Hangatnya Cangkir Kopi dan Jejak Kemanusiaan di Kedai Tujuh Belas Panakukang

Kedai Tujuh Belas menjadi panggung kecil bagi sebuah perjumpaan yang tidak hanya membicarakan angka dan kebijakan, tetapi juga menegaskan arti penting menyapa sesama sebagai manusia. Walikota Munafri Arifuddin bercengkerama dengan warganya di Kedai 17 Panakukang

NETSULSEL | Makassar, Malam di Kota Makassar selalu punya cara tersendiri untuk merajut keakraban. Ketika riuh lalu lintas perlahan menyurut dan angin malam berembus lembut, ruang-ruang sederhana kerap menjadi saksi bisu meluruhnya sekat-sekat formalitas. Pada Kamis (3/9/2026) semalam, Kedai Tujuh Belas menjadi panggung kecil bagi sebuah perjumpaan yang tidak hanya membicarakan angka dan kebijakan, tetapi juga menegaskan arti penting menyapa sesama sebagai manusia.

​Sekitar pukul sembilan malam, aroma kopi yang pekat bercampur gurihnya aneka gorengan hangat menyambut langkah Munafri Arifuddin. Pria yang akrab disapa Appi itu melangkah masuk tanpa sekat protokol yang kaku. Tak ada jarak pemisah antara pejabat dan warganya, malam itu, ia hadir sepenuhnya sebagai pribadi yang ingin merawat tali silaturahmi.

​Kedatangan orang nomor satu di Makassar ini disambut hangat oleh Sang Owner, Djusman AR. Pertemuan yang telah direncanakan dengan penuh keakraban itu serta-merta mengubah sudut kedai menjadi ruang diskusi yang hidup. Di atas meja kayu yang bersahaja, tawa dan obrolan mengalir begitu saja, membuktikan bahwa komunikasi paling jujur sering kali lahir di tempat-tempat yang paling membumi.

​Di balik cangkir-cangkir kopi yang masih hangat mengepul, percakapan bermekaran mengitari mimpi-mimpi besar tentang Kota Makassar. Sebagai kunjungan kekeluargaan yang kedua kalinya, Appi memaparkan jejak langkah pembangunan yang sedang dan akan berjalan. Baginya, pembangunan bukan sekadar menumpuk beton, melainkan upaya terus-menerus untuk menghadirkan rasa keadilan dan kesejahteraan bagi setiap sudut kota yang dinikmati lansung oleh masyarakat.

​Berbagai isu krusial pun bergulir wajar, mulai dari pembenahan birokrasi, masa depan pendidikan, hingga pemenuhan hak mendasar seperti air bersih dan pengelolaan sampah. Salah satu gagasan sosial yang menyentuh nurani warga adalah keberpihakan pada masyarakat kecil melalui rencana pembebasan iuran sampah bagi rumah tangga berdaya listrik hingga 1.300 VA, sebuah sentuhan nyata yang langsung menyapa kehidupan sehari-hari.

​Namun, lebih dari sekadar memaparkan program, Appi menekankan pentingnya keterbukaan dan pengawasan bersama. Dengan jiwa besar, ia membuka pintu selebar-lebarnya bagi saran, masukan, bahkan kritik konstruktif dari warganya. Dalam pandangannya, tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan hanya bisa tumbuh subur jika dibangun di atas fondasi rasa saling percaya serta keberanian untuk terus mendengar.

​Bagi Djusman AR, momen malam itu memberikan kesan mendalam tentang makna kerendahan hati seorang pemimpin. Ketersediaan Appi untuk duduk sejajar, bersikap responsif, dan bertukar pikiran di tengah suasana santai menjadi bukti kematangan seorang figur visioner. Latar belakang pendidikan hukum yang melekat pada dirinya semakin mempertegas komitmennya terhadap prinsip good governance yang berkeadilan.

​Waktu menunjukkan pukul 23:20 WITA ketika perjumpaan itu perlahan usai, namun kehangatan yang tercipta tak lantas pudar. Pertemuan di Kedai Tujuh Belas malam itu meninggalkan jejak reflektif, bahwa di tengah rumitnya tata kelola sebuah kota besar, empati dan ikatan sosial antarmanusia akan selalu menjadi jiwa yang menghidupkan setiap kebijakan.(ita)