NETSULSEL | Maros, Langkah kaki para pembudidaya di Desa Benteng Gajah, Kabupaten Maros, kini tak lagi digerakkan oleh sekadar kebiasaan dan insting semata. Di tengah tantangan perubahan cuaca dan melambungnya biaya pakan, harapan baru bersemi melalui hadirnya ilmu pengetahuan di tengah-tengah mereka. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin (Unhas) turun langsung mendampingi pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk mentransformasi budidaya ikan nila tradisional menjadi usaha modern yang terukur, efisien, dan ramah lingkungan berbasis sains serta data presisi.
Sentuhan inovasi ini membawa paradigma baru bahwa pengalaman berharga warga akan berlipat ganda dampaknya jika dipadukan dengan indikator ilmiah. Melalui bimbingan teknis yang digelar pada Minggu (26/7/2026), warga diajak memahami pentingnya parameter teknis seperti Survival Rate, efisiensi pakan (Feed Conversion Ratio), hingga pemantauan kualitas air harian. Langkah ini dirancang agar masyarakat desa mampu mengantisipasi risiko kerugian sejak dini sekaligus melompat menuju produktivitas panen yang jauh lebih tinggi.
Ketua Tim Pengabdian Unhas, Dr. Alpiani, S.Pi., M.Si., menegaskan pentingnya kolaborasi antara kearifan lokal dan pendekatan data. “Pengalaman tentu merupakan modal yang sangat berharga, tetapi akan jauh lebih optimal apabila dipaduantarakan dengan data. Melalui pemantauan indikator ilmiah secara rutin, pembudidaya dapat mengetahui kondisi kolam lebih dini sehingga keputusan yang diambil lebih cepat, tepat, dan risiko kerugian dapat diminimalkan,” ungkap Dr. Alpiani saat memberikan pengarahan mendalam kepada para peserta.
Tak berhenti pada pengolahan data, semangat keberlanjutan juga dihembuskan melalui pemanfaatan potensi lokal berupa bioslurry—residu instalasi biogas yang kaya unsur hara untuk memicu pakan alami. Didampingi praktisi perikanan Syamsuddin, S.Pi., warga diajarkan menghitung kapasitas ideal kolam, mengelola sistem bioflok, hingga memanfaatkan probiotik pencegah penyakit. Semangat warga kian membara ketika Unhas menyerahkan bantuan peralatan budidaya modern sebagai modal nyata untuk langsung melangkah di lapangan.
Inovasi yang diusung Unhas ini tak sekadar menargetkan peningkatan panen, tetapi juga merajut mimpi besar menjadikan Desa Benteng Gajah sebagai percontohan kemandirian pangan desa. Program yang didanai oleh DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini secara nyata mendukung pencapaian SDGs poin 2 (Tanpa Kelaparan) dan poin 8 (Pekerjaan Layak serta Pertumbuhan Ekonomi). Sinergi antara akademisi, pemerintah desa, BUMDes, dan mahasiswa menjadi bukti hidup bahwa ilmu pengetahuan mampu menjadi mesin penggerak ekonomi warga.
Melihat antusiasme warga yang begitu tinggi, Dr. Alpiani optimistis bahwa langkah kecil di Desa Benteng Gajah ini akan menjadi inspirasi luas bagi desa-desa lain di Sulawesi Selatan. “Kami berharap BUMDes tidak hanya mampu mengembangkan usaha budidaya ikan nila yang produktif secara finansial, tetapi juga tumbuh menjadi pusat pembelajaran mandiri bagi seluruh masyarakat desa,” pungkasnya penuh harap.(qas)










