
NETSULSEL | Makassar, Berakhirnya sebuah perang sering kali disalahartikan sebagai puncak dari perdamaian. Padahal, bagi masyarakat yang baru saja terbebas dari jerat konflik, tiadanya letusan senjata hanyalah babak awal dari perjuangan panjang untuk merekonstruksi institusi, merajut kembali modal sosial yang terkoyak, memulihkan roda ekonomi, dan menanamkan rasa aman yang hakiki di tengah masyarakat.
Semangat untuk memahami dan merawat perdamaian sejati inilah yang membakar antusiasme puluhan akademisi muda di Universitas Hasanuddin (Unhas). Melalui kerja sama Program Studi Hubungan Internasional dan The Center for Peace, Conflict, and Democracy (CPCD) Unhas, sebuah kuliah umum internasional bertajuk “Peace, Peacebuilding, and Japan’s Cooperation in Peacebuilding” sukses digelar pada Rabu (2/9/2026) dengan dihadiri lebih dari 80 mahasiswa serta civitas akademika.
Hadir sebagai pembicara utama, Prof. Ako Muto, Ph.D. dari Rikkyo University Jepang, mengajak para mahasiswa menyelami transformasi konsep perdamaian dari teori hingga aksi nyata. Beliau menekankan pentingnya positive peace dan social repair—sebagaimana pemikiran Johan Galtung—bahwa perdamaian jangka panjang tidak cukup hanya dengan menghentikan kekerasan fisik, tetapi harus diiringi dengan terciptanya keadilan sosial yang merata.
Pengalaman historis bangkitnya Kota Hiroshima pascabom atom 1945 turut menjadi bukti nyata bagaimana puing kehancuran dapat diubah menjadi kekuatan pemulih dunia. Melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Kementerian Luar Negeri Jepang (MOFA), Jepang aktif membantu menciptakan masyarakat yang tangguh (resilient state and society) di wilayah pascakonflik, seperti penguatan tata kelola dan ekonomi di Mindanao, Filipina.
Diskusi kian hidup saat mahasiswa Unhas secara kritis mengaitkan peran Jepang dengan kontribusi Indonesia dalam International Monitoring Team (IMT) di Mindanao. Diskusi interaktif ini membuktikan bahwa generasi muda di Makassar memiliki wawasan global yang tajam dan siap mengambil peran strategis dalam diplomasi serta pemeliharaan perdamaian kawasan.
Kuliah umum yang diapresiasi oleh akademisi Unhas seperti Ishaq Rahman, S.IP., M.Si. dan Andi Ahmad Yani, S.Sos., M.Si. ini menegaskan bahwa kampus adalah panggung utama pencetak pembangun peradaban. Dari Kampus Merah Unhas, benih kepemimpinan global terus disemai untuk membuktikan bahwa perdamaian bukan sekadar menghentikan perang, melainkan merawat masa depan kemanusiaan.(baba)











