Menyemai Iman di Tanah Pajekko, Ketika Jemari Kecil Siswa MI Arrahmah Belajar Mencintai Alam

NETSULSEL | Bone, ​Pagi itu, halaman Madrasah Ibtidaiyah (MI) Arrahmah Pajekko di Kecamatan Barebbo tak hanya dipenuhi tawa riang anak-anak, tetapi juga aroma tanah basah yang menenangkan. Di atas tanah mungil yang mereka olah bersama, jemari-jemari kecil para siswa nampak berlepotan lumpur saat menyemaikan bibit cabai rawit dan tomat ke dalam tanah. Lebih dari sekadar menindaklanjuti imbauan pemerintah daerah dan Kementerian Agama, momen bersahaja ini menjadi ruang belajar terbuka tempat nilai-nilai kepedulian dan kasih sayang terhadap alam mulai ditanamkan ke dalam dada para generasi muda sejak dini.

​Gerakan menanam ini menjadi panggung kecil bagi nilai-nilai Ekoteologi sebuah konsep mulia yang diusung Kementerian Agama untuk menyatukan ajaran spiritual dengan kelestarian lingkungan. Suasana gotong royong membaur hangat tanpa sekat; para guru tak canggung merangkul dan membimbing para siswa memegang sekop kecil, mengajarkan mereka bagaimana memperlakukan calon kehidupan baru itu dengan lembut. Di balik senyum polos para murid, ada ikhtiar besar untuk membangun ketahanan pangan mandiri yang bermula dari pekarangan sekolah mereka sendiri.

​Kepala MI Arrahmah Pajekko, Muh. Said, S.Pd.I, menatap haru antusiasme anak-anak didiknya yang tak takut kotor demi merawat tanaman mereka. Bagi Said, gerakan sederhana ini adalah sarana pendidikan karakter yang jauh lebih membekal ketimbang teori di dalam ruang kelas. Menjaga bumi bukan sekadar tugas ekologis, melainkan wujud nyata keimanan dan bentuk rasa syukur yang paling jujur atas setiap nikmat yang dititipkan oleh Sang Pencipta kepada manusia.

​”Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan pemahaman mendalam kepada anak-anak bahwa menjaga lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari nilai keagamaan kita. Menanam hari ini berarti kita sedang menyemai manfaat untuk masa depan. Kami berharap kebiasaan baik ini tidak berhenti di sekolah, tapi dibawa pulang ke rumah dan terus dilestarikan,” ujar Muh. Said di sela-sela dampingannya kepada para siswa.

​Bibit-bibit hijau yang kini berjejer rapi di sudut madrasah tersebut kelak akan dirawat secara berkala oleh para siswa, menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya kepedulian mereka. MI Arrahmah Pajekko memancarkan pesan hangat bahwa perubahan besar bagi bumi selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang penuh cinta. Dari sepetak tanah di Barebbo, mereka mengajarkan kita semua bahwa merawat tanaman adalah cara paling indah untuk membumikan ajaran agama menjadi aksi nyata yang memberi kehidupan. (tmz)