Kenapa Luwu Hujan dan Watampone Gerimis Saat Kemarau Panjang? Ini Penjelasan BMKG

BMKG Wilayah IV Makassar menjelaskan bahwa fenomena hujan di Luwu dan gerimis di Watampone di tengah musim kemarau merupakan hal yang wajar secara teknis meteorologi. Sulawesi Selatan memiliki karakteristik unik dengan 24 zona musim yang bervariasi karena faktor topografi wilayah.

NETSULSEL | Makassar, Angin segar menghampiri warga Sulawesi Selatan. Di tengah bayang-bayang kemarau panjang dan kondisi El Nino yang memicu kekeringan, hujan terbukti mulai menyapa beberapa wilayah. Wilayah Belopa dan Suli di Kabupaten Luwu akhirnya diguyur hujan deras, sementara Kota Watampone di Kabupaten Bone turut merasakan rintik gerimis yang membasahi bumi.

​Kehadiran tetesan air dari langit ini disambut penuh rasa syukur oleh masyarakat. Dampak kemarau beberapa bulan terakhir tidak hanya mengeringkan lahan pertanian, tetapi juga melambungkan harga komoditas pangan seperti cabai yang menembus angka Rp 95 ribu per kilogram akibat banyak tanaman petani yang mati. Hujan perdana ini seolah menjadi penawar dahaga bagi para petani yang sawahnya sempat kering kerontang.

​BMKG Wilayah IV Makassar menjelaskan bahwa fenomena hujan di Luwu dan gerimis di Watampone di tengah musim kemarau merupakan hal yang wajar secara teknis meteorologi. Sulawesi Selatan memiliki karakteristik unik dengan 24 zona musim yang bervariasi karena faktor topografi wilayah.

​Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Amhar Ulfiana, membeberkan bahwa wilayah utara Sulsel seperti Luwu Raya memang memiliki curah hujan yang lebih tinggi dibanding wilayah barat meski sama-sama berada di periode kemarau. Selain itu, pemicu utama datangnya hujan kali ini adalah dinamika atmosfer regional.

​”Meskipun saat ini ada kondisi El Nino sangat kuat yang berpengaruh pada penurunan curah hujan, namun Gelombang Rossby dan Kelvin sedang aktif di Sulsel yang mendukung terjadinya hujan di sebagian wilayah,” jelas Amhar.

​Aktivitas gelombang atmosfer inilah yang membawa kelembapan ekstra hingga mampu membentuk awan hujan lokal di Luwu dan memicu gerimis di Watampone. Meski curah hujan belum merata di seluruh daerah, warga berharap fenomena ini menjadi awal membaiknya pasokan air dan mulainya pemulihan sektor pertanian di Sulawesi Selatan. (duppa)