
NETSULSEL | Lampung, Ketika penantian panjang akan janji pembangunan tak kunjung berbuah hasil, warga Dusun 15 dan Dusun 16, Desa Bandar Agung, Lampung Timur, memilih untuk berhenti menunggu. Mereka enggan membiarkan asa melintas di atas jalan yang rusak. Merekalah yang akhirnya melangkah maju, memegang teguh warisan terbesar bangsa: gotong royong.
Tanpa menyentuh sepeser pun anggaran pemerintah, sebuah gerakan swadaya lahir murni dari ketulusan dan kepedulian warga.
Dari Inisiatif Pemuda Menjadi Gerakan Bersama
Percikan semangat ini bermula dari pemuda lokal yang tergabung dalam Garda Ngogosari. Gelisah melihat akses mobilitas tempat tinggal mereka yang tak kunjung tersentuh perbaikan, para pemuda ini mencetuskan ide berani: membangun jalan sendiri.
Ide tersebut tak bertepuk sebelah tangan. Rencana ini didukung penuh oleh seluruh warga desa. Tokoh masyarakat Dusun 15, Rahmat Suwondo, menuturkan betapa kuatnya keikhlasan yang mengalir di tengah masyarakat.
”Ini murni inisiatif pemuda Dusun 15 yang diprakarsai Garda Ngogosari dan didukung masyarakat. Setiap musyawarah saya selalu sampaikan, ini murni keikhlasan warga untuk membangun lingkungan yang lebih baik,” ungkap Rahmat.
Ketukan Pintu, Patungan Rezeki, dan 2 Kilometer Ketangguhan
Satu per satu pintu rumah diketuk. Sumbangan sukarela dikumpulkan tanpa paksaan—mulai dari Rp100.000 hingga Rp250.000 per kepala keluarga, disesuaikan dengan kemampuan tiap warga. Tidak ada nominal yang terlalu kecil, sebab yang dipertaruhkan adalah masa depan akses ekonomi dan mobilitas anak-cucu mereka.
Dari target jalan penghubung antar-dusun sepanjang 4 kilometer, ketangguhan warga telah membuktikan hasilnya: 2 kilometer jalur kini sudah selesai dicor beton kokoh. Sisa jalur yang ada siap mereka selesaikan secara bertahap, beriringan dengan kekuatan finansial warga. Sariman, salah seorang warga yang bahu-membahu menumpahkan adukan semen di lapangan, membagikan kesaksian betapa hangatnya rasa persaudaraan di sepanjang jalur tersebut.
”Ini murni dari masyarakat, gotong royong. Setiap rumah ikut berpartisipasi sesuai kemampuan masing-masing. Yang terpenting kami punya semangat yang sama, yakni ingin memiliki jalan yang lebih baik,” cerita Sariman penuh haru.
Berhenti Menunggu, Mulai Melangkah
Bagi warga Desa Bandar Agung, bertahun-tahun menunggu dalam ketidakpastian bukanlah alasan untuk terus meratap. Mereka enggan membiarkan jalan melintas makin hancur hingga melumpuhkan aktivitas sehari-hari.
Aksi nyata warga Dusun 15 dan 16 di Kecamatan Sribawono ini menjadi cermin sekaligus bukti nyata: ketika kepedulian bersatu dan keberanian mengambil alih, keterbatasan bukanlah penentu takdir. (aso)





