
NETSULSEL | FakFak, Di balik rindangnya pepohonan pala yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Weri–Saharey, Distrik Fakfak Timur, tersimpan asa besar yang menunggu untuk menyala. Kendati arus listrik belum mampu menerangi desa selama 24 jam dan helai-helai fuli pala masih dikeringkan secara seadanya, secercah harapan baru kini hadir memeluk bumi Papua Barat tersebut.
Melalui pendekatan yang humanis, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 Tim VII Universitas Hasanuddin (Unhas) hadir merajut solusi bersama warga. Kehadiran para akademisi ini tak sekadar membawa teknologi, melainkan membawa empati agar potensi alam warisan leluhur mampu membebaskan warga dari keterbatasan ekonomi dan akses energi.
Inovasi dan Kolaborasi Berkelanjutan
Energi Bersih untuk Pelayanan Publik: Merancang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terdistribusi guna menyokong kebutuhan sekolah, fasilitas kesehatan, dan ruang publik agar aktivitas warga tidak lagi terhenti saat malam tiba. Teknologi Pengeringan Pala (Solar Dryer): Memadukan daya surya dengan teknologi solar dryer untuk membantu petani menjaga mutu pengeringan biji dan fuli pala, menaikkan kelas komoditas lokal agar bernilai jual tinggi.
Kemandirian Berbasis Komunitas: Mendorong tata kelola fasilitas secara mandiri melalui BUMKam, kelompok tani, koperasi, dan pemerintah kampung agar masyarakat menjadi pemilik penuh atas kemajuan desa mereka. Ketua Tim VII TEP Unhas, Dianti Utamidewi, S.T., M.T., mengungkapkan bahwa langkah ini lahir dari ketulusan untuk mendengar jeritan kebutuhan mendasar warga di lapangan.
”Temuan paling penting kami adalah kebutuhan listrik masyarakat dan fasilitas umum masih belum sepenuhnya terpenuhi, sementara potensi tanaman pala yang besar belum diikuti dengan pengolahan pascapanen yang memadai. Penguatan mutu biji dan fuli Pala melalui pengeringan yang lebih baik menjadi langkah awal yang sangat penting,” ujar Dianti.
Kehadiran program kolaborasi Kementerian Transmigrasi RI yang dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) di SMP Negeri Fakfak Timur ini disambut haru dan penuh optimisme oleh pemerintah lokal. Kepala Kampung Saharey, Zainuddin Arbakala, menegaskan betapa dalamnya makna pala bagi nadi kehidupan warga desa.
”Pala ini sudah menjadi bagian dari kehidupan kami secara turun-temurun, menjadi penopang keluarga dari generasi ke generasi,” tutur Zainuddin penuh rasa syukur.
Senada dengan itu, Kepala Kampung Weri, Marten Sutadi Fuad, menyambut hangat sentuhan ilmu pengetahuan yang dibawa para peneliti Unhas.
”Sektor pertanian kami memang sangat membutuhkan pendampingan seperti ini, agar hasil keringat warga bisa menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi untuk kesejahteraan bersama,” ungkap Marten. Bagi warga Weri dan Saharey, sinar matahari di balik teriknya Fakfak Timur kini bukan lagi sekadar penanda siang, melainkan sumber energi dan harapan baru yang siap mengubah masa depan mereka menjadi jauh lebih terang.(qas)











