NETSULSEL | Makassar, Ada yang beda saat merapatkan sarung atau menarik selimut di Kota Makassar dan sekitarnya belakangan ini. Terik menyengat di siang hari seketika berganti menjadi hembusan angin malam yang menusuk tulang, terutama menjelang subuh hingga pagi hari.
Sensasi dingin di tengah puncak musim kemarau ini bukan hal gaib, melainkan fenomena klimatologi tahunan yang dikenal luas dengan sebutan bediding.

Fenomena bediding terjadi ketika wilayah Benua Australia sedang mengalami musim dingin. Angin Monsun Timur membawa massa udara yang dingin dan kering melintasi wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Sulawesi Selatan. Minimnya tutupan awan di musim kemarau membuat radiasi panas bumi terlepas cepat ke angkasa pada malam hari, menyebabkan suhu permukaan merosot tajam.
”Dingin na Dingin, Bikin Malas Mandi Subuh!”
Penurunan suhu ini sangat dirasakan oleh warga lokal Nasier (68), seorang pedagang sarapan pagi di kawasan sekitar Pasar Terong Makassar, mengaku harus merangkap pakaian saat bersiap membuka lapaknya pukul 04.30 WITA.
”Tappala dingin skali kuliliti badanku kalau subuh-subuh. Beda biasa kalau kemarau panas ji, ini malah kaya di Malino rasanya. Mau mandi subuh saja, aduh… harus piki-pikir dua kali ki, bikin gemetar!” ujar Dg. Naba sambil tertawa kekeh saat ditemui sedang menyeduh teh hangat.
Tak hanya di Makassar, daerah dataran tinggi seperti Gowa, Toraja, hingga Enrekang merasakan efek yang jauh lebih pekat. Suhu di malam hari bahkan bisa menyentuh angka 20 hingga 18 derajat Celsius, di mana angka tersebut terbilang sangat rendah untuk iklim tropis pesisir.
Dampak Kesehatan yang Mengintai
Di balik nikmatnya tidur berselimut tebal, BMKG dan para ahli medis mengingatkan bahwa perubahan suhu ekstrem antara siang yang terik dan malam yang membeku menyimpan ancaman bagi kesehatan:
Gangguan Saluran Pernapasan (ISPA): Udara dingin yang kering membuat lapisan mukosa hidung mengering dan rentan terinfeksi virus atau bakteri. Batuk, pilek, serta sakit tenggorokan menjadi penyakit langganan saat bediding.
Kambuhnya Alergi dan Asma: Bagi penderita sinus atau asma, lonjakan suhu dingin tiba-tiba bisa memicu penyempitan saluran napas dan bersin berulang.
Kulit Kering dan Bibir Pecah-pecah: Kelembapan udara yang rendah menyerap kelembapan alami kulit, memicu iritasi jika tidak terhidrasi dengan baik.
Masalah Pada Lansia dan Balita: Kelompok rentan ini lebih sulit menyesuaikan termoregulasi tubuh, sehingga berisiko mengalami hipotermia ringan atau stres fisik.
Jurus Ampuh Menghadapi Bediding
Agar tubuh tetap fit dan tidak gampang ambruk selama fenomena bediding berlangsung hingga September mendatang, berikut panduan praktis yang bisa diterapkan:
Persiapkan Pakaian Hangat: Selalu siapkan jaket, sweater, atau sarung ekstra saat beraktivitas di luar rumah pada malam hingga dini hari.
Perbanyak Minum Air Hangat: Konsumsi air putih hangat secara rutin untuk menjaga kelembapan tenggorokan dan suhu tubuh stabil.
Manfaatkan Pelembab Kulit: Gunakan lotion atau lip balm sebelum beraktivitas agar kulit tidak kering dan perih akibat terpaan angin kering.
Jaga Asupan Nutrisi & Vitamin: Konsumsi makanan bergizi dan suplemen Vitamin C guna memperkuat imunitas tubuh dari serangan flu.
Atur Waktu Mandi: Hindari mandi dengan air dingin di waktu subuh jika kondisi fisik sedang kurang fit; utamakan menggunakan air hangat.(duppa)





