Awan Kelam MBG di Sidoarjo: Korban Keracunan Tembus 730 Orang, Dampak Meluas ke 19 Sekolah

Petaka dugaan keracunan massal akibat hidangan yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terus meluas secara masif. Angka korban yang melonjak drastis dan sebaran wilayah terdampak yang makin lebar memicu kecemasan mendalam di tengah para orang tua murid.

NETSULSEL | Sidoarjo, Kekhawatiran publik terhadap keamanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kian memuncak. Petaka dugaan keracunan massal akibat hidangan yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terus meluas secara masif. Angka korban yang melonjak drastis dan sebaran wilayah terdampak yang makin lebar memicu kecemasan mendalam di tengah para orang tua murid.

​Hingga hari ini (4/9/2026), jumlah korban terdampak dilaporkan telah menembus angka fantastis, yakni 730 orang. Kasus ini tak lagi sekadar menimpa para santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam Putat Tanggulangin, tetapi telah menjalar dan melumpuhkan aktivitas siswa di 19 sekolah lain di wilayah tersebut.

​Kondisi di lapangan kian mencekam setelah posko darurat tidak lagi sanggup menampung ledakan jumlah pasien. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo mengonfirmasi bahwa puluhan santri yang sebelumnya bertahan di posko lapangan masjid Ponpes Manba’ul Hikam terpaksa dievakuasi darurat ke berbagai rumah sakit karena kondisi yang memburuk.

​”Untuk total pasien yang kami himpun saat ini, artinya yang kami data ini yang sudah kami bisa peroleh ketika mereka masuk ke rumah sakit atau mereka melaporkan ketika berobat ke beberapa fasyankes. Artinya bisa dokter praktik swasta, bidan, maupun Puskesmas. Ini totalnya 730 pasien,” kata Lakhsmita saat dikonfirmasi oleh suaragarut.id yang dikutip ulang oleh NETSulsel.

88 Pasien Dirawat Intensif, Korban Susulan Mulai Bermunculan
​Atas melonjaknya angka tersebut, sebanyak 98 korban kini harus menjalani perawatan medis intensif di sejumlah fasilitas kesehatan, seperti RSUD R.T. Notopuro, RS Delta Surya, RS Siti Hajar, RS Pusura, RSU Aisyiyah St Fatimah Tulangan, RS Pusdik Bhayangkara, hingga RS Arafah Anwar Medika. Sementara itu, ratusan korban lainnya menjalani rawat jalan dengan pemantauan ketat akibat gejala mual parah, muntah, sakit perut, diare, hingga lemas ekstrem.

​Kecemasan masyarakat kian menjadi-jadi lantaran ancaman gelombang korban susulan masih terus menghantui. Di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, misalnya, meski mayoritas pasien sempat diperbolehkan pulang, gejala susulan justru kembali menyerang.

​Humas RSUD R.T. Notopuro, Rizqi Maulana, mengungkapkan bahwa pada pembaruan data pukul 10.30 WIB, terdapat tambahan enam santri yang terpaksa dilarikan kembali ke rumah sakit usai sempat dipulangkan. Anak-anak yang terdampak rata-rata masih berada di rentang usia sangat muda, yakni 9 hingga 16 tahun. Fakta ini menyulut kepanikan para orang tua yang kini meragukan standar keselamatan pangan dalam program pemerintah tersebut.

Operasional Dapur Diberhentikan Total
​Petaka massal ini bermula dari santap siang program MBG pada Selasa (1/9/2026). Ribuan porsi hidangan berisi nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, dan buah apel yang diproduksi dapur SPPG Kalitengah dibagikan ke puluhan sekolah sebelum akhirnya berubah menjadi bencana medis.

​Merespons tragedi yang meluas ini, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak bersama Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Jawa Timur akhirnya mengambil langkah tegas dengan memberhentikan sementara seluruh operasional SPPG Kalitengah. Sampel makanan kini tengah diuji di laboratorium untuk mengungkap tabir zat berbahaya yang telah meracuni ratusan anak sekolah di Sidoarjo. (ita)