
NETSULSEL | Selayar, Di balik pesona kepulauan Desa Patilereng, Kecamatan Bontusikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar, sebuah riak perubahan sedang dibentuk. Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Kemitraan Masyarakat (PPMU-PK-M) hadir membakar semangat generasi muda setempat. Lewat Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pengembangan Kapasitas Partisipasi Pemuda dalam Penggunaan Media Sosial” yang bertepatan dengan momen Dies Natalis Unhas ke-70 di Aula Kantor Desa Patilereng pada Selasa (28/7), pemuda desa didorong untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan motor penggerak literasi digital.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Desa Patilereng memiliki kehangatan ikatan sosial khas masyarakat kepulauan yang sangat erat, sebuah modal sosial berharga yang kini berhadapan langsung dengan derasnya arus informasi digital. Ketua Tim Pengabdian yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unhas, Prof. Dr. Phil. Sukri, M.Si., menegaskan pentingnya menjaga keluhuran nilai lokal di tengah lanskap media sosial yang terus berubah.
”Karakteristik masyarakat kepulauan memiliki ikatan sosial yang sangat kuat. Di satu sisi, ini adalah kekuatan besar, namun di sisi lain menjadi tantangan tersendiri saat berinteraksi di ruang digital. Potensi indeks pemanfaatan media sosial di Selayar sudah sangat baik, tetapi itu harus diimbangi dengan literasi digital yang matang agar jemari para pemuda bisa membawa manfaat, bukan perpecahan,” ujar Prof. Sukri dengan penuh optimisme.
Antusiasme semakin terasa dengan hadirnya perspektif global dari akademisi Universiti Kebangsaan Malaysia, Dr. Ammar Redza Bin Ahmad Rizal, serta suguhan materi praktis dari Dosen Ilmu Komunikasi Unhas, Nosakros Arya, S.Sos., M.I.Kom. Di hadapan para pemuda dan Kepala Desa Patilereng, Arya membekali peserta dengan formula cerdas bermedia sosial sekaligus membentengi mereka dari bahaya ruang siber yang kerap mengintai.
”Ruang digital hari ini penuh dengan jebakan, mulai dari penipuan CPNS bodong, penyalahgunaan data pribadi, hingga maraknya malinformasi. Kita ingin pemuda Patilereng tidak hanya aman dari ancaman ini, tetapi juga memiliki kedewasaan berpikir untuk memilah mana informasi yang membangun dan mana yang merusak,” tegas Nosakros Arya di sela-sela pemaparannya.
Kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi satu arah, melainkan sebuah ajakan untuk menyalakan kepekaan kritis. Melalui diskusi interaktif, para pemuda diajak membedah potensi desa mereka untuk disebarluaskan secara positif ke dunia luar, sembari tetap membentengi diri dari dampak negatif internet.
Besar harapan yang dititipkan di pundak para pemuda Patilereng melalui program pengabdian ini. Tim PPMU-PK-M Unhas meyakini bahwa ketika pemuda desa dibekali pengetahuan digital yang kritis, aman, dan produktif, mereka tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga menjelma menjadi agen literasi digital yang siap mengedukasi masyarakat di sekitarnya. (duppa)









