
NETSULSEL | Jakarta, Badan Gizi Nasional (BGN) bergerak cepat memperketat standar operasional prosedur (SOP) program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah tegas ini diambil usai mel Melakukan evaluasi mendalam terhadap sejumlah insiden dugaan keracunan makanan di berbagai daerah, termasuk Jayapura dan Bogor.
Guna memastikan keamanan pangan para siswa, BGN bakal memasang label khusus batas waktu konsumsi di setiap wadah atau ompreng makanan MBG. Aturan baru ini mewajibkan seluruh hidangan dikonsumsi maksimal empat jam setelah selesai dimasak.
”Kami sudah instruksikan ke semuanya, harus diberi label di omprengnya itu, setiap hari harus dimakan sebelum jam berapa. Kalau sudah lewat jam, sebaiknya tidak dimakan,” tegas Kepala BGN Sudaryono dalam konferensi pers di kantor BGN, Jakarta Pusat baru-baru ini.
Masak Terlalu Dini Jadi Pemicu
Berdasarkan hasil investigasi kasus di Jayapura, BGN menemukan fakta bahwa durasi penyimpanan yang terlalu lama menjadi pemicu utama timbulnya racun pada makanan.
”Dari kasus di Jayapura kita bisa memahami bahwa mereka mulai masak jam 7 malam, kemudian diserahkan dan dikirim hingga baru sampai di sekolah jam 11 siang besoknya. Jeda waktu yang panjang itulah yang menjadi salah satu penyebab keracunan,” ungkap Sudaryono.
Sebagai langkah pencegahan menyeluruh, BGN kini mengoperasikan sistem pemantauan digital. Sistem ini mencatat setiap alur produksi secara real time mulai dari persiapan bahan baku, proses memasak, hingga pengiriman ke tangan penerima.
Dilema Lauk Dibawa Pulang untuk Keluarga
Selain kendala di area dapur, BGN juga menyoroti temuan di lapangan terkait kebiasaan sejumlah siswa yang sengaja menyisihkan makanan MBG untuk dibawa pulang ke rumah.
Sudaryono mengaku tersentuh dengan alasan kemanusiaan di balik aksi tersebut, namun menekankan bahwa sajian MBG dibuat tanpa bahan pengawet sehingga cepat basi.
”Ada siswa yang makan telur, ayam, atau ikan, lalu enggak tega karena ingat keluarganya di rumah. Lauknya disisihkan untuk dibawa pulang. Ini menyentuh hati, tapi demi keamanan pangan supaya tidak keracunan, hal ini sangat penting untuk dicegah,” tuturnya.
Ia menceritakan pengalamannya saat melakukan inspeksi mendadak ke sebuah sekolah di Bogor, di mana seorang siswa enggan menghabiskan burger porsinya. “Saat saya tanya kenapa tidak dihabiskan, dia menjawab ingin menyisakannya untuk sang ibu yang belum pernah merasakan burger,” kenang Sudaryono.
Investigasi Kasus Keracunan Bogor Masih Berjalan
Terkait dugaan kasus keracunan terbaru di Bogor, BGN mengonfirmasi bahwa korban tidak hanya berasal dari kalangan siswa, tetapi juga menjangkau guru hingga orang tua murid yang ikut menyantap makanan simpanan yang dibawa pulang dari sekolah.
”Khusus kasus di Bogor, yang mengalami mulas ada gurunya juga, termasuk orang tua siswa. Makanya ini sedang kami cek dan analisis seluruhnya. Kami tidak ingin ada satu pun kasus keracunan berulang, jadi penyempurnaan SOP ini kami pastikan berjalan ketat,” pungkasnya.(qas)










