oleh Partai Golkar.

​Eforia Tim IAS dan Desakan “Aklamasi” di Warung Kopi
​Mundurnya Appi langsung disambut eforia oleh tim pemenangan IAS. Mereka menilai mundurnya Appi sebagai langkah realistis akibat melemahnya political power sang rival di akar rumput maupun di tingkat elite pusat.

​Melihat situasi di atas angin, kubu IAS pun gencar menyuarakan skenario Aklamasi. Wacana ini ditiupkan secara masif mulai dari diskusi warung kopi, grup-grup WhatsApp, hingga perdebatan hangat di media sosial. Mereka berharap IAS bisa langsung diketuk sebagai ketua tanpa perlu melalui proses yang berbelit-belit.

​Panitia Menolak Halus: Jangan Intervensi, Ikuti Prosedur
​Namun, keinginan menggebu-gebu dari tim IAS tersebut langsung mendapat respons dingin dari pihak penyelenggara. Panitia Penjaringan menilai manuver kubu IAS terlalu berlebihan dan terkesan ingin mengintervensi jalannya mekanisme partai.

​Ketua Steering Committee (SC) Musda XI Golkar Sulsel, Armin Mustari Topotiri, menepis anggapan bahwa status calon tunggal otomatis membuat IAS bisa melompati aturan. Dengan tegas namun halus, politisi senior Golkar ini mengingatkan semua pihak untuk menghormati tahapan yang ada.

​”Biarkan panitia bekerja. Status IAS saat ini baru sah sebagai calon ketua, bukan berarti prosesnya selesai. Masih ada beberapa tahapan krusial yang harus dilalui hingga tahap pemilihan nanti,” ujar Armin tegas.

​Mekanisme Ketat Juklak 02/2025: Aklamasi Ada Syaratnya
​Armin memaparkan bahwa berdasarkan Juklak 02/2025, status IAS sebagai calon tunggal tetap harus melewati verifikasi faktual dan keabsahan berkas di dalam forum Musda oleh pimpinan sidang, bukan ditentukan sekonyong-konyong di luar arena oleh tim sukses.

​Terkait mekanisme pemilihan, panitia menegaskan aturan main yang tidak bisa ditawar:

Skenario Pemungutan Suara: Jika ada lebih dari satu calon dan tidak ada yang mencapai suara 50\% + 1, maka dilakukan voting suara terbanyak.

​Skenario Aklamasi: Aklamasi baru dinyatakan sah secara hukum partai JIKA calon tunggal tersebut terbukti secara de facto mengantongi dukungan resmi minimal 50\% + 1 dari total pemilik suara sah saat verifikasi di forum.

​Musda XI Golkar Sulsel memang diprediksi akan berjalan sukses meski hanya diikuti calon tunggal. Namun, dinamika ini menjadi bukti bahwa di dalam partai beringin, karpet merah sekalipun tetap harus dihamparkan di atas rel konstitusi partai yang ketat.