Denyut Asa Tergenggam Dalam Makna Persahabatan Diantara Rasa Keadilan dan Tegaknya Hukum. Sipil dan Aparat Saling bergandengan.

Jampidum Leonard Simanjuntak dan Aktivis Anti Korupsi Makassar, Djusman AR ketika bercengkerama di ruang kerja Jampidum

NETSULSEL | Makassar, Di antara tumpukan berkas perkara, deru keputusan hukum, dan denyut Jakarta yang tak pernah melambat, sebuah sudut di Jalan Sultan Hasanuddin Nomor 1, Kebayoran Baru Jakarta, mendadak luluh oleh hangatnya sebuah perjumpaan. Pada Jumat menjelang petang kemarin, yang merayap hingga larut malam, batas-batas kaku antara pengawal keadilan dan pejuang kebenaran meluruh, menyisakan sebuah hakikat yang sering terlupakan: persahabatan dan ketulusan.

​Jumat (7/8/26) itu, ketika jam menunjuk pukul 15.00 WIB, Tokoh Pegiat Antikorupsi asal Sulawesi, Djusman AR, melangkahkan kaki menembus dinding kokoh Kantor Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Langkahnya tidak sendirian. Didampingi putra tercintanya, Teguh Esa Bangsawan DJ, Djusman membawa sebuah harapan sederhana merawat rasa, menjaga silaturahmi, dan meneguhkan jembatan rasa percaya yang telah lama terbangun.

​Di ruang kerjanya, Dr. Leonard Eben Ezer Simanjuntak, SH, MH, yang kini mengemban amanah sebagai Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) Kejaksaan Agung RI, menyambut hangat. Tak ada jarak formalitas yang menjarakkan. Tampak hadir pula dalam perjumpaan penuh keakraban itu, Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku Utara dan Sulawesi Tengah, melengkapi lingkar kehangatan malam itu.

​Dalam ruang yang riuh oleh benturan nurani dan penegakan hukum, dinamika perjuangan kerap melahirkan kelelahan. Namun malam itu, hingga jarum jam melintasi angka 21.37 WIB dan hidangan makan malam dinikmati bersama, riuh hukum seolah tunduk pada ketulusan rasa. Bagi Djusman AR yang memikul amanah sebagai Koordinator Forum Komunikasi Lintas NGO Sulawesi sekaligus Koordinator Badan Pekerja KMAK Sulselbar pertemuan ini bukan sekadar agenda protokol. Ini adalah bukti bahwa di tengah riak pemberantasan korupsi dan penegakan keadilan yang keras, sinergi nurani antara masyarakat sipil dan aparat penegak hukum adalah nafas yang menghidupkan rasa keadilan itu sendiri.

​”Sinergi antara aparat penegak hukum dan elemen masyarakat sangat penting untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan berintegritas,” tutur Djusman lembut di sela perbincangan.

Suasana hangat malam itu menjadi penanda, bahwa perjuangan menegakkan keadilan di bumi pertiwi tidak harus selalu berwajah tegang dan dingin. Ada ruang bagi ketulusan, dialog, dan asa yang dirawat bersama. Organisasi masyarakat sipil dan institusi hukum bisa berjalan beriringan saling menjaga, saling mengingatkan, dan saling menguatkan.

​Waktu terus bergulir menembus larut malam di Kebayoran Baru, namun kehangatan yang tercipta meninggalkan pesan mendalam. Bahwa sejauh apa pun hukum ditegakkan, dan sekeras apa pun hiruk-pikuk zaman menuntut, asa akan keadilan yang sejati dan jalinan silaturahmi yang tulus adalah pelita yang tak boleh padam. Dari meja sederhana malam itu, sebuah komitmen kembali ditegaskan: mewujudkan penegakan hukum Indonesia yang tidak hanya profesional dan berkeadilan, tetapi juga berintegritas dan bermartabat.(ita)