NETSULSEL | Kuala Lumpur, Karena sistem keimigrasian negera Malaysia mengalami kelumpuhan berdampak terjadinya antrean panjang di pos pemeriksaan imigrasi di seluruh negeri Jiran tersebut. Peristiwa ini, terjadi Kamis (28/5) dini hari waktu setempat. Kelumpuhan pada sistem tersebut karena terjadinya pemadaman digitalisasi yang selama ini memudahkan berlansungnya pemeriksaan dokumen dan sejenisnya dinegara ini. Sekitar 114 pos pemeriksaan yang tersebar diseluruh negera Malaysia. 56 titik masuk melalui laut, 30 titik masuk melalui darat dan 28 titik melalui bandara.
Salah satu yang paling terdampak adalah pos perbatasan darat Johor-Singapura, yakni titik paling sibuk dan vital di negara tetangga Indonesia. Pemadaman sistem nasional melumpuhkan proses imigrasi selama sekitar lima jam, dikutip dari Channel News Asia, Sabtu (30/5/2025).
Petugas imigrasi terpaksa melakukan proses administrasi untuk warga Malaysia dan pelancong asing secara manual, setelah semua sistem berbasis komputer mengalami gangguan antara pukul 04.30 pagi dan 09.30 pagi waktu setempat, seperti dilaporkan oleh media lokal The Star.
“Kami harus mengerahkan kembali semua personel kami untuk mengoperasikan loket manual di aula bus, jalur sepeda motor, dan kendaraan,” kata pejabat tersebut.
“Tidak hanya gerbang otomatis kami yang rusak, bahkan sistem pengenalan wajah kami pun juga tidak berfungsi,” ia menuturkan.
Gangguan ini menandai kerusakan sistem imigrasi besar kedua dalam waktu kurang lebih sebulan. Insiden serupa menyebabkan ribuan pelancong terlantar selama sekitar dua jam pada 23 April 2026 lalu.
Meskipun banyak pelancong mengatakan gangguan dimulai pukul 4.30 pagi, direktur jenderal departemen imigrasi Zakaria Shaaban mengatakan insiden itu terjadi sekitar pukul 5 pagi dan berlangsung hingga pukul 8.45 pagi karena masalah teknis pada pusat data Sistem Imigrasi Malaysia (MyIMMs).
“Sistem tersebut kembali online setelah pekerjaan perbaikan dilakukan. Sistem tersebut tidak diretas. Sistem MyIMMs sudah berusia 30 tahun. Masalah pasti akan terjadi,” demikian kutipan pernyataannya yang dimuat oleh The Star.
Sistem tersebut diharapkan akan digantikan oleh Sistem Imigrasi Terpadu Nasional (NIISe) pada 2028 mendatang. Platform imigrasi digital baru ini, yang dirancang untuk memodernisasi kontrol perbatasan, bertujuan untuk mengintegrasikan verifikasi paspor, pemeriksaan visa, dan data pelancong ke dalam satu platform.
Menurut Zakaria, gangguan seperti itu mungkin akan terjadi lagi hingga sistem NIISe beroperasi penuh.
“Kami akan bertahan hingga sistem NIISe siap,” katanya, seperti dikutip dari Channel News Asia, berdasarkan laporan media lokal.
Awal bulan ini, Menteri Dalam Negeri Saifuddin Nasution Ismail mengatakan selama kunjungan ke Johor bahwa vendor NIISe telah diinstruksikan untuk menyiapkan rencana mitigasi menjelang dimulainya operasi Sistem Transit Cepat (RTS) Johor Bahru-Singapura tahun depan.
Pemerintah Malaysia berkomitmen untuk meminimalkan segala bentuk gangguan teknis dalam sistem baru tersebut, katanya.
Insiden Kamis (28/5) pagi kemarin itu adalah kali kesekian yang membuat banyak pelancong frustrasi. Beberapa di antaranya mengklaim bahwa hal itu menyebabkan mereka terlambat bekerja.











