
NETSULSEL | Makassar, Masih ingat peristiwa penahanan puluhan aktivis kemanusiaan oleh militer Israel saat misi kemanusiaan untuk Gaza diperairan internasional? Yup, peristiwa pencegatan, penangkapan dan penahanan puluhan aktivis kemanusiaan ini masih menyisakan rasa trauma untuk mereka. Salah satunya adalalah seorang sutradara film dokumenter asal Australia, Juliet Lamont, Juliet, mengaku menjadi korban pemerkosaan oleh tentara israel saat ditahan selama 4 hari diatas kapal militer yang diakuinya mirip penjara Israel. Pengakuan Juliet Lamont tersebut, diungkapkan dalam sebuah film dokumenter “The Gaza Flotilla Diaries” yang telah tayang disejumlah plaform media digital seperti instagram, youtube dan siaran dokumenter Al Jezeera tv. Tak cukup itu, kesaksian pengakuan Juliet yang diperkosa oleh tentara Israel ini juga telah tayang disejumlah media dinegara asalnya Australia tahun 2025 lalu.
Dalam pengakuan itu, Juliet mengungkapkan kronologi pelecehan yang berlanjut menjadi pemerkosaan, berawal dari operasi pencegatan rombongan kapal bantuan kemanusiaan untuk Gaza, yang membawa misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla diperairan internasional oleh militer Israel oktober 2025 kemarin. Saat itu ada 50 kapal yang dicegat, Juliet bersama 429 aktivis kemanusiaan dari 49 negara berada dikapal yang berbeda ditahan tentara. Juliet yang berada dikapal kemanusiaan milik Global Sumud Flotilla bernama wahoo.
“”Itu baru awal dari 4 hari neraka. Saya sudah lihat langsung ke mata orang-orang paling tidak punya rasa nurani didunia, dan tidak memiliki rasa apa-apa. Orang-orang ini harus dihentikan.” Ungkap Juliet dalam film dokumenter “The Gaza Flotilla Diares” yang tayang di Al Jezeera witness. Menurutnya, ia dan aktivis lainnya dipindahkan kesebuah kapal milik Israel yang mirip penjara karena dilengkapi dengan pagar berduri serta kontainer yang disulap jadi sel.
Mereka juga menyerang kami, diseret-seret, dipukuli bahkan diserang secara seksual. Juliet menambahkan kisahnya, dia kena semprotan water cannon, terus dipaksa duduk selama 7 jam diruangan tidak memilik ventilasi udara. Saat itu ia tak berdaya karena tangannya diborgol, bajunya basah kuyup dan kepalanya terus didorong-dorong oleh tentara Israel.
Penyelenggara Global Sumud Flotilla klaim ada minimal 15 kasus pelecehan seksual terjadi selama pencegatan kapal hingga penahanan para aktivis kemanusiaan. Yang paling parah terjadi di kapal pendarat Israel yang dijadikan penjara sementara pakai kawat berduri dan kontainer.
Israel Bantah
Otoritas Israel melalui layanan penjara Israel membantah tuduhan terjadi pelecehan seksual, pemerkosaan dan penyiksaan. Menurut mereka, insiden pelecehan dan pemerkosaan terutama pada kasus Juliet dianggap sebagai pengakuan sepihak.
Jika masih penasaran dengan kisah Juliet serta peristiwa penahanan kapal bantuan kemanusiaan untuk Gaza? Bisa disimak full ditayangan dokumenternya, cari “The Gaza Flotilla Diaries: Onboard a high-risk mission to break the siege | Witness Documentary” di YouTube Al Jazeera English. Juliet muncul sebagai saksi utama dari kapal Wahoo. (ist)











