Menanam Benih Kesadaran: Ketika Tempat Sampah Terpilah Menjadi Ruang Edukasi di Baju Bodoa. Inisiatif KKN Unhas Menghadirkan Langkah Nyata Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas

fasilitas tempat sampah yang disiapkan mahasiswa KKN Unhas

NETSULSEL | Maros, ​Perubahan besar sering kali tidak dimulai dari gerakan raksasa, melainkan dari langkah-langkah kecil yang konsisten di lingkungan terdekat kita. Di Kelurahan Baju Bodoa, Maros, semangat menjaga bumi itu kini tumbuh dari tempat-tempat yang paling dekat dengan denyut kehidupan masyarakat: sekolah, TPQ, dan masjid.

​1. Menjawab Tantangan dari Akar Masalah
​Selama ini, kebiasaan membuang sampah pada tempatnya sudah mulai terbentuk di tengah warga Baju Bodoa. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada langkah berikutnya: pemilahan. Tanpa ketersediaan fasilitas yang memisahkan antara sampah organik dan anorganik, niat baik untuk mengelola lingkungan sering kali terhenti di tempat sampah campuran.

​Menyadari pentingnya menghadirkan solusi nyata dari sumbernya, Joshua Vinansius Simbolon mahasiswa Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam KKN Tematik Perubahan Iklim Gelombang 116—mengambil inisiatif untuk menjembatani kebutuhan tersebut. Melalui program kerja individunya, ia memfasilitasi penyaluran 20 unit tempat sampah terpilah (10 organik dan 10 anorganik) yang menyasar ruang-ruang publik paling krusial.

​2. Menyasar Ruang Kehidupan Sehari-hari
​Selama tiga hari aksi (8–10 Agustus 2026), bantuan didistribusikan secara langsung ke 10 titik strategis di tiga wilayah utama: RW 001 Lingkungan Kassi Kebo, RW 002 Lingkungan Betang, dan RW 003 Lingkungan Masembo.

Pemilahan fasilitas ini menyasar dua sektor penting: Sektor Pendidikan: Fasilitas diserahkan kepada siswa dan guru di SDN 16 Pangkasalo, MI Ainun Syamsi (RW 003 Masembo), serta SDN 22 Maros (RW 001 Kassi Kebo).

​Sektor Keagamaan & Pembentukan Karakter: Fasilitas disalurkan ke 2 Tempat Pembelajaran Al-Qur’an (TPQ) di RW 002 Betang serta 5 masjid yang tersebar di ketiga RW.

​Pemilihan sekolah, TPQ, dan masjid bukanlah tanpa alasan. Ketiganya bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat interaksi sosial dan pembentukan karakter tempat anak-anak belajar nilai kehidupan, para santri menimba ilmu agama, dan warga berkumpul dalam kebersamaan. Menempatkan tong sampah terpilah di lokasi-lokasi ini menjadikan edukasi lingkungan hidup terasa alami dan hadir dalam keseharian.

​3. Mendorong Kebiasaan, Bukan Sekadar Edukasi
​Proses penyerahan dilakukan secara langsung kepada para kepala sekolah, pengurus masjid, dan penanggung jawab TPQ, dengan disaksikan oleh Lurah Baju Bodoa dan Ketua RW setempat. Penandatanganan berita acara menjadi bukti komitmen bersama dalam merawat dan memanfaatkan fasilitas tersebut secara berkelanjutan.

​”Kami menyadari bahwa mengajak masyarakat memilah sampah tidak cukup hanya dengan memberikan pemahaman, tetapi juga perlu didukung oleh fasilitas yang tersedia di tempat mereka beraktivitas. Karena itu, kami memilih untuk menempatkan tempat sampah organik dan anorganik di sekolah, TPQ, dan masjid. Harapannya, fasilitas ini benar-benar digunakan dan dapat membantu membentuk kebiasaan memilah sampah mulai dari hal yang sederhana,” kata Joshua Vinansius Simbolon

4. Harapan Masa Depan
​Dua puluh tong sampah ini mungkin terlihat sederhana, namun di baliknya ada harapan besar: lahirnya generasi yang lebih peduli dan bijak terhadap lingkungan di Kelurahan Baju Bodoa.

​Penyediaan fasilitas ini diharapkan tidak terhenti sebagai luaran program KKN semata, melainkan menjadi pemantik awal terbentuknya budaya pemilahan sampah yang tertib, bersih, dan berkelanjutan dari ruang-ruang terdekat dalam kehidupan kita.(shr)