NETSULSEL | Makassar, Sepanjang kariernya, ia dikenal sebagai pria yang sanggup menerjemahkan mimpi besar menjadi kenyataan di atas kertas kalkir. Lebih dari 600 karya arsitektur di berbagai penjuru Nusantara lahir dari jemari dinginnya. Namun, panggung sejarah membuktikan bahwa sketsa terindah yang ia lukis bukan lagi gedung atau ikon kota melainkan arah baru masa depan panggung politik Sulawesi Selatan.

Dialah Ir. H. Mohammad Ramdhan Pomanto sosok yang akrab disapa Danny Pomanto.
Pria kelahiran 30 Januari 1964 berdarah Gorontalo-Bugis ini adalah mantan akademisi Universitas Hasanuddin yang sukses membuktikan bahwa seorang arsitek mampu menjadi nakhoda visioner. Dua periode memimpin Kota Makassar (2014–2019 dan 2021–2025), ia menyulap Kota Daeng menjadi metropolis yang diperhitungkan di kancah nasional hingga internasional.
Kejutan Politik 2025, Berlabuh di Pangkuan Banteng
Ketika masa jabatannya sebagai Wali Kota Makassar resmi berakhir pada 20 Februari 2025, banyak pihak menduga sang arsitek akan beristirahat atau kembali ke dunia akademik. Namun, kejutan besar politik justru tercipta.
Danny Pomanto mengambil keputusan strategis yang menghentak peta politik daerah: resmi berlabuh dan dipercaya memegang tongkat Komando Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPD PDIP Sulawesi Selatan.

Langkah ini bukan sekadar perpindahan partai, melainkan sebuah manuver catur politik yang mempertemukan dua kekuatan besar: kejeniusan gagasan sang arsitek kota dengan mesin politik terbesar di Indonesia.
Bismillah… Menatap Horison Baru Sulawesi Selatan
Kini, dengan seragam kebanggaan dan komitmen baru, Danny Pomanto tidak lagi hanya berpikir tentang satu kota. Pengalaman panjang mengurai benang kusut perkotaan dan rekam jejak kepemimpinan yang merakyat kini dibawa ke skala yang jauh lebih luas: Bumi Anggrek dan Maritim Sulawesi Selatan.
”Bismillah… Jika Allah berkehendak, mari bersama-sama kita bangun Sulawesi Selatan lebih maju!” — Danny Pomanto.
Perjalanan baru ini membuktikan bahwa pengabdian seorang pemimpin tak pernah dibatasi oleh garis akhir masa jabatan. Dari ruang-ruang kuliah Unhas, ribuan sketsa arsitektur, hingga puncak dinamika politik bersama PDIP, Danny Pomanto siap melukis mahakarya terbesarnya: Sulawesi Selatan yang lebih maju, sejahtera, dan berdaya saing.(ita)














