
NETSULSEL | Makassar, Di balik kepraktisan popok sekali pakai yang mempermudah jutaan orang tua, tersimpan ancaman lingkungan yang kian mengkhawatirkan. Dengan potensi mencapai miliaran limbah popok bayi setiap tahunnya di Indonesia, sampah sintetis yang butuh waktu ratusan tahun untuk terurai ini terus menumpuk di sungai dan laut. Resah akan ancaman masa depan tersebut, sekelompok inovator muda dari Universitas Hasanuddin (Unhas) tergerak untuk menghadirkan solusi konkret berbasis sains.

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K), tim mahasiswa lintas disiplin ilmu ini berhasil mengembangkan PLASTERA (Plastic Decomposer Era). Inovasi ini merupakan kantong pembungkus limbah popok berbasis biokomposit ramah lingkungan. Menariknya, PLASTERA memanfaatkan limbah organik yang melimpah seperti kulit singkong dan cangkang telur, lalu diperkaya dengan eco-enzyme untuk mempercepat proses biodegradasi di alam.
Ketua Tim PKM-K Unhas, Andi Aliyah Tenri Awaru, mengungkapkan bahwa inovasi ini lahir dari kepedulian mendalam terhadap persoalan sampah yang sering terabaikan oleh publik. Dengan memanfaatkan karakteristik biomaterial, pati kulit singkong berperan sebagai bahan utama bioplastik, serbuk cangkang telur memperkuat struktur mekanisnya, dan kandungan eco-enzyme menciptakan ekosistem ideal bagi mikroorganisme pengurai.
”Secara ilmiah, kami memanfaatkan karakteristik beberapa biomaterial. Pati dari kulit singkong menjadi bahan utama pembentuk bioplastik yang mudah terurai, serbuk cangkang telur sebagai penguat struktur, dan integrasi eco-enzyme menciptakan kondisi yang mendukung aktivitas mikroorganisme dalam penguraian,” jelas Aliyah.
Tidak hanya unggul secara ekologis, PLASTERA juga dirancang sangat praktis untuk kebutuhan harian para orang tua. Pembungkus ini dilengkapi perekat kedap udara untuk menahan bau tidak sedap serta hadir dengan desain ringkas yang mudah dibawa saat bepergian. Lebih dari sekadar jualan produk, tim Unhas ini berkomitmen mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah dan perubahan perilaku dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Langkah kreatif para mahasiswa ini mendapat apresiasi penuh dari dosen pendamping, Dr. Ir. Nursinah Amir, S.Pi., M.P., IPM. Ia menegaskan bahwa kepekaan generasi muda dalam memadukan ilmu pengetahuan dan isu sosial adalah bukti nyata bagaimana sains mampu memberikan dampak langsung bagi kemanusiaan.
”Tidak banyak yang menyadari bahwa di balik kepraktisan popok bayi, ada potensi masalah yang perlu respons seimbang. Pada tahap inilah sains akan berdampak,” ungkap Dr. Nursinah bangga. (ist)











