Operasi Gelap Pemicu Rusuh, Polda Metro Jaya Gagalkan Sabotase Politik Berdarah di Aks Mahasiswa #Merebut Kemerdekaan, 21 Penyusup dicokok

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengungkapkan bahwa penangkapan oleh tim Preventive Strike dan Preemptive Education ini mengindikasikan adanya konspirasi kriminal yang menunggangi panggung aspirasi politik mahasiswa.

 

NETSULSEL | Jakarta, Sebuah skenario kriminal berkedok gerakan politik berhasil dibongkar aparat kepolisian di tengah memanasnya suhu politik ibu kota. Menjelang aksi unjuk rasa besar-besaran yang digalang Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Polda Metro Jaya bergerak cepat mencokok 21 penyusup gelap yang disinyalir kuat merupakan kelompok provokator bersenjata senjata rakitan berbahaya.

​Dari tangan puluhan orang yang kini mendekam di ruang pemeriksaan Ditreskrimum Polda Metro Jaya tersebut, polisi menyita sejumlah barang bukti berdaya ledak dan pemantik kerusuhan, seperti flare, petasan bertekanan tinggi, hingga botol-botol kimia yang telah disiapkan sebagai bom molotov.

​Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengungkapkan bahwa penangkapan oleh tim Preventive Strike dan Preemptive Education ini mengindikasikan adanya konspirasi kriminal yang menunggangi panggung aspirasi politik mahasiswa.

​”Hasil penyelidikan awal menunjukkan orang-orang ini sama sekali tidak terafiliasi dengan elemen mahasiswa. Kehadiran mereka murni tindakan kriminal terencana untuk memicu bentrok berdarah antara petugas keamanan dan massa aksi, sekaligus menciptakan kekacauan di tengah masyarakat,” tegas Budi Hermanto, Selasa (18/8/2026).

​Langkah hukum tegas ini diambil tepat ketika aksi bertajuk #MerebutKemerdekaan berpusat di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. Di panggung politik jalanan tersebut, Ketua BEM UI Yatalatof Imawan menegaskan bahwa gerakan mereka adalah murni perjuangan konstitusional untuk mempertanyakan arah keadilan bangsa sehari pasca-peringatan HUT ke-81 RI.

​”Kepada warga Jakarta, kami mohon maaf atas kemacetan hari ini. Namun ingat: kemacetan lalu lintas ini hanya beberapa jam, sedangkan kemacetan struktural, kemacetan lapangan kerja, dan kemacetan keadilan sudah delapan puluh satu tahun dipaksakan dan terus memburuk,” seru Yatalatof.

​Di tengah pengerahan 9.242 personel gabungan untuk mengamankan 31 titik demonstrasi di seluruh Jakarta, kepolisian masih terus mendalami aktor intelektual serta jaringan penyandang dana di balik 21 perusuh tersebut. Pendalaman ini dilakukan demi membongkar dugaan tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum dan ancaman teror molotov yang berpotensi mencederai iklim demokrasi Indonesia. (duppa)